Langsung ke konten utama

Teks Narasi Siaran Pertama Stiba Arraayah On Air

 

Kembali lagi di program STIBA Arraayah on air. Kali ini bersama saya hijaunya kata mahasantriwati semester 5 asal dari Bantul. Di sini kita bakal ngomongin bareng tentang ayat mutasyabihat dalam Alquran. Pas banget ayat yang kita bahas adalah ayat 55 dan 85 QS attaubah juz 10. Ayat yang berada di muqorror hifz mustawa 4.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita kupas mengapa ayat mutasyabihah ini penting untuk kita bahas? Temen-temen yang insya allah dalam rahmat-Nya, pengetahuan kita terhadap ayat mutasyabihat itu memudahkan kita dalam menghafal dan mentadabbur ayat-Nya. Selain itu, manfaat yang lain adalah kita meyakini dengan haqqul yaqin bahwa alquran itu mukjizat baik dari segi makna maupun lafaz yang menjadikan iman kita meningkat bahwa alquran ini benar-benar berasal dari Rabb semesta alam.

Pendengar yang insya allah dalam rahmat-Nya, mangga silakan bagi yang bersamanya mushaf untuk menyimak dengan membuka mushafnya. Bagi yang tidak bersamanya mushaf silakan cukup menyimak, check this out.

Ayat 55 berbunyi;

فلا تعجبك أموالهم و لا أولادهم إنما يريد الله ليعذبهم بها في الحياة الدنيا

Sedangkan pada ayat 85 Allah berfirman;

ولا تعجبك أموالهم و أولادهم إنما يريد الله أن يعذبهم بها في الدنيا

Ada berapa perbedaan yang teman-teman dapatkan? Ya. Ada 4 perbedaan; kata fa dan la. Kata laa dan tanpa laa. Ketiga kata li dan an. Dan yang keempat alhayah addunya dan addunya. Yuk kita kupas satupersatu.

Pertama, fa dalam bahasa Indonesia bermakna maka. Menjadi serasi ketika ayat sebelumnya mengandung makna syartatau jika. Jika-maka. Hal ini selaras, karena ayat sebelumnya menggunakan fiil mudhori, yang mengandung makna syart. Adapun di ayat 85, ayat sebelumnya tidak mengandung makna syart atau menggunakan fiil madhi yang mengandung makna masa lampau sehingga wawu pada ayat ini sudah sesuai peletakannya. Subhanallah.

Rahasia kedua. Pada Ayat 55 kata laa diulang dua kali, menandakan adanya penekanan pada ayat ini. Masya allah, ketika makna syart ada, penekanan pun ada. Pada ayat 85 pun egitu, tak ada syart sekaligus tidak ada penekanan.

Masih bersama hijaunyakata, kan, teman-teman? Okeh, kita semangat buat lanjut ke rahasia ketiga. Ayat 55, dalam bahasa Indonesia artinya, Sungguh, Allah hendak dengan harta dan anak-anak itu untuk mengazab mereka. Seperti, ada kalimat yang hilang, bukan? Mafhum dari ayat ini, Allah hendak menambah nikmat berupa harta dan anak untuk mengazab mereka. Sedangkan pada ayat 85, kitab isa langsung memahami bahwa Allah mengabarkan kaum yang binasa setelah diberi nikmat harta dan anak.

Rahasia terakhir, ahayah addunya. Sifah mausuf. Alhayah artinya kehidupan dan addunya sifat untuk kehidupan dunia yang artinya rendah. Tahapan kehidupan yang teramat pendek namun efek jangka panjangnya bisa nentuin masuk neraka atau masuk surga. Ketika pada ayat 55 alhayah addunya disebut bersamaan, maka dicukupkan pada ayat tersebut sehingga tidak perlu disebutkan kembali pada ayat 85. Allahu akbar.

Tidak terasa, kita telah berada di penghujung siaran. Inysa allah, kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya, ya, teman-teman yang Insya allah Rahmati😊 Semoga siaran ini bermanfaat, kurang lebihnya saya, Hijaunyakata mohon maaf, kita tutup dengan hamdalah dan kafaratul majlis.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua