Langsung ke konten utama

Stain, Spot of Dirt


Noda

Merusak amalan setelah dikerjakan kontinyu. Hindari!

Kun robbaniyim wala takun syawaaliyin au romadhoniyyin. Jadilah pengabdi Allah, dan jangan menjadi pengabdi syawwal atau pengabdi Ramadhan. Walau itu hanya story orang, namun saya pernah membaca sendiri. Masih saya cari dan ingat2 kembali kalimat itu ada dalam buku karangan siapa, ya? Ini yang dimaksud pentingnya menulis kembali apa yang sudah dibaca. Tinggal mau apa tidak.

Maksud dari penggalan kalimat di atas. Yap, ini yang kerap terjadi pada kita-kita selepas Ramadhan. Masjid kembali sepi dari jamaah. Lantas, benarkah formalitas belaka ibadah kita? Padahal ketika tau lezatnya ibadah, kau akan terus merengek memintanya dan melaksanakannya.

Ramadan saya biasa-biasa saja. Khatam, pun tidak. Membaca al-Quran sedikit demi sedikit. Ada perasaan bersalah di mana jilau saya membaca al-Quran 5,6,10 lembar akan tetapi tak tahu maknanya. Alhamdulillah, saya dianugrahi Allah kelebihan dalam Bahasa Arab dikarenakan membaca terjemahannya dan memikirkan dari ayat yang saya baca. Jadilah satu muka al-Quran bisa saya maksimalkan dalam waktu 10 menit.

Dan ramadhan itulah waktunya. Waktu untuk meneguhkan dan meguatkan kebiasaan-kebiasan yang sedari dulu selalu dikerjakan. Menambahnya sedikit asal kontinyu, tak apa, untuk kemudian diperkuat lagi.

Tak tarawih tak dosa. Tak shola ied pun juga tak dosa. Keduanya sunah yang menurut kaidah usul fiqh, mengerjakannya mendapat pahala, tak dikerjakan tak mendapat dosa atau pahala. Akan tetapi menjadi berdosa ketika kita tidak mengerjakan sholat yang lima. Sholat fardhu namanya. Sebagai tiang agama. Apa kau mau merobohkan agamamu dengan tidak solatnya dirimu? Rumahmu yang roboh saja langsung kau perbaiki? Lantas bagaimana dengan agamamu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua