Istifghfar! Perbanyaklah! Supaya panah setan itu tak tertancap menghabisi nyawamu!
Saya bertemu bapak Jokowi dalam rangka muallimin Muallimaat 1 abad bukan sebagai cawapres tetapi memang Presiden yang berhak memasuki ranah pendidikan.
Berharap apa dengan 1 abad ini? Siapa yang merasai jayanya? Merasai manisnya, atau tuanya?? Tua yang begitu ringkih dan tak berdaya atau tua mendewasa nan bijaksana? Manakah yang paling tepat?
Sudah 6 tahun saya dierami di bangunan tua 100 tahun ini. Tetapi saya tak merasakan atmosfer ayah. Ayah yang mendaftarkan saya di nomor paling awal dengan status KP pergi begitu saja. Amanah besar, rupanya saya belajar di sini. Pernah sempat ingin alum karena terpesona dengan Gontor. Bimbang antara patuh terhadap amanah ayah atau sengaja melanggar demi terciptanya saya menjadi lebih baik. Tangisan itu semakin kencang ketika ibu menyetujui saya untuk pindah sekolah. tetapi nyatanya hingga akhir ini, saya masih di sini. Kunjungan ke gontor tidak menambah kekecewaan saya untuk bisa sekolah di sekolah Impian itu. Saya begitu beruntung dapat sekolah di sini. Sekolah yang tempaannya luar biasa, di tengah kota. Dikelilingi mall-mall dan arus teknologi. Melihat dengan mata kepala sendiri keadaan ummat. Bersentuhan langsung dengan keadaan masyarakat serta penuh kebebasan. Bebas mengatur lingkungan tempat kita mengembangkan passion dan bakat. Dan yang terpenting, semoga ridhomu, wahai ayah, selalu ada pada anakmu!
Kala itu, kamu begitu menawan dengan ghaddul basharmu!
6 Desember 2018
Qabla funwalk
Saya bertemu bapak Jokowi dalam rangka muallimin Muallimaat 1 abad bukan sebagai cawapres tetapi memang Presiden yang berhak memasuki ranah pendidikan.
Berharap apa dengan 1 abad ini? Siapa yang merasai jayanya? Merasai manisnya, atau tuanya?? Tua yang begitu ringkih dan tak berdaya atau tua mendewasa nan bijaksana? Manakah yang paling tepat?
Sudah 6 tahun saya dierami di bangunan tua 100 tahun ini. Tetapi saya tak merasakan atmosfer ayah. Ayah yang mendaftarkan saya di nomor paling awal dengan status KP pergi begitu saja. Amanah besar, rupanya saya belajar di sini. Pernah sempat ingin alum karena terpesona dengan Gontor. Bimbang antara patuh terhadap amanah ayah atau sengaja melanggar demi terciptanya saya menjadi lebih baik. Tangisan itu semakin kencang ketika ibu menyetujui saya untuk pindah sekolah. tetapi nyatanya hingga akhir ini, saya masih di sini. Kunjungan ke gontor tidak menambah kekecewaan saya untuk bisa sekolah di sekolah Impian itu. Saya begitu beruntung dapat sekolah di sini. Sekolah yang tempaannya luar biasa, di tengah kota. Dikelilingi mall-mall dan arus teknologi. Melihat dengan mata kepala sendiri keadaan ummat. Bersentuhan langsung dengan keadaan masyarakat serta penuh kebebasan. Bebas mengatur lingkungan tempat kita mengembangkan passion dan bakat. Dan yang terpenting, semoga ridhomu, wahai ayah, selalu ada pada anakmu!
Kala itu, kamu begitu menawan dengan ghaddul basharmu!
6 Desember 2018
Qabla funwalk
Komentar
Posting Komentar