Sebahagian menginginkan pergaulan menyenangkan seperti
remaja SMP-SMA kebanyakan. Menyalahkan notabene pondok sebagai judge terbesar
supaya bisa menyalahi aturan. Tak mau tahu, asal bisa ketemuan, melangsungkan
perbuatan yang menafsukan hati sekaligus menggelisahkan. Bahkan ada yang pernah
menceritakan statement mengenai hal ini. Berikut ceritanya;
“Mbak, kenapa sih, kita nggak dibolehin deket sama cowok.
Ya, deket aja gitu. Padahal di sekolah-sekolah lain kayak gitu biasa lho.
Sekolah islam yang campur, cowok-cewek juga banyak yang deket. Pas di SD dulu,
ya mbak, temen saya kebanyakan cowok. La, di sini? Deket sama cowok malah
dikira pacaran. Padahal itu emang kebutuhan saya. Nggak bisa kalo sepenuhnya
tidak berhubungan sama cowok. Sekolah ini yang cuma ngelarang. Aneh. Kenapa,
sih, mbak?”
Pikiran sesat seorang santri begitu mendera analisis saya sebagai
anak MAK. Saya jawab dengan tenang dan pasti. Bahwasannya, semakin bertambahnya
umur seseorang, semakin naiknya fase pertumbuhan seseorang, maka secara fisik
akan berbeda. Begitupun pemikiran, dan itu pasti jika orang itu adalah remaja
yang normal. Di mana ketertarikan antara keduanya adalah hal yang fitrah
terjadi. Cerita dari guru saya dengan teman laki-laki yang begitu mencengangkan
saya keluarkan sebagai senjata;
Teman: Gur, kandhani kae karo konco-koncumu, nek nganggo
klambi ki ojo ketet-ketet
Guru: Tumben kamu bilang gitu. La, bukannya kamu suka, ya?
Teman: Suka, apanya? Tersiksa tahu.
Bagaimana pendapatnya? Begitu ekstrimnya sang Teman berucap.
Menandakan bahwa pergaulan antar laki-laki dan perempuan harus diatur dengan
syari’at-Nya. Semoga pemahaman kita tak bertaqlid buta, tetapi taqlid secara
rasional. Tak berprinsip nafsu tetapi berprinsip maslahat.
bangunan Emgaat
Saat ngetest CPR 2018/2019
Komentar
Posting Komentar