Tulisan ini
dimaksudkan untuk menyoroti keadaan asrama yang seperti kelas satu, dua, tiga
jahiliyyah dahulu, ketika lauk entek bahkan ketika sedang hendak berbuka, teman
yang shaum tidak kebagian jatah lauk. Yang disebrang malah dibuat jatah piket
membagi makanan, dan yang terakhir berhak mendapat lebih. Tetapi hal itu tidak
berlaku bagi kami. La wong kami makannya tidak teratur jamnya. Pokoknya dari
makanan itu sudah tersaji sampai makanan itu diambil kita bebas mau ngambil kapan aja. Ada yang
korup, wallahu a’lam. Sebabnya banyak di antara kami punya urusan beda-beda dan
tidak tentu waktunya.
Perihal itu, saya jadi
teringat waktu dipamongi Ustadz Agus Salim yang tahun 2018 ini Alhamdulillah telah
melaksanakan ibadah haji. Kami dahulu sering sekali lauk entek kecuali lauk
yang pokoknya tidak banyak yang minat. Lain halnya dengan ayam yang jatahnya
satu potong sukanya nambah-nambah jadi satu setengah, pol-polan kalau nggak mau
dosa-dosa amat ya satu seperempat atau satu seperenam, tambahannya
protol-protol (pritel-pritel) pokoknya. Ya, kami seasrama jumlahnya seratus
orang lebih je, kalau semua berpikiran seperti itu setengah penduduk asrama
tidak kebagian toh, hak lauknya.
Itu bagian prolog
kawan, menuju konflik. Konfliknya adalah di mana satu sama lain sudah sama-sama
geram, lapor sana, lapor sini, lapor BK, lapor pimpinan semuanya. Ustadz Agus
sudah yang kebal telinganya mendengar hal-hal semacam itu di pondok, kini turun
tangan. Mengumpulkan kami di tempat berkumpu,l tepatnya di musola. Menceramahi kami
panjang lebar yang intinya, walaupun ayam protol-protol yang kita ambil, tetap menjadi persaksian di
hari akhir nanti. Hingga kami disuruh tutup mata.
“Yang, pernah ambil
ayam walaupun protol-protol, unjuk tangan!” Titah pamong pengajar ilmu falak.
Satu demi satu
mengacung kawan saya itu. Yang mengacung disuruh duduk berbaris dan alhasil
barisan itu mengular, memanjang, sepanjang panjang musola dan ditambah dengan
satu baris lagi saking sedikitnya. Setidaknya saya tidak ikut-ikutan, walaupun
saya bingung cara mengingatkan. Ceramah bagi korupsi lauk lebih panjang lagi. Ada
janji-janji segala.
Setelah Abi Pamong
turun tangan, sudah jarang ada yang berani korup lauk. Kini kelas enam, mau
purna, udah di ujung hayat status santriwati disandang, kok ya nggak malu sama
kejadian dulu. Semoga kami tetap dibimbing oleh-Mu ya, Allah.
-sabar-
-perpusda-
-11muharram-
Komentar
Posting Komentar