STIKER
Tepat tanggal
tujuh Oktober dua ribu Sembilan belas, saya dikirimi oleh pihak tahfidz
al-Hidayah Purbalingga, stiker sejumlah 800 pcs. Jumlah yang banyak banget buat
saya yang masih awam mengenai dunia perbisnisan. Ya, saya bekerja sebagai
penjual stiker doa-doa tepat pada hari itu. Seketika, saya begitu tegang dan
otak ini berpikir cepat, gimana stikernya bisa habis dalam tempo satu bulan?
Allahuakbar! Bapaknya juga hanya Cuma memberikan stiker ini. sempat beliau
memotivasi dan memberi arahan tapi sejatinya saya tumpul. Tumpul makna dan
hakikat.
Saya berjualan
ini di TK, SD, SMP, swalayan, dan acara-acara kajian. Alhamdulillah, lumayan
laku. Pernah saya tidak diperbolehkan berjualan di salah satu SD. Diusir secara
halus istilahnya. Padahal niatnya kan jualan stiker doa, bukan jualan es atau
bakwi. Pernah juga di salah satu swalayan, saya kembali diusir secara halus.
Mengganggu kami katanya. Seketika saya bersembunyi di balik mobil dan menangis
sejadi-jadinya di sana. Lama saya menangis untuk kemudian kembali memutuskan
mantap melanjutkan kehidupan yang pahit-manis ini.
Pembeli pun
beragam. Ada teman sekampus dan sekelas yang membeli tanpa pamrih. Ada
bapak-bapak juga ibu-ibu yang benar-benar sangat dermawan kepada saya yang ada
usaha mencari nafkah ini. walau begitu, pun banyak yang menggeleng, menolak
mentah-mentah tawaran stiker doa ini. Ada yang acuh dan merendahkan. Kabar
baiknya, ada pula yang mau turut menjualkan, walau tidak banyak, sih, tetapi
cukup lumayan membantu.
Bagaimana?
Saya lebih suka
pendekatan personal dalam menawarkan stiker ini, begini contohnya, “permisi,
Assalamualaikum, Bu. Misi Bu, bismillah, ini kami ada stiker doa-doa. Ini bisa
ditempel di cermin, kendaraan, pintu-pintu, sebelum masuk rumah juga bisa, Bu. Di
sini ada Bahasa arabnya, juga cara bacanya dan ada artinya juga. Mungkin ibu
mau melihat-lihat? Biar ngajak enak anak kalo kita berdoa. Biar tahu artinya
juga. Kan terkadang kita belum tahu artinya, bu. Sama Panjang pendeknya, bu.
Ah, walau tak ada yang membeli ketika saya mengucapakan tawaran seperti di
atas, setidaknya saya juga sudah mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya
kita tahu arti doa harian yang cenderung diremehkan dan banyak yang abai
menegani hal ini. Siapa tahu, yang mendengar tawaran saya, mau memikirkan dan
mau berubah pikiran.
Kalau pelanggan
sudah mulai tertarik, kita beri mereka contoh stikernya untuk dilihat.
Pertanyaan selanjutnya adalah harga. “ini isinya tiga stiker doa, bu, hargnya
5.000 rupiah sekaligus sedekah ke Lembaga tahfidz yang tertera di situ, Bu.”
Mengapa?
Setelah saya
berjualan stiker ini, saya semakin sadar akan rekosonya golek duit itu. Kita,
yang hanya nunggu kiriman perbulan alias kerjanya menikmati dan
menghabiskannya, berlenggak santai seolah tak pernah ada kiriman itu. Tidak tahu, bagaimana dibalik kiriman itu semua, orang tua, bekerja keras mencari nafkah. Pegal, penat, lelah, capek mungkin mereka rasakan. Akan tetapi, ini demi, anaknya, jariyah mereka ketika mereka berada di alam barzakh ada anaknya yang selama ini mereka azuh mendoakan dan menjadi anak yang sholih-sholihah.
Berjualan stiker, saya
bukannya tidak punya uang. Biar saya lebih mensyukuri kehidupan saya. Supaya
saya lebih menghargai setiap rezeki yang telah Allah tetapkan bagi saya. Menjadi
penjual stiker menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Bahwa semudah itu Allah
memberi kekuasaan dan mencabutnya pada siapa yang dikehendakinya. Begitu pula
masalah rezeki. Toh, jika saya tidak digaji dan gaji saya untuk Lembaga
tahfidz. Bismillah saya serahkan seluruh gaji kepada Lembaga tahfidz tersebut.
Biar berlipat, pahala saya dengan izin Allah dan bekal saya di akhirat kelak.
Amiin.
Alhamdulillah, hujan...
syahdu sekali
rizku minallah
NgampilanBasah
Komentar
Posting Komentar