Langsung ke konten utama

AKREDITASI/wanita




Tulisan ini sebenarnya teramat kontradiksi dengan sekolahku, sekolah perempuan di mana kau tahu kondisi sekolah menjelang akreditasi yang berjangka dua tiga hari? Para ibu-ibu, istri-istri itu pulang hingga larut malam selama kurang lebih satu minggu. Ngopeni keluarga wallahu a’lam. Tak berani saya bersuudzon terlampau dalam. Semoga para pengajar yang begitu mulia itu selalu dalam lindungan-Nya, dan nanungan-Nya. Alhasil dari pada itu, sekolah mendapat akreditasi paling bagus dan dapat dijadikan pathokan universitas yang kelak akan dimasuki para alumni. Menyelamatkan para siswi yang belum maksimal di dalam pembelajaran. Untung, kata dan lenguh mereka, para siswi. Tetapi yang miris begitu miris, akankah sistem berjalan seperti ini? Dilanjut hingga perguliran itu jatuh ke tangan saya mungkin. Menutup-nutupi hal buruk dengan hal baik yang jikalau dipendam malah akan menjadi sisi kebusukan yang berbau menyengat. Adakah cara lain menilai sebuah sekolah tanpa sebuah penipuan? Tanpa upaya kedzaliman? Biarlah hal itu berjalan apa adanya, alami sehingga tak jadi kanker di kemudian hari. Semoga kau tahu, apa yang saya bicarakan itu menentukan hak-hak dan kewajiban seorang perempuan di dalam tugasnya. Saya tak menyalahkan ataupun berusaha memberikan komentar miring, tetapi mengevaluasi, mencoba mencari sebuah inovasi dan mengapresiasi.

Kodrat karunia ilahi. Menjelma menjadi ketersiernya kata ibu dan istri. Berharap cemas akan tiang negara pengkokoh bangsa yang seharusnya dimulai dari ranah keluarga. Terkhususkan bagi kami yang homogen sesama asrama dan madrasah. Kelak kau akan tahu apa yang dinamakan rumah tangga, bukan hanya sekadar panggilan sayang, beb, bunda atau ayah dan segala macamnya. Bukan hanya sekadar kata-kata manis penjaja rindu yang tak berkesudahan, tetapi juga sebuah pengorbanan satu sama lain yang itu bukan hanya urusan kau seorang saja. 

-bimbelUTS-
-akhirperiode-
-lovelyperpus-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua