Terukir indah bayangan-bayangan yang begitu mengganggu bagai racun khayalan. Menukik daya tak bersisa menegaskan supaya bersegera raib. Pencinta sejati rupanya sedang mengeluh, budak cinta katanya. Memberi pandangan bari tentang bewarninya rasa. Tetapi terlalu melankolis, amat melankolis. Wagu istilahnya. Jelei persisnya.
Saya membutuhkan hal semacam itu untuk menangkap sebahagian kecil manisnya liku kehidupan. Tetapi saya harus mengaturnya dengan baik, biar tidak overdose. Bertafakkur, bertadabbur, akan ayat-ayat-Nya. Serta pekerjaan-pekerjaan yang masih banyak listnya menanti saya dengan anggunnya. Semuanya harus saya maksimalkan dalam rangka meraih ridho-Nya. Penghambaan diri manusia hina ini terselamatkan dengan harapan akan luasnya rahmat-Nya dibanding perihnya siksaan-Nya. Bagian tentangmu cukup jadi pemanis buatan yang berarti tak akan pernah asli dan murni. Masih banyak pemanis alami yang isinya usaha, ibadah, kerja, keras—nyuci, ntetrika, belajar, sholat, tahajud, baca Quran, itulah intinya. Kamu tak usah banyak-banyak, tak sama sekali pun tak mengapa. Semua terasa manis, bahkan tanpamu.
Maafkan tulisan khilaf lalu-lalu dan kali ini. Bukan bermaksud diri ini menjadi budak cinta, tetapi untuk meneguhkan diri, menancapkan fondasi, agar di Jalan Tuhan saya, saya tidak pernah khawatir dan bimbang. Semua butuh pemahaman yang benar, dijabarkan dengan gamblang. Semua bermuara pada segumpal daging yang menjadi penentu baik dan buruknya jasad, Hati. Semua tertumpu pada penyambung tali kehidupan, Tujuan Hidup. Dan semua terdorong akan wahyu pertama turun. Bukan tentang sholat, puasa, mendengar, melihat, mecoba, tetapi tentang iqra, Bacalah!-membaca.
Saya ingin buku Buya Hamka itu kembali. Minimal buku tersebut tidak di kamu. Kau loakkan saja. Atau kau beri ke panti, tentu jauh lebih berarti. Maafkan mawaddah itu. Sekali-kali, janganlah kau genggam buku itu lagi! Selamanya!
-----setelahmembacabukuSalimAFillah-----
--SaksikanBahwaAkuSeorangMuslim--
Saya membutuhkan hal semacam itu untuk menangkap sebahagian kecil manisnya liku kehidupan. Tetapi saya harus mengaturnya dengan baik, biar tidak overdose. Bertafakkur, bertadabbur, akan ayat-ayat-Nya. Serta pekerjaan-pekerjaan yang masih banyak listnya menanti saya dengan anggunnya. Semuanya harus saya maksimalkan dalam rangka meraih ridho-Nya. Penghambaan diri manusia hina ini terselamatkan dengan harapan akan luasnya rahmat-Nya dibanding perihnya siksaan-Nya. Bagian tentangmu cukup jadi pemanis buatan yang berarti tak akan pernah asli dan murni. Masih banyak pemanis alami yang isinya usaha, ibadah, kerja, keras—nyuci, ntetrika, belajar, sholat, tahajud, baca Quran, itulah intinya. Kamu tak usah banyak-banyak, tak sama sekali pun tak mengapa. Semua terasa manis, bahkan tanpamu.
Maafkan tulisan khilaf lalu-lalu dan kali ini. Bukan bermaksud diri ini menjadi budak cinta, tetapi untuk meneguhkan diri, menancapkan fondasi, agar di Jalan Tuhan saya, saya tidak pernah khawatir dan bimbang. Semua butuh pemahaman yang benar, dijabarkan dengan gamblang. Semua bermuara pada segumpal daging yang menjadi penentu baik dan buruknya jasad, Hati. Semua tertumpu pada penyambung tali kehidupan, Tujuan Hidup. Dan semua terdorong akan wahyu pertama turun. Bukan tentang sholat, puasa, mendengar, melihat, mecoba, tetapi tentang iqra, Bacalah!-membaca.
Saya ingin buku Buya Hamka itu kembali. Minimal buku tersebut tidak di kamu. Kau loakkan saja. Atau kau beri ke panti, tentu jauh lebih berarti. Maafkan mawaddah itu. Sekali-kali, janganlah kau genggam buku itu lagi! Selamanya!
-----setelahmembacabukuSalimAFillah-----
--SaksikanBahwaAkuSeorangMuslim--
Komentar
Posting Komentar