Tentang rencana Allah yang Allah rancang untuk setiap hamba.
Tentang perjalanan di jalan Allah yang memberatkan namun nikmat.
Sekolah di Mua’llimaat. Dari akar bahasanya saja
pendidik intinya. Dituntut dapat
berorganisasi demi menolong agama Allah. Sepertiga malam terakhir pada malam
hari libur, Jumat misalnya, kenapa hanya sedikit yang bangun untuk mengingat-Mu?
Jangan sampai, jalan yang telah saya ambil malah menjadi akar kemerosotan.
Beruntungnya Allah mempertemukan saya dengan kelas tahfidz. Itulah cara Allah
mencintai dan menjaga saya, pikir saya. Dengan pemberian rezeki dan karunia
berupa lingkungan yang baik.
Sukakah saya akan hal semacam ini? Ya, teramat suka. Kelas
tahfidz atau yang sering kami sebut dengan kelas tahassus ini menjadi semacam
nur yang terlihat bagai oase di gurun yang gersang nan tandus. Menyilaukan bak
permata di dasar laut yang gelap. Menjadi honai di tengah bangunan Muallimaat. Kali
ini dengan mata kepala saya sendiri, saya menjadi saksi murid awal kelas
tahassus dengan gemblengan yang luar biasa. Dengan Ustadzah Nur Khasanah yang
wira-wiri memperjuangkan dibentuknya kelas ini. Menjadi pencerahan tahsin di
sekujur murid yang tak dapat membaca al-Quran dengan benar, tak terkecuali
saya. Entah apa jadinya jika saya tak memasuki kelas ini. Dapat dibilang
mungkin enol (0).
Tetapi ada rasa kecewa dalam diri saya. Mengapa tak sedari
dulu kelas tahassus itu diadakan. Waktu itu saya kelas lima/XI Aliyah. Asrama
Siti Fatimah Barat. Siapapun yang hendak mengikuti monggo, syaratnya adalah
istiqomah. Bagaimana, tidak? Kami pulang jam empat sore. Masuk kelas tahfidz di
madrasah setiap hari sabtu hingga selasa dari pukul lima sore, kemudian pulang
setelah solat isya’ berjamaah sekitar jam setengah Sembilan lalu pulang ke
asrama masing-masing apalagi program jurusan MAK pun pada waktu bakda maghrib
hingga jam delapan malam ada pelajaran malam setiap hari yang sama seperti
jadwal tahassus kecuali hari Selasa. Itu artinya, saya harus setor sebelum pelajaran
atau setelah pelajaran malam.
Di awal masuk sekitar seratus santri lebih ada di dalam aula
untuk mengikuti tahassus yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelas tahsin
dan tahfidz. Yang tahsin artinya mereka harus memperbaiki bacaan terlebih
dahulu baru boleh menghafal sedangkan untuk kelas tahfidz wajib setor juz 30
dulu baru boleh hafalan juz lain. Alhamdulillah, saya diterima di kelas
tahfidz. Saya sudah pernah menghafal juz 30 berkali-kali. Di SD, MTs juga.
Cepat dan mudah dugaan saya. Begitu menggerutunya saya, juz 30 saya selesaikan
dalam tempo tiga bulan. Tetapi tak apa, karena saya bisa mendapatkan yang
mutqin disertai dengan tajwid dan makharijul huruf yang sesuai dengan mencucu
dan ngilunya bibir ini ditambah dengan hafal tulisan arabnya.
Komentar
Posting Komentar