Langsung ke konten utama

Rasa(Esensi)



RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH
Karya: Ahmad Jaelani
Penerbit: ProU media

Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keistimewaan antara satu agama dengan agama yang lainnya. Urusan agama itu, biarlah antar individu dengan tuhannya. Tak perlulah, negara mengatur kami! Apalagi sampai mewajibkan-mewajibkan. Masyaa allah. Liberalisme memang sudah merambah, bahkan sejak kemerdekaan dahulu kala itu. Pikiran-pikiran sekuler yang berusaha memisahkan agama dengan kehidupan. Seolah-olah, agama hanya ada di masjid saja. Di luar masjid, silakan tinggalkan hal-hal yang berbau agama itu.

Pendapat kelompok Ki Bagus Hadikusumo, ditolak sekaligus di kukuhkan. Sengit suasana terasa. Atmosfer oposisi yang memanas sulit diredam dan tak ditemukan titik temunya. Bung Karno tak mampu berunding dengan Ki Bagus kala itu. Majulah Pak Kasman Singadimeja menjadi penegah dan membujuk Pak Bagus untuk tenang dan dapat menerima dengan baik semua keputusan. Pikiran Pak Bagus hanya satu, jika bukan saat ini, mau kapan lagi? Inilah saatnya Islam bisa masuk ke dalam negara Indonesia. Inilah kunci yang dapat menghantarkan negara ini menjadi negara yang diridloi Allah SWT. Setelah berbisik Pak Kasman dengan Ki Bagus mengenai sila pertama itu, Pak Bagus dengan wajah tegas beliau itu, mundur perlahan. Menandakan bahwa beliau setuju jika sila pertama tidak sesuai dengan nya. Dengan berat hati pastinya beliau menyetujuinya. Itupun dikarenakan Pak Kasmam nemberikan kata-kata pembesar hati, bahwa tak lama lagi siding MPR akan diselenggarakan. Di sana, ki Bagus bisa mengusulkan penggantian dasar negara. Rupanya, umur Ki Bagus tidak sampai kepada siding tersebut. Alhasil, demi perjuangan kawan baiknya itu, Pak Kasman  sendiri yang berpidato dan menyampaikan pesan Ki Bagus kepada seluruh audien yang hadir. Pidatonya berapi-api alias menggebu-gebu. Pak Kasman menyesal sejadi-jadinya menasehati Ki Bagus kala itu. Pendapatnya susah diterima di semua kalangan. Ah. Misi liberalisme itu telah tumbuh subur hinggap di Indonesia. Laris manis dan keuntungan besar, pun hingga tahun 2019 ini, masih didapatkan. Celaka, wahai!

Pak Kasman menyesal bukan kepalang. Dengan cara apa ia dapat menebus kesalahannya? Mungkin hal itu adalah kesalahan terbesar di hidupnya. Nyatanya Islam belum juga menjadi dasar negara. Demokrasi yang selalu dcitakan pun tak menjadi solusi. (hal;147)

Ada tokoh kebanggaan saya yang lain, yakni Bu Yoyoh Yusroh. Beliau hafidzah, yarhamuhallah, yang memiliki 13 anak yang salah duanya ada pula yang menjadi hafidz hafidzah. Beliau berkata, “bagaimana mau mengurus umat, jikalau membaca al-Quran, pedoman hidup, saja tak sempat.” Beliau ini selalu menyempatkan membaca al-Quran minimal 3 lembar perharinya. Beliau pula yang selalu mengingat mati di setiap waktunya. Beliau selalu siaga menghadapai kematian. Beliau meninggal di usia yang cukup muda, yakni umur lima puluh tahun. 

Ada pula yang mengajarkan saya akan ajakan membaca buku. Beliau ini maniak buku sekali. Siapa lagi jika bukan, Pak Abdullah Said. Diceritakan Pak Abdullah Said ini tidak mau kuliah dikarenakan seluruh referensi ataupun telaah bacaan di bangku kuliah telah di abaca semuanya. Bosan beliau ini dengan pembelajaran yang terdapat di kampus. Bismillah, saya juga mau biasakan baca Ya Allah.
Tokoh lainnya seperti tokoh kristolog yang pandai berdebabat dengan cara yang baik juga amat menjadi inspirasi bagi kita semua. 

Banyak sekali tokoh dalam buku tersebut. Insyaa allah, saya tetap bertanggung jawab dengan hal yang menjadi tanggungjawab serta seluruh keputusan saya. Bismillah…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua