Kemungkinan Terkecil.
Nek dipikir-pikir, ya ngapain, ya
bilang-bilang ke anda tentang sesuatu yang bersangkutan dengan saya. Bukankah,
saya sudah menaruh rasa pesmistis terhadap dia? Hargai saja perjuangan dia yang
tidak menggubris saya. Karena memang sudah sepatutnya kalau kita suka itu jaga
jarak. Jikalau pertahanan dalam diri saja sudah tidak kokoh, hancurlah dirimu
sehancur-hancurnya. Tidak jelas mana bagian untuk Allah! Dan dengan menjaga
jarak pula, dirinya sama kecil kemungkinannya dengan yang tiada maksud kita
jaga jarak. Orang umum maksudnya. Toh belum ada mitsaqan ghalizan. Selagi
kemungkinan masih kecil,
njuk ngopo mau saling tukar informasi? Hati-hati, fasiq namanya.
Untuk keputusan tak bermain
facebook dan Instagram apakah sudah diazamkan dan ditawakkalkan. Kau masih
sering log in log out. Bismillah, Nid. Hanya soal waktu saya dapat
melaksanakannya. Unfaedah padahal udah dewasa. Menjalani hidup sesepi ini akan
mengantarkanmu pada kedamaian haqiqi, ketenangan abadi. Kau liat storynya baper
masyaa allah. Kau chat-an dengan lawan jenis, bagaimana hafalanmu? Kau jaga
Quran, dan Quran memaksa tuk menjaga saya. Dan saya patuh. Patuh, sepatuh
burung ababil yang diperintah
Allah tuk menjatuhkan batu neraka kepada mereka, pasukan Abrahah. Dan saya
terpaksa. Terpaksa, seterpaksa Nabi Musa yang harus meninggalkan Tuan Gurunya
karena ketidaksabarannya—ulahnya.
Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallahi.
Innallaha yuhibbul mutawakkilin. Maka apabila kamu sudah membulatkan tekad,
maka berserah urusan kepada-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang
menyerahkan urusannya pada Allah semata.
Yusuf yang dengan gigihnya
mengendalikan nafsu terhadap Zulaikha yang piawai dalam menggoda. Godaan sekarang
macamnya banyak sekali, Ya Allah. Media sosial juga. Dan ternyata saya sudah
melek. Saya sudah membuka mata. Jalani, Nid! Bismillah. Bukti dari Tuhanmu yang
mana lagi yang belum kau, lihat? Tulisan saya yang lalu-lalu akankah jadi
tulisan semata tanpa aksi tuk buktikan? Tentang madrasatul ula itu. Tentang kondisi
psikologi remaja perempuan itu? Tentang gontor itu?
Bersediakah saya meninggalkan?
Tinggakan!? Sungguh tinggalkan! Demi-Nya. Demi penjagaan kepada-Nya. Demi
bebasnya hati dari yang tidak-tidak, dan Demi Waktu yang dengan itu Dia
bersumpah. Serta Demi Jiwa yang selalu menyesal. Sudah berapa kali saya
menderita penyakit hati, dan sumbernya selalu dari media itu. Selagi kau saya belum
bisa mengontrolnya, selagi saya masih kekanak-kanakan dalam menggunakannya,
simpan saja dahulu. Akan ada masanya. Daripada sakit hati mulu? Bikin nangis
mulu? Ah, malu untuk mengakuinya, tetapi begitulah kenyataannya.
Teman-teman saya hebat-hebat. Banyak
yang tak masuk dalam lobang seperti ini. Tak, apa. Akan ada masanya. Akan ada
hasilnya, dan akan ada dampak pada masing-masing. Btw, video editor cukup
menyenangkan—walau rong iso. Keep trying. Menjadi musyrifah besok pasti lebih
seru lagi. Harapannya semakin tidak halu, menye, bucin, dan terangkat sudah
penyakit modern yang lain.
laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim
laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim
--syawwal, 1440H
---carikesibukandemi
Komentar
Posting Komentar