Langsung ke konten utama

The Confused


Tak kuasa menahan rasa ini. Ingin saya luapkan seluruhnya tanpa tersisa, lebih baik setidaknya, tidak terlalu menukik pikiran dan hati. Sudah hampir enam tahun sejak perjanjian kader persyarikatan. Perasaan baru kemarin saya menandatangani kertas putih itu dengan tinta hitam. Tanda tangan yang sebetulnya saya ragu akibat bayangan yang terlintas menjadi musyrifah adalah hal yang mudah dibanding harus membayar SPP dengan biaya full. Kini waktunya janji itu mendekat, rasa mencekam mulai terasa. Tetangga yang haji, guru yang haji pada tahun 1439H ini, satu persatu saya temui. Salah satu keinginan yang tertera adalah saya dapat kuliah di al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 2019. Saat bulik haji waktu saya kelas tiga SD pun saya juga pernah meminta beliau untuk mendoakan azam saya tersebut.

Adin, kawan KP seperjuangan saya menuturkan nformasi yang sempat melemahkan azam saya. Tidak boleh “Skip Musyrifah.” Dia sudah berkonsultasi itu dengan guru BK, bahkan mereka sempat mengkalkusikan biaya yang harus kami tanggung jikalau kami membatalkan musyrifah. Beasiswa KP enam tahun itu, sekitar 32.000.000 rupiah. Duit dari mana? Uang untuk membeli hp, laptop, atau motor saja masih takut merepotkan orang tua. Apalagai uang yang begitu jutanya. Saking frustasinya saya pernah membayangkan hal konyol yang mustahil terjadi. Ada yang melamar saya dan berani membayarkan musyrifah saya. Tetapi itu hanyalah sebatas dongeng belaka. Entah ke depannya.

Lobi dan nego kepada pihak madrasahi itu wajib hukumnya untuk dilaksanakan. Mentahan bukan selera saya.

*sepulang tahassus,
Ahad, 05-08-18

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua