Langsung ke konten utama

Safar


Assalamualaikum di hari senin!

Gatel sekali tidak menulis. Saya minta maaf, bung atas keterlambatan menulis selama 2 bulan dikarenakan blog error sementara. Sebagai ganti, saya alihkan menulis di media social. Pagi ini membersihkan lapangan yang kelak digunakan solat ied. Dilanjut dengan mengurus penerimaan zakat fitrah. Oh, ya, untuk hari ini, TPA libur hingga tanggal 13 Juni. Bismillah, Mudahkan, Ya Allah! Dan insting manusia biasa ini pun menjalar ria untuk bersafar menjelajah bumi-Nya dan tempat-tempat bersujud secara harfiah. Berbeda dengan istilah, yang artinya tempat untuk kita dapat semakin patuh, tunduk kepada-Nya. Untuk iu pula, ada perbedaan mendasar masjid dengan musola, serta lebih tepat takmir masjid, bukan, dimana terdapat struktur dan administrasi yang rapi dibandingkan dengan takmir musola.

Saya buka sekalian solat maghrib di masjid al-wafa. Bertemu banyak masyarakat beserta cah-cah cilik. Mengenaskannya, anak-anak tidak terfasilitasi untuk mengaji latihan al-quran (iqro’ misalnya). Bertemu ibu-ibu yang bersedia  menceritakan sedikit patah kata untuk mengenai buka kali ini. Bahwa makanan untuk buka di masjid ini berjumlah 200 porsi. Sangat banyak. Tidak berbanding lurus dengan jamaah yang hadir. Diceritakan pula bahwa masjid ini milik dua kampung di mana jatah pemberi makan bergantian antara satu kampung dengan kampung lainnya. Jika porsi sebanyak itu tak dibarengi dengan banyaknya jamaah yang hadir untuk sama-sama menikmati makanan itu, pertanyaanya, ikhlaskah para pemberi makan itu? Atau terpaksa melaksanakan jadwal yang sudah terlanjur dibuat oleh si takmir itu? Husnudzon saja, harapannya, keluarga selalu solid untuk buka bersama di rumah masing-masing.

Saya tancap gas ke masjid agung bakda solat maghrib dan paketnya. Memurojaah sedikit. Asal kontinyu, tak masalah, hingga saya mengerti dan faham akan hakikat menghafal, nikmatnya serta khusyuknya. Tak disangka bertemu dengan salah satu karyawan Muallimaat bagian kedisiplinan,  Bu Sum. Tepat di sebelah kiri beliau, saya duduknya. Beliau menceritakan bahwa tidak biasanya solat di sini, suami yang mengajak, hari terakhir dikarenakan. Penceramahnya menyampaikan nasihat-nasihat. Yang membekas di antaranya bahwa amal perbuatan itu ada pada akhinya. Tidak di awal bulan Ramadhan di kenceng-kencengkan untuk kemudian di akhir menjadi loyo dan semakin menurun. Baik kuantitas maupun kualitasnya. Dan itulah tanda amalan kita diterima. Dan teringat akan mati dengan khusnul khotimah atau suul khotimah, itu yang kelak jadi penentu. Bukan di awal, siapa aku dan siapa kamu.

Jam setengah Sembilan saya pulang. Membungkus snack Ramadhan untuk esok malam takbiran di masjid tercinta. Bersama muda-mudi yang selalu berbudi. Karena bukan hanya tugas bagian konsumsi.

-cah2berhasilbukonenglapangan

h-2,1 syawwal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua