Berada di Mesir sana
adalah impian yang hanya Allah yang berhak serta berkuasa menakdirkan. Selebihnya
saya yang kudu mati-matian layaknya mereka yang diterima di sana. Tetapi urusan
pelik ini lebih dari yang dibayangkan. Ini seharusnya mudah dan nggak perlu
pijero (piker jero). Satu hal yang amat saya utamakan, saya sangat berminat terhadap
tahfidz di Mesir yang kata salah satu alumni sebrang, lingkungan Mesir sangat
kondusif untuk mengahafal al-Quran. Kapan lagi hal itu dapat saya temukan
kesempatan? Tetapi kewajiban saya untuk menjadi musyrifah selepas lulus tanpa
nyekip adalah polemik terbesar saya. Bahwa saya harus menunda satu tahun,
kemudian mendaftar di tahun berikutnya, menjadi mahasiswa daurah lughah satu
tahun, baru saya dapat menjadi mahasiswa tetap, semog saja lulus, biar tidak
mengulang. Setelah lulus, terbayangkan dalam benak saya menjadi ulama
berpengaruh layaknya Ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul somad yang berdakwah amat menyesuaikan dengan mad’u lah.
Itu adalah sebagian
gambaran kecil dari pikiran saya yang
kemudian Mesir hanya harapan dan impian dan bukan sesuatu yang saya usahakan
lagi. Saya memantapkan hati mendaftar PUTM dengan pertimbangan madrasah saya
yang vaccum kader dari dua angkatan sebelumnya. Selain itu, madrasah lebih
mudah pertimbangannya untuk membolehkan santriwati KP ke PUTM yang selinier
dengan Muhammadiyah serta menjamin adanya pengabdian dari pada universitas
lain. Apalagi Al-Azhar, Mesir yang jauh dan peluang “digondol” lebih besar.
Menjadi penerus di
PUTM bukanlah suatu aib seharusnya, dan biarlah ini menjadi jalan saya dan kehendak-Nya.
Ya muqallibal qulu tsabbit qalbi ‘ala dinik
The Confused previously--
Komentar
Posting Komentar