Langsung ke konten utama

Dana dan Pondok




Manakala senja usai, tergantilah malam pekat. Dana duduk sendiri di teras rumah. Teman-teman organisasinya baru pulang maghrib ini. Dia membuka  Qurannya lalu mulai membaca dengan tartil. Dana, alumni pondok Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Dua tahun sudah, dia menyandang status sebagai alumni. 

Ketika Ramadhan tiba, undangan pemateri ceramah dan khutbah berjejal di agendanya. Sholat ied tiba, pun banyak tawaran-tawaran bagi Dana untuk menjadi imam dan khatib. Percayakah kamu? Ini dia profil ideal alumni Muallimin, Dana, alumni angkatan sembilan puluh satu yang jarang orang tahu akannya.

Jadwal perpulangan bagi santri Muallimin adalah sebulan sekali. Tak perlu khawatir, di Muallimin juga terdapat jatah libur seminggu sekali. Pondok yang berlokasi di Kota Yogyakarta ini, tak menyurutkan semangat Dana untuk mengabdi di Bantul, rumahnya sendiri. Tiap malam Jumat, dia selalu meluangkan liburnya itu untuk membersamai pemuda-pemudi di rumah untuk sekadar bercengkrama, ataupun membuat mading untuk ditempel di depan masjid. Kece sekali ide briliannya tersebut. Berbekal mental yang kuat, dia mengajukan perizinan untuk setiap malam Jumat, izin pulang ke rumah. Rupanya keaktifan sebagai pemuda itu membuatnya terpilih menjadi ketua remaja masjid. Malam Jumat, satu-satunya malam yang bisa digunakan kesempatan untuk berkoordinasi dengan organisasi paguyuban itu. Sulit dibayangkan, memang bolak-balik pondok-rumah. Tetapi itulah, Dana. Libur yang bagi santri itu enaknya untuk tidur panjang atau jalan-jalan, tetapi bagi Dana, libur adalah sarana mempraktekkan apa yang selama ini dia pelajari di pondok.

Dia memiliki power yang luar biasa untuk mempengaruhi orang. Auranya terpancar dari ketegasan serta kepaiawannya dalam berbicara. Muallimin benar-benar menempa dirinya menjadi pemuda yang tangguh, soleh, dan beakhlak mulia. Selain itu, kepekaan sosial yang dimiliki Dana sungguh luar biasa. Kecakapannya untuk menyesuaikan keadaan sekitar juga sungguh mengesankan dan menebar inspirasi bagi orang-orang yang ada di sekitar tersebut. Andai kata ada empat orang seperti Dana di dunia, pastilah urusan dunia lancar dan aman terkendali. 

Di tahun kelimanya dahulu saat masih nyantri, Dana menjabat sebagai anggota bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah atau yang biasa kami singkat dengan bidang PIP PR IPM Madarasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Di situ, kepemimpinannya diasah sedemikian rupa. Ikut mengontrol dua ribu anak banyaknya. Mengkader banyak adik kelas untuk bisa show up dan tidak minder terhadap dirinya sendiri. Mendorong untuk terus berkarya dan membenahi mereka-mereka dari segi mental dan ruhani. 

Aktif adalah kata yang pas bagi Dana. Peka itu tabiatnya. Peduli itu kunci suksesnya. Di tahun kelimanya juga, direksi Muallimin menetapkan kebijakan super langka. Anggaran IPM dipangkas hampir lima puluh persen. Dana angkat suara dalam masalah ini. Ini urusan serius baginya. IPM adalah organisasi inti yang kudu digendutkan anggarannya. Bukan semata-mata event organizer yang butuh uang banyak, tetapi urusan IPM adalah urusan satu pondok itu, tak bisalah asal potong tanpa diketahui alasannya oleh para santri. 

Sudah enam bulan nasib IPM tak kunjung pulih. Keuangannya yang swasta itu, yang aslinya diberi oleh madrasah itu, sementara ditalangi oleh pengurus IPM. Nasib atau takdir itu mereka coba lawan selama masih bisa untuk dilawan. Kumpul insidental pengurus, itu wajib hukumnya hari itu juga. Ketua umum mengabari seluruh anggotanya yang perngurus itu untuk berkumpul dan memulai musyawarah singkat. Dana, memimpin jalannya kumpul. Hasil dari pada itu, seluruh pengurus setuju terhadap penolakan anggraran IPM dengan Dana sebagai juru bicaranya. 

Mulailah Dana menemui direksi satu persatu. Bagian kesiswaan telah dilobi, hasilnya nihil. Wewenang ada di direktur utama. Bertolaklah dari bagian kesiswaan ke direktur. Keberanian sebesar gunung dan mental sepenuh air laut telah disiakan dengan menghirup udara dalam-dalam dan dihembuskan dengan mengucap takbir, Allahu akbar. Sungguh, mau apapun hasilnya nanti, Allah Maha Besar. Pun direktur yang terkenal kebesarannya, tak akan pernah bisa menandingi kemahabesaran-Nya. Detik-detik itu benar-benar menjadi penentu arah IPM selanjutnya. Baik untuk periode ini maupun periode yang akan datang. Perbincangan hangatpun dimulai. Sorot mata tajam bertemu dengan sepasang mata nun berwibawa yang acap disinggung santri akan galaknya beliau. Tak pernah berbicara dua mata, jangan dikira. Luwesnya direktur berbicara amat meluluhkan hati Dana. Dana paham dari perbincangannya dengan Pak direktur menuai bibit pengertian.

Pemangkasan dana IPM bertujuan untuk menumbuhkan rasa kritis santri dan diharapkan adanya evaluasi-evaluasi secara komperhensif. Dana adalah satu-satunya santri yang berhasil untuk melobi pimpinan akan hal itu dan pikiran kritisnya pun tertumpah ruah. Dana paham bahwa banyak program kerja yang kurang efektif dan dirasa tidak memberi dampak kepada seluruh santri. Maka dari itu, pimpinan berkumpul kembali. Merombak program kerja-program kerja yang telah disepakati pada awal periode. Menambahkan yang sesuai dan membuang yang tidak sesuai. 

Satu malam ataupun dua malam belum cukup bagi IPM untuk berpikir sebegitu cepatnya. Belum tugas dari ustadz atau KBM hingga petang. Itu semua sudah cukup menyita pikiran dan energi pimpinan yang harus kerja ekstra dibanding anggota santri yang tinggal terima jadi di samping mereka juga harus memberi saran dan kritik. 

Tugas Dana usai melobi tidak selesai begitu saja. Tanggung jawab untuk merombak program kerja ada di pundaknya. Memberi semangat pada kawan itu juga tugasnya. Ketua umum seharusnya berterima kasih kepada Dana. Juga bersyukur telah dikirim Allah orang, yaitu Dana untuk membantunya memimpin PR IPM.

Satu program kerja yang sering beliau timbang tetapi amat sulit untuk diungkap. Yakni tentang perlunya akulturasi budaya Jawa dengan keislaman. Sekolah sekelas Muallimin yang melegenda dengan label internasionalnya itu seharusnya juga tanggap dengan kesenian yang sudah mulai pudar akhir-akhir ini. Bagaimana pewayangan dan pertunjukkan kesenian yang lainnnya itu? Bagaimana alat musik tradisonal, baju adat, dan tradisional lainnya itu. Latar belakang atau asal dari Dana berada mendorongnya untuk mencetuskan ide tersebut. Tak ayal, program kerja ini sungguh membutuhkan lobi yang cukup melelahkan. Setelah akhirnya, dua minggu PR IPM ini giat  untuk koordinasi rutin, serta satu program kerja besar telah apik untuk dilaporkan kepada pimpinan direksi. 

Akhir periode, tanda masa laporan pertanggungjawaban siap untuk dilaporkan. Amanah periode usai, masuklah Dana dan kawan angkatannya untuk fokus menghadapi ujian dan mencari kuliah. Tahun keenamnya, bahkan semakin intens hubungan Dana dengan remaja kampungnya. Lobi-lobi makin sering dia lakukan. Terkenalnya Dana oleh seluruh warga madrasah dijadikannya sebagai sarana untuk mempengaruhi hal-hal positif semampu Dana. Proses mendidik adik kelas atau biasa disebut dengan proses kaderisasi masih tetap berjalan, karena kelas enam masih dijadikan patokan serta cerminan bagi adik kelas. 

Direksi mengenal Dana, baik. Suatu ketika, teradalah undangan dari pimpinan pusat Muhammadiyah untuk beliau. Isinya sungguh mendebarkan hati bagi yang menerima kabar gembira tersebut. Isinya tentang beasiswa pertukaran pelajar ke Jepang selama satu bulan atau senilai tiga puluh hari. Pada mulanya, direksi tidak mengizinkan santri kelas enam untuk menjadi utusan Muallimin. Alasannya detik-detik menjelang ujian, pikiran santri harus rileks dan tidak boleh ada yang mengganggu santri sedikitpun. Setelah ditimbang kembali, di samping utusan harus membawa nama baik madrasah, juga harus memiliki kematangan emosi serta kemampuan kesenian yang mumpuni. Kelak, para peserta, harus menampilkan pertunjukkan tradisional sebagai bagian dari memperkenalkan keragaman Indonesia di negara matahari terbit itu.

Dana. Santri tersebut menjadi perhatian mencolok bagi direktur untuk memilihnya. Semua klasifikasi untuk menjadi utusan marasah, sduah ada pada dirinya. Pelajaran adalah nomor kesekian di mata Muallimin disbanding melewatkan momen langka ini. Tanpa ragu, beliau memanggil Dana dan menjelaskan kabar keberuntungannya. 

Muhammadiyah mendapat jatah dua kursi. Satu telah dipakai Dana, satu lagi kursi itu, jatah milik Muallimat. Impian Dana terkabul di tahun keenamnya. Dia berharap supaya bisa pergi ke luar negri gratis, klo perlu dibiayai serta disangoni. Keberuntungan itu sedang dipihaknya kala itu.  

Tiga puluh hari telah dilewatinya dengan baik. Dana menampilkan pertunjukkan   wayang orang dengan dirinya yang menjadi wayang orang tersebut disertai filosofinya. Berdandan layaknya gatotkaca perkasa yang banyak orang mafhum. Indonesia kudu berbangga hati punya Dana sebagai pengharum bangsa di luar negeri. Kerjasama dengan siswa yang dari luar juga dijalankannya dengan baik. Nama beasiswa yang sangat baik hati itu adalah Jenessys Programme. Diberikan kepada orang-orang kritis dan terpilih. Sengaja pihak pemberi beasiswa menyerahkan kepada Muhammadiyah, organisasi masyarakat terbesar di Indonesia.
Merasakan empat musim itu rasanya benar-benar mengasyikkan sekali. Berkat IPM-lah, Dana dapat menginjakkan kaki tempat kakinya menginjak salju kali itu. Hatinya penuh rasa syukur kepada Allah SWT. Riset-riset mewarnai pengalamannya selama berada di Jepang. Tak tanggungg-tanggung, bendera IPM dia tancapkan di dataran yang tinggi. “Berkibarlah, IPM-ku,” katanya lantang.  

Mengejar ketertinggalan KBM memang tak mengenakkan. Ujian pun Dana mendapat hasil yang pas-pasan. Dua bulan selepas Dana terbang menuju Indonesia itu adalah masa-masa ujian. Tak sampai semingu lagi, wisuda akan ia lewati.


GOR UMY, tempat dilaksanakannya wisuda dan pelepasan itu. Banyak tokoh ternama datang menghadiri pelepasan santri untuk siap dilesatkan ke masyarakat sebagai anak panah Muhammadiyah, bangsa dan negara. Salah satu tokoh fenomenal itu adalah Bapak Zulkifli Hasan, ketua MPR pada masa itu. Seperti biasa, membawa banyak hadiah berjuta-juta. Satu kader terbaik akan diberi laptop dan uang senilai dua puluh juta rupiah. 

Pengumuman kader terbaik sudah waktunya. Sudah bisa tertebak bahwa yang mendapat hadiah ketua MPR pastilah Dana. Orang tuanya pun turut maju ke panggung besar nan megah itu disertai rasa haru bangga. Kedua orang tua dan sang anak sama-sama mencucurkan air mata. Ia janji, untuk ke depannya, membahagiakan orang tua adalah prioritas utama, mengingat usia keduanya yang mulai senja.  

Adzan isya’ lantang berkumandang. Dana muadzinnya. Kini ia berkuliah di UII jurusan Ilmu Hukum dengan beasiswa full studi. Lumayan bergengsi, bukan? Agenda Ramadhan seperti pengelolaan ngaji anak, kultum remaja, dan pengurusan zakat, dia koor dengan penuh kerendahhatian. Di daerah Bantul pula, tahun ini, dia menjabat sebagai Kepala Bidang Perkaderan di PD IPM Bantul.

Penulis bernama lengkap Nida Fauzia. Asal penulis sama seperti asal yang diceritakan, Bantul. Penulis sendiri adalah alumni Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta, angkatan yang berjarak dua tahun di bawah Kak Dana. Dengan yang diceritakan, ternyata kami tetanggaan. Desanya sama, hanya beda kampung saja. Saat beliau lulus dari Muallimin, kami bertemu dan berkenalan di acara karang taruna desa. Kala itu, saya mendampingi anak-anak TPA lomba, sedang Kak Dana mengikuti lomba debat bahasa Indonesia. Saya kira, bagi Dana lomba debat tingat desa itu bukan levelnya. Hanya saja, Dana itu ingin memberdayakan kedua temannya untuk diajak aktif dan tanggap serta kritis teradap mosi yang diberikan. Tempat tanggal lahir penulis, Bantul, 20 Juni 2001. Penulis dapat dihubungi lewat email; nida3e@gmail.com. Dunia tulis menulis telah digumulinya sejak SD. Dia kerap menulis buku harian sedari dulu. Baginya, dengan menulis, transfer llmu dapat dilakukan dengan efektif. Dengan menulis pula, hidup penulis tidak kesepian dan mampu mengatasi kesedihan serta kebingungan di tengah jalan. Makna hidup menjadi hidup dan ghirah ibadah menjadi tak tumpul.
Jika berkenan, monggo kunjungi blogger penulis, alamat webnya, nidazi.blospot.com. Kalau-kalau ada yang menyimpang, penulis mohon saran dan kritiknya, ya. Perkenankan penulis menjadi teman bagi yang membaca tulisan penulis,ya! Jangan sungkan untuk menyapa penulis! Kita masih sama-sama belajar, dan tak ada kata terlambat untuk menulis! Maka, menulislah!

*Masuk 50 besar lomba LAGMI, The Platinum Skills

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua