Langsung ke konten utama

*Rasa

Terukir indah bayangan-bayangan yang begitu mengganggu bagai racun khayalan. Menukik daya tak bersisa menegaskan supaya bersegera raib. Pencinta sejati rupanya sedang mengeluh, budak cinta katanya. Memberi pandangan bari tentang bewarninya rasa. Tetapi terlalu melankolis, amat melankolis. Wagu istilahnya. Jelei persisnya.

Saya membutuhkan hal semacam itu untuk menangkap sebahagian kecil manisnya liku kehidupan. Tetapi saya harus mengaturnya dengan baik, biar tidak overdose. Bertafakkur, bertadabbur, akan ayat-ayat-Nya. Serta pekerjaan-pekerjaan yang masih banyak listnya menanti saya dengan anggunnya. Semuanya harus saya maksimalkan dalam rangka meraih ridho-Nya. Penghambaan diri manusia hina ini terselamatkan dengan harapan akan luasnya rahmat-Nya dibanding perihnya siksaan-Nya. Bagian tentangmu cukup jadi pemanis buatan yang berarti tak akan pernah asli dan murni. Masih banyak pemanis alami yang isinya usaha, ibadah, kerja, keras—nyuci, ntetrika, belajar, sholat, tahajud, baca Quran, itulah intinya. Kamu tak usah banyak-banyak, tak sama sekali pun tak mengapa. Semua terasa manis, bahkan tanpamu.

Maafkan tulisan khilaf lalu-lalu dan kali ini. Bukan bermaksud diri ini menjadi budak cinta, tetapi untuk meneguhkan diri, menancapkan fondasi, agar di Jalan Tuhan saya, saya tidak pernah khawatir dan bimbang. Semua butuh pemahaman yang benar, dijabarkan dengan gamblang. Semua bermuara pada segumpal daging yang menjadi penentu baik dan buruknya jasad, Hati. Semua tertumpu pada penyambung tali kehidupan, Tujuan Hidup. Dan semua terdorong akan wahyu pertama turun. Bukan tentang sholat, puasa, mendengar, melihat, mecoba, tetapi tentang iqra, Bacalah!-membaca.

Saya ingin buku Buya Hamka itu kembali. Minimal buku tersebut tidak di kamu. Kau loakkan saja. Atau kau beri ke panti, tentu jauh lebih berarti. Maafkan mawaddah itu. Sekali-kali, janganlah kau genggam buku itu lagi! Selamanya!

-----setelahmembacabukuSalimAFillah-----
--SaksikanBahwaAkuSeorangMuslim--

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua