Edisi ini sangat spesial. Hei, dua tahun sudah saya merasakan menjadi mujanibah. Jika saja boleh diulang menjadi seorang yang bernama mujanibah itu tentu saya akan ulangi dengan skenario seapik mungkin. Nama yang bersingkatan muje itu amat mendalam rupanya. 1 tahun sangatlah cukup untuk mengenal karakter orang itu. Hidup berdampingan pada malam2 yang biasa orang lain habiskan bersama keluarga, terganti dengan kami.
Kali ini akan coba saya ceritakan secara singkat awal saya menjadi mujanibah kelas 1. Amat singkat dibanding hari-hari itu.
"Anak kelas 1 itu enaknya kalau kita sering di kamar, perhatian, klo lagi curhat didengerin. Klo sakit diurusi.... " Sebelum memasuki asrama itu, mantan muje kls 1 yang bernama mba Bira ini menyampaikan tips, suka dan duka menjadi muje kls 1 yang dikenal harus penyabar itu. Rasanya deg2 serr. Apalagi kamar saya yang berhimpitan dengan gedung yang bersuara gaduh di malam hari saat melakukan kegiatan TS.
Mengenal anak satu persatu. Mengenal berarti siap untuk menjadi cabang baru anak tersebut. Selain dia ada saya yang harus menerima. Maka jangan sekali kali berprasangka buruk. Toh kalau memang benar dia tetap menjadi cabang saya. Mereka adalah: Nisa, Anis, Muna, Hani, Dati, Valinda, Nahla, pas 7 anak kamar yg super cerminan dari mujenya. Tak terhitung masalah yang kami lalui bersama. Mereka anak-anak yang peka, jujur, sopan dan taat.
Saya akan loncat ke semester 2, saatnya perpindahan kamar. Saling menangis sudah wajar terjadi, padahal masih sama-sama satu atap. Anak-anak saya: Anzilni, Aini, Asma, Thalia, Syifa, Lala, dan Afin. Semester 2 semakin banyak saja cobaannya. Tetapi tetap harus disyukuri bahwa saya mendapat pengalaman tentang kepemimpinan si Anzilni, kesetiaan Thalia, kejujuran Aini, keteguhan Syifa, ketegaran Ashma, kepekaan Lala dan keseruan Afin menjadi memori yang amat membutuhkan ram besar di otak ini.
Saya adalah penikmat loteng kala itu. Tiada hari tanpa mendengar lenguhan azan dari atap seraya menikmati pemandangan burung yang pulang ke sarang dan siluet warna jingga yang membentang. Suara azan seakan beraroma candu, saking nikmatnya air mata ini berlinang. Kami juga sering curhat di sana, bukan? Cerita2 tertumpah ruah dari bibir2 ini.
Kelas 1 ini amat saya tekankan ibadahnya. Apalagi tahajudnya. Semoga menjadi mujanibah, perempuan yang menjadi pendamping kalian selama kita bermalam itu bernilai ya, dek. Ketika kita bertemu, ingin sekali saya memeluk kalian, bercerita kembali mengenai kisah dahulu yang menjadi keniscayaan. Semoga tahun2 kita berkah, dan jangan sampai membuat putus persaudaraan yang telah dibangun dari malam ke malam yang selalu dilewati. Bersama.
Komentar
Posting Komentar