Langsung ke konten utama

Dusturuna



Ayat demi ayat saya hafal. Lebih sering tidak diresapi dari pada iya. Kualitas hidup setelah bersinggungan dengan al-Quran, kitalah sebagai eksperimennya. Akhlak berubah berapa persen? Padahal itu al-Quran, bukan kalimat biasa. Kalimat yang membuat kaum musyrikin bersujud automatically walaupun setelahnya mereka mengingkarinya alias gengsi dengan perbuatan mereka. Kalimat di mana Umar betekuk lutut, bahkan ketika menantang dengan pedangnya siapa yang berani mengatakan nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Saya seharusnya juga begitu. Tak boleh kalah. Sudah enam belas tahun lebih saya hidup. Mencapai titik tertinggi memang tak pernah tercapai karena definisi tinggi masing-masing orang berbeda. Maka untuk menjalani hidup, saya harus memiliki sikap “menikmati,” sehingga tak jadi kesia-siaan.

Setiap manusia harus tahu bahwa Islam dan al-Quran itu adalah pelangkap hidup bagi jiwa yang lara, sengsara, dan kelaparan. Menyuguhkan kenikmatan soul terbesar yang pernah ada. Karena datang dari-Nya, Tuhan Semesta Alam.

Ya Allah, rahmatilah aku dengan al-Quran, dan jadikanlah al-Quran itu pemimpin, petunjuk, dan rahmat. Ya, Allah, ingatkanlah aku terhadap apa-apa yang aku lupa dari al-Quran, dan ajarilah kami dari apa-apa yang aku tak ketahui tentangnya. Berikanlah aku karunia untuk dapat selalu berkelindan dengannya pada setiap malam dan ujung siang. Serta jadikanlah al-Quran itu sebagai hujjah (persaksian) bagiku, Wahai Tuhan Semesta Alam.

 Sore hari @masjid gedhe
18 April 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua