Penjelasan Terbaik
Lulusan pondok. Lantas
apa masalahnya? Di mana letak salahnya? Presepsi orang pandai agama karena
sudah ada pembawaanya dari pondok dan anak yang lain dugal masih menjamur di
mana-mana. Ungkapan, “pantas saja dia bisa. Pantas saja alim, dari pondok”.
Hei, apa iya selalu seperti itu? Banyak yan sekolahnya di negeri tetapi tetap
solih. Banyak pula yang lulusan pondok tetapi dugal. Dikira menjalani hidup itu
harus dari penilaianmu?
Saya di rumah saja.
Berkreasi sedapat saya tuk mengabdi. Dan berikut beberapa alasan saya, di sini.
Mendahulukan kepentingan umat seperti mottomu.
Entah umat yang mana. Langsung seluruh umat dunia, kafir, atau muslim? Bukankah
semuanya harus dimulai dari yang kecil? Mentalitas saya harus selalu diasah.
Takutan, nggak beranian, pengecut, pecundang. Padahal amat menderitalah para
Rasul-Rasul itu. Apa, salah, menjadi penyambung kenabian? Merasakan seperseribu cobaan dibanding
beliau-beliau?
Adalah melegakan
balasan celutuk saya yang isinya tentang adakah pemuda pemudi yang sekiranya
datang ke pernikahan saya besok? Saya di pondok terus kemarin, ada yang
nikahan, saya tak sempat jadi sinom. Apalagi membantu. Jawabannya, “ealah, Da,
kok kowe mikir ketok kono. Woong wes ono jatahe dhewe-dhewe, kok yo.” Nice nian
jawabannya. Bijak. Benar. Ada jatahnya sendiri masing-masing orang. Ketika yang
dirintis sudah mulai baik dan kau harus pergi, biarlah kami yang masih di sini
yang mengurusi. Kau ada jatah di tempat lain. Kalau tak berjalan kembali,
adalah kesalahan kami yang tak mengurus padahal sudah diamanahi. “nek balek yo
tetep ngeneki, Da. Mah dadi manfaat je.”
Alhamdulillah. Lega
mendengar perkataannya.
-liatvideobangtere
--ttgkepenulisan
---manchapp
Komentar
Posting Komentar