Langsung ke konten utama

Tekbir Syawal 1440H


Dan Assalamualaikum, Hari Selasa! Mabrukun fiihi. Pakdhe dan budhe masih saja berangkat ke pasar. Rajin nian. Tak seperti saya yang tepar lagi sehabis solat subuh. Banyak pembeli mengincar ayam tuk dimasak di hari menjelang lebaran itu, sayang kalau tak dimanfaatkan.

Saya mendapatkan curahan hati seseorang mengenai hidupnya yang lumayan berliku. Tak sadarkah bahwa kami salah, dia lawan jenis saya! Tanggapan tak boleh dari sekadar kawan yang senantiasa mendengar dan memperhatikan supaya melegakan. Karena toh, memang sebatas teman. Toh yang dinantinya adalah hafidzah dari Magelang. Ehe. Cukuplah Allah yang mengetahui isi hati seseorang.

Bakda duhr, saya ke rumah Halimah di Bambanglipuro. Bercengkrama asyik dengan ibunya. Bobok siang mepet ashar satu ranjang dengan Halimah. Padahal budhe Tin berpesan, kalau ngantuk, waktunya bentar lagi solat, tunda dulu ngantuknya, solat, baru deh tidur. Kalau sudah terlanjur tidur sedang belum solat, harus dibangunkan. Mau bagaimanapun itu, saat itu juga kudu bangun. Parah, mah, kita. Terlalu banyak mikir, kagak dilaksanain dah. Pengamalannya kurang.

Ditawari buka di sana –Red Himmatu. Membersamai anak-anak yatim. Tetapi dikhawatirkan terlalu malam, saya langsung pamit pulang ke rumah dengan banyak perlawanan sana-sini dan dapat sangu akhirnya dari ibunya Halimah alias dibolehin pulang. Pulang ke rumah ibuk waktu itu. Buka pertama bersama ibuk di akhir Ramadhan ini. Mengajak Amin untuk takbiran dan bergegas ke kidul.

Kami, remaja dan anak-anak, takbir keliling menggunakan kol. Ada hadiah utntuk kol dengan penumpang yang bertakbir paling keras nan indah. Kol saya di awal saja, di akhir, jam setengah sepuluh, sudah pada menutup mata dan lemes. Sesampainya kami di lapangan alias pemberhentian kol, snack dibagikan. Menit demi menit berlalu, jebul, anak-anak sudah pada pulang. Hadiah ready tetapi telat dibagi. Juga kurang apresiasi dan gelak basi. Dititipkan ke remaja pendamping kol yang menang.

Saya menangis di malam itu sekalian bersimpuh sujud. Meresapi makna takbir yang sesungguhnya.

1.      Selalu Allah yang Maha Besar daripada hawa nafsumu!

2.      Allah Maha Besar mau sebesar apa usaha atau kemampuanmu, Dia selalu lebih besar.

3.      Allah Maha Besar. Kuasa sekali menjadikan segala sesuatu. Apa yang akan memimpamu di kemudian hari, Allah yang berkuasa menentukan.

4.      Allah Maha Besar. Kebesarannya, menjadikan tiada pujian teragung satupun diberikan kecuali hanya untuk-Nya. Pemilik segala pujian.

5.      Isi sendiri, kawan....

Testimony takbiran selalu saja banyak yang pelafalannya salah. Silakan dicek sendiri. Rata-rata keliru pada bagian walillahil khamd. Bukan walillahilham atau walilah ilham. Wrong yaaa! Yang benar menggunakan huruf kha (di hijaiyah, urutannya habis huruf jim) dan kalau mau dimatikan kalimat terakhir, maka harus ada qalqalahnya atau jika tidak, dibaca walillahil khamdu. Harokat dhommahnya tertap dibaca.

-ramelumasakmenthok

--dijalankayakketemutemenSD

---rembulantenggelamdiwajahmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua