Langsung ke konten utama

Answered



Berada di Mesir sana adalah impian yang hanya Allah yang berhak serta berkuasa menakdirkan. Selebihnya saya yang kudu mati-matian layaknya mereka yang diterima di sana. Tetapi urusan pelik ini lebih dari yang dibayangkan. Ini seharusnya mudah dan nggak perlu pijero (piker jero). Satu hal yang amat saya utamakan, saya sangat berminat terhadap tahfidz di Mesir yang kata salah satu alumni sebrang, lingkungan Mesir sangat kondusif untuk mengahafal al-Quran. Kapan lagi hal itu dapat saya temukan kesempatan? Tetapi kewajiban saya untuk menjadi musyrifah selepas lulus tanpa nyekip adalah polemik terbesar saya. Bahwa saya harus menunda satu tahun, kemudian mendaftar di tahun berikutnya, menjadi mahasiswa daurah lughah satu tahun, baru saya dapat menjadi mahasiswa tetap, semog saja lulus, biar tidak mengulang. Setelah lulus, terbayangkan dalam benak saya menjadi ulama berpengaruh layaknya Ustadz Adi Hidayat  atau Ustadz Abdul somad yang berdakwah amat menyesuaikan dengan mad’u lah.

Itu adalah sebagian gambaran kecil  dari pikiran saya yang kemudian Mesir hanya harapan dan impian dan bukan sesuatu yang saya usahakan lagi. Saya memantapkan hati mendaftar PUTM dengan pertimbangan madrasah saya yang vaccum kader dari dua angkatan sebelumnya. Selain itu, madrasah lebih mudah pertimbangannya untuk membolehkan santriwati KP ke PUTM yang selinier dengan Muhammadiyah serta menjamin adanya pengabdian dari pada universitas lain. Apalagi Al-Azhar, Mesir yang jauh dan peluang “digondol” lebih besar.

Menjadi penerus di PUTM bukanlah suatu aib seharusnya, dan biarlah ini menjadi jalan saya dan kehendak-Nya. Ya muqallibal qulu tsabbit qalbi ‘ala dinik

The Confused previously--

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua