Langsung ke konten utama

***Rasa jurdzul


Saya teramat baper ketika di sana. Apalagi saat nobar itu lho malem Sabtu sebelum pembagian hadiah. Bagaimana, tidak, tokoh yang ada di dalamnya mirip banget sama orang yang saya ada rasa. Tokohnya namanya Hamid. Tubuhnya, wajahnya, kepribadiannya, dan suara merdu hafalannya. Semoga dia mendapatkan yang lebih kelak. Bukan saya dan jangan saya. Ketika saya tanya dia tentang film tersebut, belum saya buka wa darinya, saya sudah hapus karena jawaban yang amat singkat dan menjaga saya dari ikhtilat chat. Saya hapus seluruh chat dengan otomatis. Serta hp saya tidak bisa menyimpan nomor wa. Secara langsung, saya tidak pernah berhubungan dengan dia kecuali dia yang pertama/duluan. Semoga Allah selaluenjaga perasaan kita masing-masing. Berharap hanya Dia. Kali itu, fikiran saya kacau sekacau-kacaunya. Mana ada yang namanya Alvin kelas 5 SD yang pas itu saya sempat ketemu di angkringan dan memoto dirinya. Dia mirip sekali dengan kawan yang saya ada rasa. Dia sangat pintar murottal. Tak kira rekaman ternyata suaranya!!!!
Saya juga sempat kenal dengan nastri, santriwati yang mirip dengan perempuan yang disukai oleh yang saya ada rasa. Seolah-olah Allah tak mengizinkan saya untuk berhenti mengingatnya. Membuangnya jauh-jauh di Kulonprogo. Tetapi itu tak dapat disangka. Justru malah lebih parah. Atauu mungkin saya yang terlalu baper level high.
Salam rasa
Di panti asuhan Tuksana
Buat dia yang saya ada rasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua