Langsung ke konten utama

Esensi Sedekah



Tukang sampah, lopr koran, pedagang kaki lima, dan pekerjaan lain dengan embel2 tukang ataupun tidak selalu membuat mata ini meneteskan air mata. Betapa keluarga di rumah yang menantikan dirinya untuk kembali membawa sesuatu yang bisa mengisi perut. Syukur-syukur bayi yang yang diasuh sudah dibelikan susu supaya erangan tangisnya tak menjadi-jadi. Memposisikan sebagai orang itu, melakukan apa saja demi terkumpulnya uang, berkeliling menjajakan dagangan jika orang tersebut pedagang, memunguti dan memilah sampah sebanyak mungkin jika orang itu adalah tukang sampah, mutlak disikapi tawakkal dengan penuh amunisi ikhtiar. Biar kalau dapat sedikit tidak kecewa, dapat lebih Alhamdulillah. Pembuktian atas rezeki-Nya itu Dia yang berhak mengatur. Bukan pemberi gaji, majikan atau bos, mereka hanya sebatas perantara saja. Sang Pembalas pun tak segan2 memberikan kelipatan bagi yang mau memberikan sedekah bagi orang-orang tadi, tanpa itung-itungan. Tidak melulu  mereka yang kita beri yang meminta-minta, bukan?  Al-Quran selalu Maha Benar, yang meminta, yg tidak meminta karena menjaga kehormatan, mereka semua berhak mendapat hak atas harta yang kita miliki. Lissaili wal mahrum.

Maka, ini kisah saya tentang sedekah, harapannya dapat menjadi motivasi dalam beramal,

4 hari, malam sepulang tahassus, jalanan selalu ramai. Derap-derap palajar yang tak melewatkan momen spesialnya untuk studytour adalah hal yang biasa kutemui. Angkringan yang kutuju ada di ujung jalan. Berlawanan arah dengan kepulanganku. Tak, apa, karena hanya di sini aku dapat membeli 2 nasi kucing dan 1 teh hangat dengan harga 5.000 rupiah. Paket komplit bagi orang yang lapar tapi tak punya duit. Jika uang berlebih, maka saya belikan 2 paket. Kalau berlebih sangat, saya gantikan dengan ayam goreng atau masakan padang. Setelah membeli makanan tersebut, saya hunting orang yang sedang di jalanan. Kegiatan ini, minimal saya lakukan seminggu sekali.

Beberapa waktu kemudian saat saya sedang belajar  persiapan lomba di ruang kelas, ada saja cara Allah untuk menggiring saya untuk pindah belajar ke musola, di mana saya bertemu suami ipar sepupu yang ternyata datang ke Muallimaat, katanya sedang casting menjadi AR Fakhruddin. Beliau tak segan-segan memberi saya uang yang begitu banyak, 200.000, pun budhe saya dari Sleman juga memberi nominal yang sama. Alhamdulillah. Janji yang tak pernah melesat.

Maka, dasar dari pemberian adalah ikhlas. Tambahan lain yang tampak adalah bonusnya. Sejatinya, pahala yang berlipat-lipat itu tak kasat mata. Di sisi Allah, sejumlah 700 biji itu mekar di kebun surga. Indah, ranum, dan lebat. Hanya satu kuncinya, ikhlas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua