“Ukhti, kalau ada yang begini itu begini, kalau ada yang begitu itu begitu, saya dulu pernah menjadi mujanibah juga...,” hampir setiap hari seingat saya pamong itu meberi wejangan yang tak kunjung selesai. Padahal ketika sudah selesai, serasa baru tadi dimulai. Ustadzah Muslihah pamong kami ketika menjadi mujanibah kelas 1. Amat sabar beliau ini. Abi Yudi suami beliau, Mu’alliim di Mu’allimin juga tak kalah sabar, tausiyah terhadap kami merefresh ketidaknormalan jiwa setelah hari libur berlumur dosa masih terngiang-ngiang hingga kini.
Teringat salah satu anak, beda kamar, yang amat terbuka dengan curhat-curhatannya. Kemana-mana saya ajak pergi. Saya juga pernah mengajaknya untuk dimintai tolong menjadi juru kamera saat saya berlatih lomba pidato bahasa Inggris. Gini toh, rasanya jadi real mujanibah. Amat membanggakan, bukan?
Ada pula, anak yang amat sabar kita harus hadapi. Anak kamar saya yang mungkin jenuh akan kehidupan asrama. Sering sakit-sakitan. Kalau ngomong nerocos tak berhenti-lebih banyak nerocos ngeluh, sih- tetapi siapa sangka, justru anak inilah yang meninjamkan selimutnya untuk saya ketika saya tengah menggingil demam. Membawakan saya seplastik jus jambu ketika pulang sekolah, sore hari. Dan tak sedikitpun mau membuat saya kecewa.
Atau mungkin kekecewaan saya ketika melihat salah satu buku diary anak yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap saya. Salah saya juga, kok buka-buka... hayo. Rasanya begini toh kalau belum mampu jadi mujanibah yang baik. Saya harus bagaimana? Pertanyaan buruk yang sering terlontar adalah, Apa guna saya menjadi Mujanibah, kalau anaknya saja seperti ini? Bak perusahaan yang hampir collapse dan butuh konsultan segera. Semoga dengan menghadapi ujian seperti itu, dapat menjadikan saya bertambah dekat dengan-Nya. Supaya diberi jalan keluar agar tak berputus asa. Selalu berharap anak yang dimujanibahi solehah-solehah, itu pasti. Agar pertanyaan buruk seperti itu tak terlontar kembali.
Maafkanukhti
Sapalahukhti
Ukhtirindu
Wait, bukankan itu panggilan spesial kalian kpd kami?
Komentar
Posting Komentar