Sama seperti sebelumnya bahwa mengenal lawan jenis adalah fitrah. Tetapi konteksnya akan berbeda saat bersinggungan dengan aturan syariat sehingga dapat terkontrol. Kami yang dengan label pondoknya tak memungkiri bahwa kami kenal dengan anak sebrang. Sejak kapan itu dimulai? Entah. Hingga kelas 1 SMA hal itu tak pernah saya lakukan sampai saya dikenalkan oleh organisasi 2, termasuk organisasi daerah. Perlahan banyak yang saya temui, tak terbendung malah. Cinlok pun pernah saya rasakan. Ingin rasanya tak dikenal pun mengenal. Tetapi apakah korban seperti saya yang menunaikan tanggung jawab lebih buruk dibanding dengan menreka yang Istiqomah dengan prinsipnya? Atau sama baiknya? Sebaik-baik jawaban ada pada keduanya yang saling mentolerir antarkeduanya. Jawaban yang logis serta tidak memihak.
Seperi kawan saya yang berinisial F.N yang dia lebih mendera tahfidznya. Dia berpendapat bahwa perempuan itu ada kalanya dibutuhkan saat urusan tertentu yang tak mungkin dilakukan oleh laki-laki, toh dia juga belum menikah. Ungkapan tersirat bahwa jika kelak si F.N punya istri, pengennya dirumah aja. Jangan sampai berikhtilat. Pun adik kelas yang berinisial Z.I.M yang merasakan berkecimpung di dunia itu. Merasakan sebuah nikmatnya keluarga di sana. Dia berkata; "Prinsip yang tak salah, tetapi sejujurnya aku iri pada mereka. Aku ingin prinsip itu dijabarkan kepadaku. Aku pun ingin pemahaman itu ada pada diriku."
Maka dengan beberapa petunjuk dari Al-Quran kami diarahkan. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab di dalam amar makruf nahi Munkar, sama-sama memiliki tanggung jawab untuk berdakwah, menyeru ke jalan-Nya.
@pikiranygtersimpanlama
Seperi kawan saya yang berinisial F.N yang dia lebih mendera tahfidznya. Dia berpendapat bahwa perempuan itu ada kalanya dibutuhkan saat urusan tertentu yang tak mungkin dilakukan oleh laki-laki, toh dia juga belum menikah. Ungkapan tersirat bahwa jika kelak si F.N punya istri, pengennya dirumah aja. Jangan sampai berikhtilat. Pun adik kelas yang berinisial Z.I.M yang merasakan berkecimpung di dunia itu. Merasakan sebuah nikmatnya keluarga di sana. Dia berkata; "Prinsip yang tak salah, tetapi sejujurnya aku iri pada mereka. Aku ingin prinsip itu dijabarkan kepadaku. Aku pun ingin pemahaman itu ada pada diriku."
Maka dengan beberapa petunjuk dari Al-Quran kami diarahkan. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab di dalam amar makruf nahi Munkar, sama-sama memiliki tanggung jawab untuk berdakwah, menyeru ke jalan-Nya.
@pikiranygtersimpanlama
Komentar
Posting Komentar