Tulisan ini sebenarnya teramat kontradiksi dengan sekolahku,
sekolah perempuan di mana kau tahu kondisi sekolah menjelang akreditasi yang
berjangka dua tiga hari? Para ibu-ibu, istri-istri itu pulang hingga larut
malam selama kurang lebih satu minggu. Ngopeni keluarga wallahu a’lam. Tak berani
saya bersuudzon terlampau dalam. Semoga para pengajar yang begitu mulia itu
selalu dalam lindungan-Nya, dan nanungan-Nya. Alhasil dari pada itu, sekolah
mendapat akreditasi paling bagus dan dapat dijadikan pathokan universitas yang
kelak akan dimasuki para alumni. Menyelamatkan para siswi yang belum maksimal
di dalam pembelajaran. Untung, kata dan lenguh mereka, para siswi. Tetapi yang
miris begitu miris, akankah sistem berjalan seperti ini? Dilanjut hingga
perguliran itu jatuh ke tangan saya mungkin. Menutup-nutupi hal buruk dengan
hal baik yang jikalau dipendam malah akan menjadi sisi kebusukan yang berbau
menyengat. Adakah cara lain menilai sebuah sekolah tanpa sebuah penipuan? Tanpa
upaya kedzaliman? Biarlah hal itu berjalan apa adanya, alami sehingga tak jadi
kanker di kemudian hari. Semoga kau tahu, apa yang saya bicarakan itu
menentukan hak-hak dan kewajiban seorang perempuan di dalam tugasnya. Saya tak
menyalahkan ataupun berusaha memberikan komentar miring, tetapi mengevaluasi,
mencoba mencari sebuah inovasi dan mengapresiasi.
Kodrat karunia ilahi. Menjelma menjadi ketersiernya kata ibu
dan istri. Berharap cemas akan tiang negara pengkokoh bangsa yang seharusnya
dimulai dari ranah keluarga. Terkhususkan bagi kami yang homogen sesama asrama
dan madrasah. Kelak kau akan tahu apa yang dinamakan rumah tangga, bukan hanya
sekadar panggilan sayang, beb, bunda atau ayah dan segala macamnya. Bukan hanya
sekadar kata-kata manis penjaja rindu yang tak berkesudahan, tetapi juga sebuah
pengorbanan satu sama lain yang itu bukan hanya urusan kau seorang saja.
-bimbelUTS-
-akhirperiode-
-lovelyperpus-
Komentar
Posting Komentar