Langsung ke konten utama

The Small Probability

Kemungkinan Terkecil.



Nek dipikir-pikir, ya ngapain, ya bilang-bilang ke anda tentang sesuatu yang bersangkutan dengan saya. Bukankah, saya sudah menaruh rasa pesmistis terhadap dia? Hargai saja perjuangan dia yang tidak menggubris saya. Karena memang sudah sepatutnya kalau kita suka itu jaga jarak. Jikalau pertahanan dalam diri saja sudah tidak kokoh, hancurlah dirimu sehancur-hancurnya. Tidak jelas mana bagian untuk Allah! Dan dengan menjaga jarak pula, dirinya sama kecil kemungkinannya dengan yang tiada maksud kita jaga jarak. Orang umum maksudnya. Toh belum ada mitsaqan ghalizan. Selagi kemungkinan masih kecil, njuk ngopo mau saling tukar informasi? Hati-hati, fasiq namanya.

Untuk keputusan tak bermain facebook dan Instagram apakah sudah diazamkan dan ditawakkalkan. Kau masih sering log in log out. Bismillah, Nid. Hanya soal waktu saya dapat melaksanakannya. Unfaedah padahal udah dewasa. Menjalani hidup sesepi ini akan mengantarkanmu pada kedamaian haqiqi, ketenangan abadi. Kau liat storynya baper masyaa allah. Kau chat-an dengan lawan jenis, bagaimana hafalanmu? Kau jaga Quran, dan Quran memaksa tuk menjaga saya. Dan saya patuh. Patuh, sepatuh burung ababil yang diperintah Allah tuk menjatuhkan batu neraka kepada mereka, pasukan Abrahah. Dan saya terpaksa. Terpaksa, seterpaksa Nabi Musa yang harus meninggalkan Tuan Gurunya karena ketidaksabarannya—ulahnya.

Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallahi. Innallaha yuhibbul mutawakkilin. Maka apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka berserah urusan kepada-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang menyerahkan urusannya pada Allah semata.

Yusuf yang dengan gigihnya mengendalikan nafsu terhadap Zulaikha yang piawai dalam menggoda. Godaan sekarang macamnya banyak sekali, Ya Allah. Media sosial juga. Dan ternyata saya sudah melek. Saya sudah membuka mata. Jalani, Nid! Bismillah. Bukti dari Tuhanmu yang mana lagi yang belum kau, lihat? Tulisan saya yang lalu-lalu akankah jadi tulisan semata tanpa aksi tuk buktikan? Tentang madrasatul ula itu. Tentang kondisi psikologi remaja perempuan itu? Tentang gontor itu?

Bersediakah saya meninggalkan? Tinggakan!? Sungguh tinggalkan! Demi-Nya. Demi penjagaan kepada-Nya. Demi bebasnya hati dari yang tidak-tidak, dan Demi Waktu yang dengan itu Dia bersumpah. Serta Demi Jiwa yang selalu menyesal. Sudah berapa kali saya menderita penyakit hati, dan sumbernya selalu dari media itu. Selagi kau saya belum bisa mengontrolnya, selagi saya masih kekanak-kanakan dalam menggunakannya, simpan saja dahulu. Akan ada masanya. Daripada sakit hati mulu? Bikin nangis mulu? Ah, malu untuk mengakuinya, tetapi begitulah kenyataannya.

Teman-teman saya hebat-hebat. Banyak yang tak masuk dalam lobang seperti ini. Tak, apa. Akan ada masanya. Akan ada hasilnya, dan akan ada dampak pada masing-masing. Btw, video editor cukup menyenangkan—walau rong iso. Keep trying. Menjadi musyrifah besok pasti lebih seru lagi. Harapannya semakin tidak halu, menye, bucin, dan terangkat sudah penyakit modern yang lain.

laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim

--syawwal, 1440H

---carikesibukandemi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua