Langsung ke konten utama

PAKDHE/2


Sisa harta suami masih dapat memenuhi kebutuhan. Anak sulung tetap kuliah seperti biasa. Hingga datanglah kabar buruk yang tak ada orang sudi mendengar, pun keluarga ini. Sang suami meninggal. Meremukkan jiwa-jiwa rumah itu. Bahkan anak yatim ini mau ditelantarkan bagaimana? Sang sulung dengan sigap mendarat ke tanah Jawa Tengah, mengambil mayat ayahnya yang tak terbentuk upa. Matinya naas, begitu naas. Saking naasnya, sang sulung setelah mengurus jenazah itu, mogok kuliah. Berdiam diri di kuburan, bermalam di sana, menunggui pusara sang ayah. Sang sulung seperti itu saja selama kurang lebih satu tahun, meninggalkan kenikmatan mahasiswa yang menjadi pijakan masa depannya. 

Tak mau hanya berpangku tangan. Sang ibunda tak ada perasaan sedih sehabis sang suami tiada. Hatinya kosong, benar-benar tak bisa merasakan apa pun. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana kebutuhan sang anak tercukupi. Karena mau bagaimana pun juga, harta peninggalan suami akan habis juga. Tangan halus itu berubah kasar secara perlahan. Beralih menjadi penjual tempe dan beras. Berkeliling melewati batas kedaerahan dengan sepeda onthel. Seberapa jauh dia mengayuh, semakin dia tertempa menjadi wanita tangguh. Apalagi anak yang masih bayi itu, lho.
Apa kabar dengan si sulung? Meditasi gila selama satu tahun telah dilewati. Dia juga beralih profesi menjadi petani, mengurusi sawah yang lebarnya sekitar satu hektar. Membuang keterpelajarannya tak pernah ia sesali sebagai konsekuensi menjadi pengganti ayah demi keempat anaknya dan ibunya.
Setengah abad berlalu. Sang ibu meninggal di waktu semua anaknya telah menikah. Saya yakin, motor itu bukan barang curian, bukan barang haram. Buktinya anak-anaknya semua sukses bin solih-solihah. Ada yang menjadi dokter, perawat, dosen, dan lain sebagainya. 

Sang sulung masih tetap mengurus sawahnya. Dengan tambahan pekerjaan sebagai pedagang ayam yang harus menempuh perjalanan dengan motor astreanya dari Bantul ke Jogja. Malam harinya, saya tak menyangka, sang sulung nyatanya masih merindukan masa kuliahnya. Tetapi kali ini berbeda, buku-buku yang tergeletak adalah kitab bulughul maram dan tafsirnya, kitab riyadhus sholihin dan tafsirnya, kitab keagamaan*. Mungkin kitab-kitab lain yang dilahapnya masih tersimpan rapi entah di mana. Berbeda dengan saya yang sudah mengenyam bangku pondok hampir enam tahu ini, kitab-kitab itu belum tersentuh oleh saya. Njuk ngopo aku neng kene, yo? Masyaallah.  

Anak sulung itu adalah pakdhe saya, sedang bayi yang merah itu adalah ibu saya.

*matakepalasayasendiri
Info dari sepupu tertua, 
lebaran2018
Yang kini jadi dokter ternama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua