Sisa
harta suami masih dapat memenuhi kebutuhan. Anak sulung tetap kuliah seperti
biasa. Hingga datanglah kabar buruk yang tak ada orang sudi mendengar, pun
keluarga ini. Sang suami meninggal. Meremukkan jiwa-jiwa rumah itu. Bahkan anak
yatim ini mau ditelantarkan bagaimana? Sang sulung dengan sigap mendarat ke
tanah Jawa Tengah, mengambil mayat ayahnya yang tak terbentuk upa. Matinya
naas, begitu naas. Saking naasnya, sang sulung setelah mengurus jenazah itu,
mogok kuliah. Berdiam diri di kuburan, bermalam di sana, menunggui pusara sang
ayah. Sang sulung seperti itu saja selama kurang lebih satu tahun, meninggalkan
kenikmatan mahasiswa yang menjadi pijakan masa depannya.
Tak
mau hanya berpangku tangan. Sang ibunda tak ada perasaan sedih sehabis sang
suami tiada. Hatinya kosong, benar-benar tak bisa merasakan apa pun. Yang ada
dalam pikirannya hanyalah bagaimana kebutuhan sang anak tercukupi. Karena mau
bagaimana pun juga, harta peninggalan suami akan habis juga. Tangan halus itu
berubah kasar secara perlahan. Beralih menjadi penjual tempe dan beras.
Berkeliling melewati batas kedaerahan dengan sepeda onthel. Seberapa jauh dia
mengayuh, semakin dia tertempa menjadi wanita tangguh. Apalagi anak yang masih
bayi itu, lho.
Apa
kabar dengan si sulung? Meditasi gila selama satu tahun telah dilewati. Dia
juga beralih profesi menjadi petani, mengurusi sawah yang lebarnya sekitar satu
hektar. Membuang keterpelajarannya tak pernah ia sesali sebagai konsekuensi
menjadi pengganti ayah demi keempat anaknya dan ibunya.
Setengah
abad berlalu. Sang ibu meninggal di waktu semua anaknya telah menikah. Saya
yakin, motor itu bukan barang curian, bukan barang haram. Buktinya anak-anaknya
semua sukses bin solih-solihah. Ada yang menjadi dokter, perawat, dosen, dan
lain sebagainya.
Sang
sulung masih tetap mengurus sawahnya. Dengan tambahan pekerjaan sebagai
pedagang ayam yang harus menempuh perjalanan dengan motor astreanya dari Bantul
ke Jogja. Malam harinya, saya tak menyangka, sang sulung nyatanya masih
merindukan masa kuliahnya. Tetapi kali ini berbeda, buku-buku yang tergeletak
adalah kitab bulughul maram dan tafsirnya, kitab riyadhus sholihin dan
tafsirnya, kitab keagamaan*. Mungkin kitab-kitab lain yang dilahapnya masih
tersimpan rapi entah di mana. Berbeda dengan saya yang sudah mengenyam bangku
pondok hampir enam tahu ini, kitab-kitab itu belum tersentuh oleh saya. Njuk ngopo
aku neng kene, yo? Masyaallah.
Anak
sulung itu adalah pakdhe saya, sedang bayi yang merah itu adalah ibu saya.
*matakepalasayasendiri
Info dari sepupu tertua,
lebaran2018
Yang
kini jadi dokter ternama
Komentar
Posting Komentar