Kau tahu, berapa kini santri yang terdapat di kelas
tahassus? Hanya sekitar 50 anak per 1100 santri yang menjabat sebagai siswi Mu’allimaat.
Ingin rasanya menangis. Merasai bahwa sebenarnya ada apa toh, dengan madrasah
tercinta ini?
Pembentukan asrama tahfidz rampung pada tahunkeenam saya di
sini. Berapa juz yang sudah saya hafal? Jangan ditanya toh, tapi tanyailah
bacaan saya apakah masih salah-salah? Tajwidnya? Makharijul hurufnya? Di samping
itu yang paling harus dikuatkan adalah kekuatan mental. Semenjak Ustadzah Nur
Hasanah beralih ke asrama tahfidz. Kami diampu oleh Ustadzah Inayah, pamong
asrama SAB. Beliau-beliau adalah pengampu yang luar biasa. Salah harokat,
panjang pendek, diceramahi hingga subuh sepertinya. Salah satu kali saja atau
tidak lancar, mundur, setor besok lagi, besok salah, besoknya setor lagi dan
seterusnya.
Kini saya dapat menghafal ayat-ayat-Nya lebih banyak,
mentadabburinya, sekaligus mendekatkan diri kepada kitab tersebut. Setiap hari Senin
dan Selasa setor murojaah minimal 1 juz kepada sang Murobbi. Walaupun begitu,
murojaah mandiri tetap saya rutinkan dengan jumlah minimal murojaah mandiri
sekitar setengah juz.
Penglihatan ini semoga tidak buta bagi santri Muallimaat. Bahwa
sesungguhnya jiwa-jiwa itu kering akan spiritualitasnya, menganggap dirinya
serba tahu dan serba bisa. Mengakhirkan keberadaan-Nya demi terlangsungkannya
sebuah keburukan. Perihnya hati ketika semua menjadi kebiasaan yang biasa
dilakukan. Bak jamur yang perlahan membusukkan tempat yang ditumpanginya.
Komentar
Posting Komentar