Dan Assalamualaikum, Hari Selasa! Mabrukun fiihi.
Pakdhe dan budhe masih saja berangkat ke pasar. Rajin nian. Tak seperti saya
yang tepar lagi sehabis solat subuh. Banyak pembeli mengincar ayam tuk dimasak
di hari menjelang lebaran itu, sayang kalau tak dimanfaatkan.
Saya mendapatkan curahan hati seseorang mengenai
hidupnya yang lumayan berliku. Tak sadarkah bahwa kami salah, dia lawan jenis
saya! Tanggapan tak boleh dari sekadar kawan yang senantiasa mendengar dan
memperhatikan supaya melegakan. Karena toh, memang sebatas teman. Toh yang
dinantinya adalah hafidzah dari Magelang. Ehe. Cukuplah Allah yang mengetahui
isi hati seseorang.
Bakda duhr, saya ke rumah Halimah di Bambanglipuro.
Bercengkrama asyik dengan ibunya. Bobok siang mepet ashar satu ranjang dengan
Halimah. Padahal budhe Tin berpesan, kalau ngantuk, waktunya bentar lagi solat,
tunda dulu ngantuknya, solat, baru deh tidur. Kalau sudah terlanjur tidur
sedang belum solat, harus dibangunkan. Mau bagaimanapun itu, saat itu juga kudu
bangun. Parah, mah, kita. Terlalu banyak mikir, kagak dilaksanain dah.
Pengamalannya kurang.
Ditawari buka di sana –Red Himmatu. Membersamai
anak-anak yatim. Tetapi dikhawatirkan terlalu malam, saya langsung pamit pulang
ke rumah dengan banyak perlawanan sana-sini dan dapat sangu akhirnya dari
ibunya Halimah alias dibolehin pulang. Pulang ke rumah ibuk waktu itu. Buka
pertama bersama ibuk di akhir Ramadhan ini. Mengajak Amin untuk takbiran dan
bergegas ke kidul.
Kami, remaja dan anak-anak, takbir keliling
menggunakan kol. Ada hadiah utntuk kol dengan penumpang yang bertakbir paling
keras nan indah. Kol saya di awal saja, di akhir, jam setengah sepuluh, sudah
pada menutup mata dan lemes. Sesampainya kami di lapangan alias pemberhentian
kol, snack dibagikan. Menit demi menit berlalu, jebul, anak-anak sudah pada
pulang. Hadiah ready tetapi telat dibagi. Juga kurang apresiasi dan gelak basi.
Dititipkan ke remaja pendamping kol yang menang.
Saya menangis di malam itu sekalian bersimpuh sujud.
Meresapi makna takbir yang sesungguhnya.
1. Selalu
Allah yang Maha Besar daripada hawa nafsumu!
2. Allah
Maha Besar mau sebesar apa usaha atau kemampuanmu, Dia selalu lebih besar.
3. Allah
Maha Besar. Kuasa sekali menjadikan segala sesuatu. Apa yang akan memimpamu di
kemudian hari, Allah yang berkuasa menentukan.
4. Allah
Maha Besar. Kebesarannya, menjadikan tiada pujian teragung satupun diberikan
kecuali hanya untuk-Nya. Pemilik segala pujian.
5. Isi
sendiri, kawan....
Testimony takbiran selalu saja banyak yang
pelafalannya salah. Silakan dicek sendiri. Rata-rata keliru pada bagian
walillahil khamd. Bukan walillahilham atau walilah ilham. Wrong yaaa! Yang
benar menggunakan huruf kha (di hijaiyah, urutannya habis huruf jim) dan kalau
mau dimatikan kalimat terakhir, maka harus ada qalqalahnya atau jika tidak, dibaca
walillahil khamdu. Harokat dhommahnya tertap dibaca.
-ramelumasakmenthok
--dijalankayakketemutemenSD
---rembulantenggelamdiwajahmu
Komentar
Posting Komentar