Allah telah mewanti, menasehati, memperingatkan kepada kita Wahai orang yang Beriman! Akan rusaknya amalan supaya janganlah kau rusak amalanmu. (Muhammad:33)
Betapa banyak kita mengenal seseorang dan setelah berpisah kita merasa ada yang berbeda. Perbedan yang amat tajam. Tetapi tak jarang perasaan itu masih tetap sama sedari dahulu, melepas rindu dan bergurau dengan teramat lancar. Ada pula yang kita rasa bahkan amat sangat membuncah melihat kawan lama yang dapat lebih baik dari dahulu yang ia kenal.
Orang yang amat berbeda, amat sangat asing, tetapi kita kenal. Biasanya lebih buruk dari yang dahulu. Entah itu cara berpakaiannya, pekerjaan haramnya, atau pergaulan bebasnya. Heran sinis yang menjadi tatapan kita. Tetapi apa boleh buat, kawan, bukankah, dia tetap kawan kita, dahulu, sekarang, dan besok? Tentu berpikir seperti itu adalah pikir reflek yang terjadi pada setiap orang. Tetapi justru inilah objek dakwah yang musthi dipegang erat. Atau mungkin malah kita yang berada di posisi orang yang berbeda lebih buruk dari yang dahulu itu? Untuk kemudian insyaf, sadar dan menanya, Apakah Hamba telah merusak amalan-amalan yang dahulu Hamba perbuat, Ya Allah? Ampuni, Hamba, Hamba khilaf, bahkan teman Hamba tak mengenali Hamba Ya Allah, tentulah Kau Penciptaku, Kau pasti mengenal Hamba, bukan, Ya Allah....dan sebagainya.
Atau yang dirasa terlepasnya rindu, terpuasnya jiwa, tetapi dia tidak berubah, layaknya yang ia kenal. Rasanya amat senang dapat bersua. Mereka inilah yang tetap istiqomah dalam pendiriannya dan ciri khasnya. Menjaga teguh prinsipnya. Hei, bahasan apa lagi yang kiranya dapat memperlambat kita bertemu?
Atau mungkin yang ketiga, kita merasa bereda tetapi dari segi positif. Dia yang amat membanggakan dengan seluruh kelebihannya dari yang dulu tiada menjadi berkali-kali lipat. Dia yang menjadi orang besar mungkin atau karya besarnya. Mereka yang senantiasa memperbaiki diri dan tak mau sedikitpun amalan buruknya yang lalu tersisa. Ia ingin menghapus dosa masa lalu. Tak terhitung seberapa pengorbanannya untuk hal itu.
Percayalah, bahwa sumber dari ketiga jenis peristiwa itu adalah kesatuan Aqidah yang renggang, kencang dan amat kencang. Kekuatan ukhuwah yang menimbulkan respon saling peduli dan saling senang.
Beruntunglah mereka yang selalu berusaha untuk beristiqomah.
Beruntunglah mereka yang selalu menggenggam erat niat.
#TAKUTAMALANRUSAK
Komentar
Posting Komentar