Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Answered

Berada di Mesir sana adalah impian yang hanya Allah yang berhak serta berkuasa menakdirkan. Selebihnya saya yang kudu mati-matian layaknya mereka yang diterima di sana. Tetapi urusan pelik ini lebih dari yang dibayangkan. Ini seharusnya mudah dan nggak perlu pijero (piker jero). Satu hal yang amat saya utamakan, saya sangat berminat terhadap tahfidz di Mesir yang kata salah satu alumni sebrang, lingkungan Mesir sangat kondusif untuk mengahafal al-Quran. Kapan lagi hal itu dapat saya temukan kesempatan? Tetapi kewajiban saya untuk menjadi musyrifah selepas lulus tanpa nyekip adalah polemik terbesar saya. Bahwa saya harus menunda satu tahun, kemudian mendaftar di tahun berikutnya, menjadi mahasiswa daurah lughah satu tahun, baru saya dapat menjadi mahasiswa tetap, semog saja lulus, biar tidak mengulang. Setelah lulus, terbayangkan dalam benak saya menjadi ulama berpengaruh layaknya Ustadz Adi Hidayat   atau Ustadz Abdul somad yang berdakwah amat menyesuaikan dengan mad’u lah. ...

LAUK ENTEK

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyoroti keadaan asrama yang seperti kelas satu, dua, tiga jahiliyyah dahulu, ketika lauk entek bahkan ketika sedang hendak berbuka, teman yang shaum tidak kebagian jatah lauk. Yang disebrang malah dibuat jatah piket membagi makanan, dan yang terakhir berhak mendapat lebih. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi kami. La wong kami makannya tidak teratur jamnya. Pokoknya dari makanan itu sudah tersaji sampai makanan itu diambil   kita bebas mau ngambil kapan aja. Ada yang korup, wallahu a’lam. Sebabnya banyak di antara kami punya urusan beda-beda dan tidak tentu waktunya. Perihal itu, saya jadi teringat waktu dipamongi Ustadz Agus Salim yang tahun 2018 ini Alhamdulillah telah melaksanakan ibadah haji. Kami dahulu sering sekali lauk entek kecuali lauk yang pokoknya tidak banyak yang minat. Lain halnya dengan ayam yang jatahnya satu potong sukanya nambah-nambah jadi satu setengah, pol-polan kalau nggak mau dosa-dosa amat ya satu seperempat atau satu s...

AKREDITASI/wanita

Tulisan ini sebenarnya teramat kontradiksi dengan sekolahku, sekolah perempuan di mana kau tahu kondisi sekolah menjelang akreditasi yang berjangka dua tiga hari? Para ibu-ibu, istri-istri itu pulang hingga larut malam selama kurang lebih satu minggu. Ngopeni keluarga wallahu a’lam. Tak berani saya bersuudzon terlampau dalam. Semoga para pengajar yang begitu mulia itu selalu dalam lindungan-Nya, dan nanungan-Nya. Alhasil dari pada itu, sekolah mendapat akreditasi paling bagus dan dapat dijadikan pathokan universitas yang kelak akan dimasuki para alumni. Menyelamatkan para siswi yang belum maksimal di dalam pembelajaran. Untung, kata dan lenguh mereka, para siswi. Tetapi yang miris begitu miris, akankah sistem berjalan seperti ini? Dilanjut hingga perguliran itu jatuh ke tangan saya mungkin. Menutup-nutupi hal buruk dengan hal baik yang jikalau dipendam malah akan menjadi sisi kebusukan yang berbau menyengat. Adakah cara lain menilai sebuah sekolah tanpa sebuah penipuan? Tanpa u...

TAHASSUS/2

  Kau tahu, berapa kini santri yang terdapat di kelas tahassus? Hanya sekitar 50 anak per 1100 santri yang menjabat sebagai siswi Mu’allimaat. Ingin rasanya menangis. Merasai bahwa sebenarnya ada apa toh, dengan madrasah tercinta ini? Pembentukan asrama tahfidz rampung pada tahunkeenam saya di sini. Berapa juz yang sudah saya hafal? Jangan ditanya toh, tapi tanyailah bacaan saya apakah masih salah-salah? Tajwidnya? Makharijul hurufnya? Di samping itu yang paling harus dikuatkan adalah kekuatan mental. Semenjak Ustadzah Nur Hasanah beralih ke asrama tahfidz. Kami diampu oleh Ustadzah Inayah, pamong asrama SAB. Beliau-beliau adalah pengampu yang luar biasa. Salah harokat, panjang pendek, diceramahi hingga subuh sepertinya. Salah satu kali saja atau tidak lancar, mundur, setor besok lagi, besok salah, besoknya setor lagi dan seterusnya. Kini saya dapat menghafal ayat-ayat-Nya lebih banyak, mentadabburinya, sekaligus mendekatkan diri kepada kitab tersebut. Setiap hari Seni...

PAKDHE/2

Sisa harta suami masih dapat memenuhi kebutuhan. Anak sulung tetap kuliah seperti biasa. Hingga datanglah kabar buruk yang tak ada orang sudi mendengar, pun keluarga ini. Sang suami meninggal. Meremukkan jiwa-jiwa rumah itu. Bahkan anak yatim ini mau ditelantarkan bagaimana? Sang sulung dengan sigap mendarat ke tanah Jawa Tengah, mengambil mayat ayahnya yang tak terbentuk upa. Matinya naas, begitu naas. Saking naasnya, sang sulung setelah mengurus jenazah itu, mogok kuliah. Berdiam diri di kuburan, bermalam di sana, menunggui pusara sang ayah. Sang sulung seperti itu saja selama kurang lebih satu tahun, meninggalkan kenikmatan mahasiswa yang menjadi pijakan masa depannya.  Tak mau hanya berpangku tangan. Sang ibunda tak ada perasaan sedih sehabis sang suami tiada. Hatinya kosong, benar-benar tak bisa merasakan apa pun. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana kebutuhan sang anak tercukupi. Karena mau bagaimana pun juga, harta peninggalan suami akan habis juga. Tangan ha...

PAKDHE/1

Sang penikmat ilmu di usia senja. Sudikahkah kau mendengarnya? Berada di sini, harapannya kau betah,, Suatu hari teradalah pasangan suami-istri yang amat bahagia. Sang suami bekerja sebagai pengusaha furniture kayu di era 60-an. Sanggup membeli motor yang jarang yang punya. Bahkan sekmpung hanya sang suami itu yang punya. Bisik-bisik tetangga akan betapa konglomeratnya keluarga tersebut, tersiar ke seluruh wilayah. Mereka memiliki 5 anak, baru tiga hari yang lalu bayi perempuannya yang ketiga lahir. Tambah sempurnalah kebahagiaan mereka. Sang suami bekerja keras, penghasilannya bertambah lebat saja. Anak pertamanya, seorang laki-laki baru saja menduduki bangku kuliah yang lagi-lagi, amat jarang orang yang mampu kuliah. Sanga anak ini mengambil jurusan akuntansi. Prestasi yang luar biasa, bukan? Tetapi siapa sangka akan rezeki yang datang bak angin, terhempas ke sana-kemari begitu saja. Sang suami dituduh mencuri motor yang baru dibelinya. “motor itu haram...,” tetangga-...