Langsung ke konten utama

*RASA


Semoga tulisan ini mewakilkan. Pertemuan di mana tak dapat terulangkan. Sesekali mengingatkan sosok yang amat tidak nggenah di via daring. Supel yang amat nyata adanya di dunia nyata. Kita pernah bertemu di saat sedang melakukan kegiatan. Selebihnya tidak. Berlari pernah tetapi tidak saling merasa. Mencari pernah tetapi sayang, tak tertemukan. Alasannya hanya satu, tak mau membuatmu kecewa. Bahkan di saat itu saya merelakan diri berkeliling. Demi berlari lebih kencang, sepatu pinjaman itu saya tinggal dengan acuhnya dengan alasan, tidak mau membuatmu kecewa.
Menunggu saja dengan beribu pertanyaan, maka jangan pernah menunggu saya atau kamu itu berlaku.

Saya menikmati kesendirian tanpa kesibukan “jelei” layaknya orang pacaran. Sibuk mikir ketemuan, janjian, ngasih barang, percakapan penuh cinta versi mereka, dan membalas. Tertinggalnya kamu semoga berkah. Dijadikan pelajaran untuk masa esok bahwa saya pernah mengenalmu tanpa dinoda rasa itu. Entah menahan seberat apa dibanding harus melawan arus hawa nafsu yang diiringi zaman. Tanpa tergores rasa itu. Sempurna sudah bak bulan purnama bulat penuh di malam hari yang siap menghujamkan silaunya bagi siapa pun yang mau melihat dengan makna.


Tuhan Tahu, Tuhan Tahu, sedang saya tidak. Saya hanya meminta keridhoan, saat bertemu, di perjalanan, dan hingga akhir menutup mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua