Langsung ke konten utama

TAHASSUS/1



Tentang rencana Allah yang Allah rancang untuk setiap hamba. Tentang perjalanan di jalan Allah yang memberatkan namun nikmat. 

Sekolah di Mua’llimaat. Dari akar bahasanya saja pendidik  intinya. Dituntut dapat berorganisasi demi menolong agama Allah. Sepertiga malam terakhir pada malam hari libur, Jumat misalnya, kenapa hanya sedikit yang bangun untuk mengingat-Mu? Jangan sampai, jalan yang telah saya ambil malah menjadi akar kemerosotan. Beruntungnya Allah mempertemukan saya dengan kelas tahfidz. Itulah cara Allah mencintai dan menjaga saya, pikir saya. Dengan pemberian rezeki dan karunia berupa lingkungan yang baik.

Sukakah saya akan hal semacam ini? Ya, teramat suka. Kelas tahfidz atau yang sering kami sebut dengan kelas tahassus ini menjadi semacam nur yang terlihat bagai oase di gurun yang gersang nan tandus. Menyilaukan bak permata di dasar laut yang gelap. Menjadi honai di tengah bangunan Muallimaat. Kali ini dengan mata kepala saya sendiri, saya menjadi saksi murid awal kelas tahassus dengan gemblengan yang luar biasa. Dengan Ustadzah Nur Khasanah yang wira-wiri memperjuangkan dibentuknya kelas ini. Menjadi pencerahan tahsin di sekujur murid yang tak dapat membaca al-Quran dengan benar, tak terkecuali saya. Entah apa jadinya jika saya tak memasuki kelas ini. Dapat dibilang mungkin enol (0). 

Tetapi ada rasa kecewa dalam diri saya. Mengapa tak sedari dulu kelas tahassus itu diadakan. Waktu itu saya kelas lima/XI Aliyah. Asrama Siti Fatimah Barat. Siapapun yang hendak mengikuti monggo, syaratnya adalah istiqomah. Bagaimana, tidak? Kami pulang jam empat sore. Masuk kelas tahfidz di madrasah setiap hari sabtu hingga selasa dari pukul lima sore, kemudian pulang setelah solat isya’ berjamaah sekitar jam setengah Sembilan lalu pulang ke asrama masing-masing apalagi program jurusan MAK pun pada waktu bakda maghrib hingga jam delapan malam ada pelajaran malam setiap hari yang sama seperti jadwal tahassus kecuali hari Selasa. Itu artinya, saya harus setor sebelum pelajaran atau setelah pelajaran malam. 

Di awal masuk sekitar seratus santri lebih ada di dalam aula untuk mengikuti tahassus yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelas tahsin dan tahfidz. Yang tahsin artinya mereka harus memperbaiki bacaan terlebih dahulu baru boleh menghafal sedangkan untuk kelas tahfidz wajib setor juz 30 dulu baru boleh hafalan juz lain. Alhamdulillah, saya diterima di kelas tahfidz. Saya sudah pernah menghafal juz 30 berkali-kali. Di SD, MTs juga. Cepat dan mudah dugaan saya. Begitu menggerutunya saya, juz 30 saya selesaikan dalam tempo tiga bulan. Tetapi tak apa, karena saya bisa mendapatkan yang mutqin disertai dengan tajwid dan makharijul huruf yang sesuai dengan mencucu dan ngilunya bibir ini ditambah dengan hafal tulisan arabnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua