Langsung ke konten utama

MUJANIBAH/01


Edisi ini sangat spesial. Hei, dua tahun sudah saya merasakan menjadi mujanibah. Jika saja boleh diulang menjadi seorang yang bernama mujanibah itu tentu saya akan ulangi dengan skenario seapik mungkin. Nama yang bersingkatan muje itu amat mendalam rupanya. 1 tahun sangatlah cukup untuk mengenal karakter orang itu. Hidup berdampingan pada malam2 yang biasa orang lain habiskan bersama keluarga, terganti dengan kami.

Kali ini akan coba saya ceritakan secara singkat awal saya menjadi mujanibah kelas 1. Amat singkat dibanding hari-hari itu.

"Anak kelas 1 itu enaknya kalau kita sering di kamar, perhatian, klo lagi curhat didengerin. Klo sakit diurusi.... " Sebelum memasuki asrama itu, mantan muje kls 1 yang bernama mba Bira ini menyampaikan tips, suka dan duka menjadi muje kls 1 yang dikenal harus penyabar itu. Rasanya deg2 serr. Apalagi kamar saya yang berhimpitan dengan gedung yang bersuara gaduh di malam hari saat melakukan kegiatan TS.

Mengenal anak satu persatu. Mengenal berarti siap untuk menjadi cabang baru anak tersebut. Selain dia ada saya yang harus menerima. Maka jangan sekali kali berprasangka buruk. Toh kalau memang benar dia tetap menjadi cabang saya. Mereka adalah: Nisa, Anis, Muna, Hani, Dati, Valinda, Nahla, pas 7 anak kamar yg super cerminan dari mujenya. Tak terhitung masalah yang kami lalui bersama. Mereka anak-anak yang peka, jujur, sopan dan taat.

Saya akan loncat ke semester 2, saatnya perpindahan kamar. Saling menangis sudah wajar terjadi, padahal masih sama-sama satu atap. Anak-anak saya: Anzilni, Aini, Asma, Thalia, Syifa, Lala, dan Afin. Semester 2 semakin banyak saja cobaannya. Tetapi tetap harus disyukuri bahwa saya mendapat pengalaman tentang kepemimpinan si Anzilni, kesetiaan Thalia, kejujuran Aini, keteguhan Syifa, ketegaran Ashma, kepekaan Lala dan keseruan Afin menjadi memori yang amat membutuhkan ram besar di otak ini.

Saya adalah penikmat loteng kala itu. Tiada hari tanpa mendengar lenguhan azan dari atap seraya menikmati pemandangan burung yang pulang ke sarang dan siluet warna jingga yang membentang. Suara azan seakan beraroma candu, saking nikmatnya air mata ini berlinang. Kami juga sering curhat di sana, bukan? Cerita2 tertumpah ruah dari bibir2 ini.

Kelas 1 ini amat saya tekankan ibadahnya. Apalagi tahajudnya. Semoga menjadi mujanibah, perempuan yang menjadi pendamping kalian selama kita bermalam itu bernilai ya, dek. Ketika kita bertemu,  ingin sekali saya memeluk kalian, bercerita kembali mengenai kisah dahulu yang menjadi keniscayaan. Semoga tahun2 kita berkah, dan jangan sampai membuat putus persaudaraan yang telah dibangun dari malam ke malam yang selalu dilewati. Bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua