Berada di Mesir sana adalah impian yang hanya Allah yang berhak serta berkuasa menakdirkan. Selebihnya saya yang kudu mati-matian layaknya mereka yang diterima di sana. Tetapi urusan pelik ini lebih dari yang dibayangkan. Ini seharusnya mudah dan nggak perlu pijero (piker jero). Satu hal yang amat saya utamakan, saya sangat berminat terhadap tahfidz di Mesir yang kata salah satu alumni sebrang, lingkungan Mesir sangat kondusif untuk mengahafal al-Quran. Kapan lagi hal itu dapat saya temukan kesempatan? Tetapi kewajiban saya untuk menjadi musyrifah selepas lulus tanpa nyekip adalah polemik terbesar saya. Bahwa saya harus menunda satu tahun, kemudian mendaftar di tahun berikutnya, menjadi mahasiswa daurah lughah satu tahun, baru saya dapat menjadi mahasiswa tetap, semog saja lulus, biar tidak mengulang. Setelah lulus, terbayangkan dalam benak saya menjadi ulama berpengaruh layaknya Ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul somad yang berdakwah amat menyesuaikan dengan mad’u lah. ...
Lopr tulisan batangan bukan koran apalagi emas!