Langsung ke konten utama

Benar-Binar/2

Sama seperti sebelumnya bahwa mengenal lawan jenis adalah fitrah. Tetapi konteksnya akan berbeda saat bersinggungan dengan aturan syariat sehingga dapat terkontrol. Kami yang dengan label pondoknya tak memungkiri bahwa kami kenal dengan anak sebrang. Sejak kapan itu dimulai? Entah. Hingga kelas 1 SMA hal itu tak pernah saya lakukan sampai saya dikenalkan oleh organisasi 2, termasuk organisasi daerah. Perlahan banyak yang saya temui, tak terbendung malah. Cinlok pun pernah saya rasakan. Ingin rasanya tak dikenal pun mengenal. Tetapi apakah korban seperti saya yang menunaikan tanggung jawab lebih buruk dibanding dengan menreka yang Istiqomah dengan prinsipnya? Atau sama baiknya? Sebaik-baik jawaban ada pada keduanya yang saling mentolerir antarkeduanya. Jawaban yang logis serta tidak memihak.

Seperi kawan saya yang berinisial F.N yang dia lebih mendera tahfidznya. Dia berpendapat bahwa perempuan itu ada kalanya dibutuhkan saat urusan tertentu yang tak mungkin dilakukan oleh laki-laki, toh dia juga belum menikah. Ungkapan tersirat bahwa jika kelak si F.N punya istri, pengennya dirumah aja. Jangan sampai berikhtilat. Pun adik kelas yang berinisial Z.I.M yang merasakan berkecimpung di dunia itu. Merasakan sebuah nikmatnya keluarga di sana. Dia berkata; "Prinsip yang tak salah, tetapi sejujurnya aku iri pada mereka. Aku ingin prinsip itu dijabarkan kepadaku. Aku pun ingin pemahaman itu ada pada diriku."

Maka dengan beberapa petunjuk dari Al-Quran kami diarahkan. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab di dalam amar makruf nahi Munkar, sama-sama memiliki tanggung jawab untuk berdakwah, menyeru ke jalan-Nya.

@pikiranygtersimpanlama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua