Langsung ke konten utama

jurdzul/2

Hari Selasa, 21 Agustus 2018

Solat tahajud dengan bangun sendiri tanpa bantuan tim bangunin dari panti. Alhamdulillah, bangun! Prestasi! Tingkatkan!! Diimamin mba Diana yg mirip sama anak Qur'an corner. Itu lho si Ajeng 95. Kemudian maem sahur, solat subuh di masjid yg jaraknya sekitar 150 meter, seberang jalan. Bakda subuh, terdapat ceramah yang saya sendiri tidak terlalu mendengarkan. Mah tidur๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘. Di akhir, oleh pak jarsono kami ditawari untuk kenalan di tengah jamaah santri. 3 teman lain masih belum bisa bergabung solat. Pas puasa, saya dan fadhl  bantu2 Bu Jum di TK. Hari itu lebih banyak nganggur jadi lupa atau sengaja melupakan untuk membaur. Menghias TK, kemudian ngetik, ngeprint fotocopy, terus nyari folio. Naik sepeda dengan jalannya yg curam membuat saya seperti orang yg tak kenal putus asa. Trabas jalan, sampe ketemu barang yg emang jarang. Ok! Sore kita buka bersama di aula dak-red sambil mengenalkan diri beserta agenda yg bakal kita lakuin di sana. Solat maghribnya masbuk dilanjut dengan solat isya'. Malam harinya kami takbir keliling. Hal yang paling seru adalah ketika yg anak laki2 pada sembur obor pake solar dari mulutnya sendiri. Pertunjukan yang luar biasa. Mba Dita yg ngingetin adiknya si arifqi, sang ketua santri putra. Ckckck. Sebelum tidur, kami briefing untuk pertama kali bertempat di pendopo panti.
Night full of peace kawan!
Brambangi, rek!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua