Langsung ke konten utama

jurdzul/3

Hari Rabu, 22 Agustus 2018

Sholat tahajud sendiri kali ini, tak terprogram. Kebiasaan di asrama, mencuci dini hari kulakukan juga  mandi sebelum subuh. Setelah solat subuh di masjid, kami bersiap untuk solat Iedul Adha. Agak ribut pagi2 seorang yg bernama Nida. Ya, gimana, ya. Yang namanya menunggu itu tidak pernah enak dan selamanya gak enak. Maka, pastikan kamu jangan pernah meminta untuk ditunggu atau membiarkan orang menunggu. Naik mobil bersama anak panti di tanah lapang milik SDN kalikutuk. Mengamati masyarakat yang bepencar2 solat isinya. NU di masjid kecilnya, LDII di masjid khususnya, macem2lah. Kemudian penyembelihan hewan qurban di masjid Al-Islam. Memotong daging sampai duhur, lalu solat berjamaah diteruskan dengan makan siang lauk daging yang telah diolah menjadi kreni dan gule. Alhamdulillah. Siangnya kami istirahat, sore harinya memasak daging itu jadi gule. Saat solat Maghrib di masjid, mba Rahmah, yang sudah alumni, memberikan kami kesempatan untuk memberi informasi terkait agenda kami besok. Bakda isya' ada tabligh Akbar dari putm sampai jam 10. Saya mendapat dorprize karena mau maju menjawab kuis yg diberikan. Hehehe. Beberapa alumni Muallimaat kami temui. Pulang dengan diakhiri rapat di kamar.
Aye2 oye2 uye2
Wedus prengus
Sapi qawi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua