Semoga tulisan ini mewakilkan. Pertemuan di mana tak dapat
terulangkan. Sesekali mengingatkan sosok yang amat tidak nggenah di via daring.
Supel yang amat nyata adanya di dunia nyata. Kita pernah bertemu di saat sedang
melakukan kegiatan. Selebihnya tidak. Berlari pernah tetapi tidak saling
merasa. Mencari pernah tetapi sayang, tak tertemukan. Alasannya hanya satu, tak
mau membuatmu kecewa. Bahkan di saat itu saya merelakan diri berkeliling. Demi berlari lebih kencang, sepatu pinjaman itu saya tinggal dengan acuhnya dengan
alasan, tidak mau membuatmu kecewa.
Menunggu saja dengan beribu pertanyaan, maka jangan pernah
menunggu saya atau kamu itu berlaku.
Saya menikmati kesendirian tanpa kesibukan “jelei” layaknya
orang pacaran. Sibuk mikir ketemuan, janjian, ngasih barang, percakapan penuh
cinta versi mereka, dan membalas. Tertinggalnya kamu semoga berkah. Dijadikan pelajaran
untuk masa esok bahwa saya pernah mengenalmu tanpa dinoda rasa itu. Entah menahan
seberat apa dibanding harus melawan arus hawa nafsu yang diiringi zaman. Tanpa tergores
rasa itu. Sempurna sudah bak bulan purnama bulat penuh di malam hari yang siap
menghujamkan silaunya bagi siapa pun yang mau melihat dengan makna.
Tuhan Tahu, Tuhan Tahu, sedang saya tidak. Saya hanya
meminta keridhoan, saat bertemu, di perjalanan, dan hingga akhir menutup mata.
Komentar
Posting Komentar