Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Bapak Jokowi dan Hal Lain

Istifghfar! Perbanyaklah! Supaya panah setan itu tak tertancap menghabisi nyawamu!  Saya bertemu bapak Jokowi dalam rangka muallimin Muallimaat 1 abad bukan sebagai cawapres tetapi memang Presiden yang berhak memasuki ranah pendidikan. Berharap apa dengan 1 abad ini? Siapa yang merasai jayanya? Merasai manisnya, atau tuanya??  Tua yang begitu ringkih dan tak berdaya atau tua mendewasa nan bijaksana? Manakah yang paling tepat? Sudah 6 tahun saya dierami di bangunan tua 100 tahun ini. Tetapi saya tak merasakan atmosfer ayah. Ayah yang mendaftarkan saya di nomor paling awal dengan status KP pergi begitu saja. Amanah besar, rupanya saya belajar di sini. Pernah sempat ingin alum karena terpesona dengan Gontor. Bimbang antara patuh terhadap amanah ayah atau sengaja melanggar demi terciptanya saya menjadi lebih baik. Tangisan itu semakin kencang ketika ibu menyetujui saya untuk pindah sekolah. tetapi nyatanya hingga akhir ini, saya masih di sini. Kunjungan ke gontor tidak menamb...

Ilmu

Ilmu didefinisikan masing-masing oleh kami. Melinierkan atas prinsip agama dengan merumuskan tujuan belajar. Bahasa Arab, semisal, ayo, kita belajar bahasa Arab, supaya paham al-Quran, dapat menafsirkan dan….. tak terkecuali pelajaran olahraga sekalipun. Ayo, kita belajar olahraga yang baik, lari yang baik, supaya dapat kuat menggenggam panji-panji Islam tanpa terjatuh dan terlambat sampai tujuan. Karena sampai saat ini faham materialisme dan liberalisme tumbuh subur. Mengaburkan nilai kebermanfaatan dan keikhlasan niat. Belajar untuk kuliah, kuliah untuk kerja, kerja untuk kaya sehingga dapat bersenang-senang. Wahai, kiranya itu yang kau cari, Saudaraku, niscaya Allah akan memberi apa yang kau pinta sesuai dengan niatmu. Integrasi agama dan pengetahuan menjadi puncaknya. Dan memang sudah sepatutnya hal itu dilakukan. Ketika kau paham gunanya memajukan agamamu dengan keahlianmu, itulah yang dinamakan spirit abadi. Menunjukkan kekelalan arti bergerak dan berubah. Membersamai ketika...

Jurnal Gntr

"Ikatlah buruanmu dengan tali biar tak lepas" "Ikatlah ilmu dengan menulis, biar tak terhempas" Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah, As-syukru lillah, bersyukur kepada Allah atas nikmat dapat menuliskan kembali apa yang telah disampaikan oleh bapak pengasuh Gontor yang pada waktu itu, beliau ceramah bakda magrib selama hampir setengah jam dengan bahasa arab full (Insyaallah saya paham) Berikut pesan beliau. Jadilah seperti jenis tanah bumi yang dengan diturunkannya air, dapat menyimpan air itu dan dengan air tersebut dapat menumbuhkan segala jenis macam tumbuhan yang dengan tumbuhan itu, hewan-hewan dapat memakannya serta manusia menjadi pemanfaat nomor satu dan paling lengkap atas air, tumbuhan dan hewan sekaligus Tanah itu diumpamakan dengan ilmu yang jika diserap atau diambil, maka dapat bermanfaat bagi sekitarnya kecuali jika hanya terus bersemayam di dalam tanah alias tak pernah digunakan ataupun menjadi manfaat untuk sesama. Beliau juga mewejangi...

Jurnal Gntr

Nggon Seng Kotor. Supaya pemahaman mengenai tempat ini berubah. Nggon ini sama sekali tak kotor hakikatnya apalagi esensinya atau dominannya. Tempat ini adalah darusalam, tempat sejahtera nan damai. Mukrimatut dhuyufnya amat mengesankan dan ramah sangat. Sambutan hangat selalu   menyertai kami. 5 hari yang mengesankan Wahai, Putri, Fatih, Manda, Rani, Ust Sheila, maupun Ust Eka. Semoga selalu terlimpahkan rahmat-Nya pada mereka. Hal-hal luar biasa yang mungkin terdengar sering frekuensinya adalah jilbab putih yang setiap waktu mereka kenakan. Tiket makan untuk pengambilan makan. Bahasanya yang kece. Serta antikesenjangan diterapkan di sana. Contohnya, pada barang jenis jam tangan yang diameternya  maksimal wajib 2‚5 cm, selebihnya disita. Ada pula gamis yang lebar yang sekiranya dapat menjadi tren dan santri ikut-ikutan, ingin memiliki barang tersebut, hal tersebut tak diperbolehkan dan haram hukumnya. Mungkin aib yang saya temui juga ada. Tetapi biarlah kelebihan2 den...

Esensi Sedekah

Tukang sampah, lopr koran, pedagang kaki lima, dan pekerjaan lain dengan embel2 tukang ataupun tidak selalu membuat mata ini meneteskan air mata. Betapa keluarga di rumah yang menantikan dirinya untuk kembali membawa sesuatu yang bisa mengisi perut. Syukur-syukur bayi yang yang diasuh sudah dibelikan susu supaya erangan tangisnya tak menjadi-jadi. Memposisikan sebagai orang itu, melakukan apa saja demi terkumpulnya uang, berkeliling menjajakan dagangan jika orang tersebut pedagang, memunguti dan memilah sampah sebanyak mungkin jika orang itu adalah tukang sampah, mutlak disikapi tawakkal dengan penuh amunisi ikhtiar. Biar kalau dapat sedikit tidak kecewa, dapat lebih Alhamdulillah. Pembuktian atas rezeki-Nya itu Dia yang berhak mengatur. Bukan pemberi gaji, majikan atau bos, mereka hanya sebatas perantara saja. Sang Pembalas pun tak segan2 memberikan kelipatan bagi yang mau memberikan sedekah bagi orang-orang tadi, tanpa itung-itungan. Tidak melulu  mereka yang kita beri yang m...

Mujanibah----

“Ukhti, kalau ada yang begini itu begini, kalau ada yang begitu itu begitu, saya dulu pernah menjadi mujanibah  juga...,” hampir setiap hari seingat saya pamong itu meberi wejangan yang tak kunjung selesai. Padahal ketika sudah selesai, serasa baru tadi dimulai. Ustadzah Muslihah pamong kami ketika menjadi mujanibah kelas 1. Amat sabar beliau ini. Abi Yudi suami beliau, Mu’alliim di Mu’allimin juga tak kalah sabar, tausiyah terhadap kami merefresh ketidaknormalan jiwa setelah hari libur berlumur dosa masih terngiang-ngiang hingga kini. Teringat salah satu anak, beda kamar, yang amat terbuka dengan curhat-curhatannya. Kemana-mana saya ajak pergi. Saya juga pernah mengajaknya untuk dimintai tolong menjadi juru kamera saat saya berlatih lomba pidato bahasa Inggris. Gini toh, rasanya jadi real mujanibah. Amat membanggakan, bukan? Ada pula, anak yang amat sabar kita harus hadapi. Anak kamar saya yang mungkin jenuh akan kehidupan asrama. Sering sakit-sakitan. Kalau ngomong nerocos t...

Bertemu Kawan Lama

Allah telah mewanti, menasehati, memperingatkan kepada kita Wahai orang yang Beriman! Akan rusaknya amalan supaya janganlah kau rusak amalanmu. (Muhammad:33) Betapa banyak kita mengenal seseorang dan setelah berpisah kita merasa ada yang berbeda. Perbedan yang amat tajam. Tetapi tak jarang perasaan itu masih tetap sama sedari dahulu, melepas rindu dan bergurau dengan teramat lancar. Ada pula yang kita rasa bahkan amat sangat membuncah melihat kawan lama yang dapat lebih baik dari dahulu yang ia kenal. Orang yang amat berbeda, amat sangat asing, tetapi kita kenal. Biasanya lebih buruk dari yang dahulu. Entah itu cara berpakaiannya, pekerjaan haramnya, atau pergaulan bebasnya. Heran sinis yang menjadi tatapan kita. Tetapi apa boleh buat, kawan, bukankah, dia tetap kawan kita, dahulu, sekarang, dan besok? Tentu berpikir seperti itu adalah pikir reflek yang terjadi pada setiap orang. Tetapi justru inilah objek dakwah yang musthi dipegang erat. Atau mungkin malah kita yang berada di po...

*Rasa

Terukir indah bayangan-bayangan yang begitu mengganggu bagai racun khayalan. Menukik daya tak bersisa menegaskan supaya bersegera raib. Pencinta sejati rupanya sedang mengeluh, budak cinta katanya. Memberi pandangan bari tentang bewarninya rasa. Tetapi terlalu melankolis, amat melankolis. Wagu istilahnya. Jelei persisnya. Saya membutuhkan hal semacam itu untuk menangkap sebahagian kecil manisnya liku kehidupan. Tetapi saya harus mengaturnya dengan baik, biar tidak overdose. Bertafakkur, bertadabbur, akan ayat-ayat-Nya. Serta pekerjaan-pekerjaan yang masih banyak listnya menanti saya dengan anggunnya. Semuanya harus saya maksimalkan dalam rangka meraih ridho-Nya. Penghambaan diri manusia hina ini terselamatkan dengan harapan akan luasnya rahmat-Nya dibanding perihnya siksaan-Nya. Bagian tentangmu cukup jadi pemanis buatan yang berarti tak akan pernah asli dan murni. Masih banyak pemanis alami yang isinya usaha, ibadah, kerja, keras—nyuci, ntetrika, belajar, sholat, tahajud, baca Quran...

MUJANIBAH/01

Edisi ini sangat spesial. Hei, dua tahun sudah saya merasakan menjadi mujanibah. Jika saja boleh diulang menjadi seorang yang bernama mujanibah itu tentu saya akan ulangi dengan skenario seapik mungkin. Nama yang bersingkatan muje itu amat mendalam rupanya. 1 tahun sangatlah cukup untuk mengenal karakter orang itu. Hidup berdampingan pada malam2 yang biasa orang lain habiskan bersama keluarga, terganti dengan kami. Kali ini akan coba saya ceritakan secara singkat awal saya menjadi mujanibah kelas 1. Amat singkat dibanding hari-hari itu. "Anak kelas 1 itu enaknya kalau kita sering di kamar, perhatian, klo lagi curhat didengerin. Klo sakit diurusi.... " Sebelum memasuki asrama itu, mantan muje kls 1 yang bernama mba Bira ini menyampaikan tips, suka dan duka menjadi muje kls 1 yang dikenal harus penyabar itu. Rasanya deg2 serr. Apalagi kamar saya yang berhimpitan dengan gedung yang bersuara gaduh di malam hari saat melakukan kegiatan TS. Mengenal anak satu persatu. Mengen...

SELF

Hari sumpah pemuda. Terbentuknya azam yang kuat biar diri ini terus bergerak. Apapun yang terjadi,  apapun yang menghadang. Apapun yang membuat tak berkutik diri. Biar apa yang menjadi penggoda sirna tak bersisa. Adalah keteguhan saya dalam membela prinsip saya yang rupanya mau tak mau harus saya camkan. Semalu apapapun saya,  sehina apapun saya di mata orang2, it does'nt matter. Justru itulah yang membuat sinar itu lebih kuat silaunya. Dirimu adalah dirimu. kamu yang menjalani dan mereka bebas batini, asal dirimu tetap dirimu. Penerimaan diri oleh diri sendiri akan jauh lebih berarti dan lebih menghidupi dibanding penerimaan orang lain. Tetapi dengan penerimaan orang lain itulah yang dapat menjadi pertanda kita amat sangat layak berada di sisi mereka. Sekadar menghela laku perbuatan, dan berprinsip dakwah berkultur masyarakat. teruslahbertingkat-- heroday--

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

*RASA

Dia tidak menyakiti saya besar harapan. Sampai kapan atau benar-benar tidak akan. Dorongan hawa nafsu yang menjerat tertumpah dahsyat melampaui batas syari’at. Hei, itu bukanlah termasuk cirimu. Semoga ini nyaman bagi saya di tengah kalut hal itu. Menjaga saya dengan tidak terus menggenggam. Percaya dengan takdir-Nya dengan melepaskan. Sebegitukah kau percaya dengan angin yang tak pernah tampak? Membiarkan saya, memahamkan kepada saya bahwa saya bukan milik saya. Terserah pemiliknya mau untuk siapa dan dipasangkan kepada siapa. Itu mutlak hak-Nya. Tetapi sekali lagi, semoga dengan sebijaksananya dirimu kepada saya hingga tiga tahun terakhir ini menyadarkan saya bahwa bukan raga yang selalu bersama, bukan pula kata-kata sebagai prahara kepastian dan kesukaan akan tetapi penjagaan kesucian jiwa terhadap sesuatu yang fana’ dan penuh jurang yang curam, tanda kehati-hatian merupakan hal langka yang kini tak lagi dihiraukan.

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua

Syarat Mutlak

Menghafal al-Quran amat sangat mudah karena-Nya, amat sangat mudah Bangun tahajud amat sangat lapang karena-Nya, amat sangat lapang Sesungguhnya keterbatasan itu milik hamba dan dunia, sedangkan Engkau, Maha segala hamba, tak terbatas. Maka sudah sewajarnya letak penyerahan akan niat dan laporan penyelesaian adalah hanya kepada Yang Maha Tak Terbatas, hanya kepada-Mu. Teguhkanlah hamba atas agama-Mu, Ya Allah.  

RESPECT

Manusia suka banget diperhatikan, sudah fitrahnya. Sungguh, teman-teman yang tak patut disia-siakan. Hanya bertanya satu patah kata, hanya melirik dengan penuh antusias hanya menyapa dengan alamat namanya, rasanya benar-benar dimanusiakan. Cobalah. Entah ada apa dengan saya yang terkagum-kagum dengan teman-teman yang banyak kawan. Pandai membaur dan suka bercerita memulai dengan percapakan ringan. Kaku adalah saya, sedang yang lain penuh canda tawa. Respect di sini mungkin bagi saya, teman  adalah nomor kesekian yang masih sampai saat ini terus saya usahakan. Tetapi hujjah saya atas tindakan saya dengan dasar, orang yang salam, orang yang sakit, orang yang bersin, akan menjadi awal-awal yang saya harus lakukan karena-Nya. Respect lainnya adalah respect kepada lingkungan, saat ada sampah misalnya. Pungut! Buang ke tempat sampah! Mematikan lampu saat sedang tidak digunakan, dan membersihkan lingkungan yang kotor. Respect kepada bapak ibu guru, tidak tidur saat pelajarannya dan pa...

*RASA

Semoga tulisan ini mewakilkan. Pertemuan di mana tak dapat terulangkan. Sesekali mengingatkan sosok yang amat tidak nggenah di via daring. Supel yang amat nyata adanya di dunia nyata. Kita pernah bertemu di saat sedang melakukan kegiatan. Selebihnya tidak. Berlari pernah tetapi tidak saling merasa. Mencari pernah tetapi sayang, tak tertemukan. Alasannya hanya satu, tak mau membuatmu kecewa. Bahkan di saat itu saya merelakan diri berkeliling. Demi berlari lebih kencang, sepatu pinjaman itu saya tinggal dengan acuhnya dengan alasan, tidak mau membuatmu kecewa. Menunggu saja dengan beribu pertanyaan, maka jangan pernah menunggu saya atau kamu itu berlaku. Saya menikmati kesendirian tanpa kesibukan “jelei” layaknya orang pacaran. Sibuk mikir ketemuan, janjian, ngasih barang, percakapan penuh cinta versi mereka, dan membalas. Tertinggalnya kamu semoga berkah. Dijadikan pelajaran untuk masa esok bahwa saya pernah mengenalmu tanpa dinoda rasa itu. Entah menahan seberat apa dibanding ...

Answered

Berada di Mesir sana adalah impian yang hanya Allah yang berhak serta berkuasa menakdirkan. Selebihnya saya yang kudu mati-matian layaknya mereka yang diterima di sana. Tetapi urusan pelik ini lebih dari yang dibayangkan. Ini seharusnya mudah dan nggak perlu pijero (piker jero). Satu hal yang amat saya utamakan, saya sangat berminat terhadap tahfidz di Mesir yang kata salah satu alumni sebrang, lingkungan Mesir sangat kondusif untuk mengahafal al-Quran. Kapan lagi hal itu dapat saya temukan kesempatan? Tetapi kewajiban saya untuk menjadi musyrifah selepas lulus tanpa nyekip adalah polemik terbesar saya. Bahwa saya harus menunda satu tahun, kemudian mendaftar di tahun berikutnya, menjadi mahasiswa daurah lughah satu tahun, baru saya dapat menjadi mahasiswa tetap, semog saja lulus, biar tidak mengulang. Setelah lulus, terbayangkan dalam benak saya menjadi ulama berpengaruh layaknya Ustadz Adi Hidayat   atau Ustadz Abdul somad yang berdakwah amat menyesuaikan dengan mad’u lah. ...

LAUK ENTEK

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyoroti keadaan asrama yang seperti kelas satu, dua, tiga jahiliyyah dahulu, ketika lauk entek bahkan ketika sedang hendak berbuka, teman yang shaum tidak kebagian jatah lauk. Yang disebrang malah dibuat jatah piket membagi makanan, dan yang terakhir berhak mendapat lebih. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi kami. La wong kami makannya tidak teratur jamnya. Pokoknya dari makanan itu sudah tersaji sampai makanan itu diambil   kita bebas mau ngambil kapan aja. Ada yang korup, wallahu a’lam. Sebabnya banyak di antara kami punya urusan beda-beda dan tidak tentu waktunya. Perihal itu, saya jadi teringat waktu dipamongi Ustadz Agus Salim yang tahun 2018 ini Alhamdulillah telah melaksanakan ibadah haji. Kami dahulu sering sekali lauk entek kecuali lauk yang pokoknya tidak banyak yang minat. Lain halnya dengan ayam yang jatahnya satu potong sukanya nambah-nambah jadi satu setengah, pol-polan kalau nggak mau dosa-dosa amat ya satu seperempat atau satu s...

AKREDITASI/wanita

Tulisan ini sebenarnya teramat kontradiksi dengan sekolahku, sekolah perempuan di mana kau tahu kondisi sekolah menjelang akreditasi yang berjangka dua tiga hari? Para ibu-ibu, istri-istri itu pulang hingga larut malam selama kurang lebih satu minggu. Ngopeni keluarga wallahu a’lam. Tak berani saya bersuudzon terlampau dalam. Semoga para pengajar yang begitu mulia itu selalu dalam lindungan-Nya, dan nanungan-Nya. Alhasil dari pada itu, sekolah mendapat akreditasi paling bagus dan dapat dijadikan pathokan universitas yang kelak akan dimasuki para alumni. Menyelamatkan para siswi yang belum maksimal di dalam pembelajaran. Untung, kata dan lenguh mereka, para siswi. Tetapi yang miris begitu miris, akankah sistem berjalan seperti ini? Dilanjut hingga perguliran itu jatuh ke tangan saya mungkin. Menutup-nutupi hal buruk dengan hal baik yang jikalau dipendam malah akan menjadi sisi kebusukan yang berbau menyengat. Adakah cara lain menilai sebuah sekolah tanpa sebuah penipuan? Tanpa u...

TAHASSUS/2

  Kau tahu, berapa kini santri yang terdapat di kelas tahassus? Hanya sekitar 50 anak per 1100 santri yang menjabat sebagai siswi Mu’allimaat. Ingin rasanya menangis. Merasai bahwa sebenarnya ada apa toh, dengan madrasah tercinta ini? Pembentukan asrama tahfidz rampung pada tahunkeenam saya di sini. Berapa juz yang sudah saya hafal? Jangan ditanya toh, tapi tanyailah bacaan saya apakah masih salah-salah? Tajwidnya? Makharijul hurufnya? Di samping itu yang paling harus dikuatkan adalah kekuatan mental. Semenjak Ustadzah Nur Hasanah beralih ke asrama tahfidz. Kami diampu oleh Ustadzah Inayah, pamong asrama SAB. Beliau-beliau adalah pengampu yang luar biasa. Salah harokat, panjang pendek, diceramahi hingga subuh sepertinya. Salah satu kali saja atau tidak lancar, mundur, setor besok lagi, besok salah, besoknya setor lagi dan seterusnya. Kini saya dapat menghafal ayat-ayat-Nya lebih banyak, mentadabburinya, sekaligus mendekatkan diri kepada kitab tersebut. Setiap hari Seni...

PAKDHE/2

Sisa harta suami masih dapat memenuhi kebutuhan. Anak sulung tetap kuliah seperti biasa. Hingga datanglah kabar buruk yang tak ada orang sudi mendengar, pun keluarga ini. Sang suami meninggal. Meremukkan jiwa-jiwa rumah itu. Bahkan anak yatim ini mau ditelantarkan bagaimana? Sang sulung dengan sigap mendarat ke tanah Jawa Tengah, mengambil mayat ayahnya yang tak terbentuk upa. Matinya naas, begitu naas. Saking naasnya, sang sulung setelah mengurus jenazah itu, mogok kuliah. Berdiam diri di kuburan, bermalam di sana, menunggui pusara sang ayah. Sang sulung seperti itu saja selama kurang lebih satu tahun, meninggalkan kenikmatan mahasiswa yang menjadi pijakan masa depannya.  Tak mau hanya berpangku tangan. Sang ibunda tak ada perasaan sedih sehabis sang suami tiada. Hatinya kosong, benar-benar tak bisa merasakan apa pun. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana kebutuhan sang anak tercukupi. Karena mau bagaimana pun juga, harta peninggalan suami akan habis juga. Tangan ha...

PAKDHE/1

Sang penikmat ilmu di usia senja. Sudikahkah kau mendengarnya? Berada di sini, harapannya kau betah,, Suatu hari teradalah pasangan suami-istri yang amat bahagia. Sang suami bekerja sebagai pengusaha furniture kayu di era 60-an. Sanggup membeli motor yang jarang yang punya. Bahkan sekmpung hanya sang suami itu yang punya. Bisik-bisik tetangga akan betapa konglomeratnya keluarga tersebut, tersiar ke seluruh wilayah. Mereka memiliki 5 anak, baru tiga hari yang lalu bayi perempuannya yang ketiga lahir. Tambah sempurnalah kebahagiaan mereka. Sang suami bekerja keras, penghasilannya bertambah lebat saja. Anak pertamanya, seorang laki-laki baru saja menduduki bangku kuliah yang lagi-lagi, amat jarang orang yang mampu kuliah. Sanga anak ini mengambil jurusan akuntansi. Prestasi yang luar biasa, bukan? Tetapi siapa sangka akan rezeki yang datang bak angin, terhempas ke sana-kemari begitu saja. Sang suami dituduh mencuri motor yang baru dibelinya. “motor itu haram...,” tetangga-...