Langsung ke konten utama

PAKDHE/1


Sang penikmat ilmu di usia senja. Sudikahkah kau mendengarnya? Berada di sini, harapannya kau betah,,

Suatu hari teradalah pasangan suami-istri yang amat bahagia. Sang suami bekerja sebagai pengusaha furniture kayu di era 60-an. Sanggup membeli motor yang jarang yang punya. Bahkan sekmpung hanya sang suami itu yang punya. Bisik-bisik tetangga akan betapa konglomeratnya keluarga tersebut, tersiar ke seluruh wilayah. Mereka memiliki 5 anak, baru tiga hari yang lalu bayi perempuannya yang ketiga lahir. Tambah sempurnalah kebahagiaan mereka.

Sang suami bekerja keras, penghasilannya bertambah lebat saja. Anak pertamanya, seorang laki-laki baru saja menduduki bangku kuliah yang lagi-lagi, amat jarang orang yang mampu kuliah. Sanga anak ini mengambil jurusan akuntansi. Prestasi yang luar biasa, bukan?

Tetapi siapa sangka akan rezeki yang datang bak angin, terhempas ke sana-kemari begitu saja. Sang suami dituduh mencuri motor yang baru dibelinya. “motor itu haram...,” tetangga-tetangga itu amat tak bisa dikontrol mulutnya. Cibiran plus nyinyiran semakin panas saja dilontarkan pada keluarga ini.
Betapapun keluarga ini adalah keluarga terhormat yang disegani. Aparat keamana DIY tak ada yang berani menangkapnya pada waktu itu. Semua segan. Siapa yang dituduh tadi? Mereka paham betul siapa tokoh itu? bahwasannya tak pantas beliau ini mendekam di penjara. Ini semua hanyalah akal-akalan saingan tokoh tersebut, orang yang iri nan dengki pada usaha beliau. Tetapi, bentuk pembelaan hanya pada barang bukti. Tak pernah bercerita yang sesungguhnya adalah sikapnya. Biarlah ini berlalu, dan akan dijalani apa yang memang sudah menjadi ketentuan-Nya. Sang suami mendekam di penjara di Purworejo selama 3 tahun. Meninggalkan keluarganya beserta anak perempuan yang masih merah itu. 

perpusMG/040918
H-7 Muuharram 1440

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua