Kita memang orang yang (bingung) bahkan hingga sekarang.
Namun tidak untuk berdiam. Coba seluruhnya! Karena nasi dari ibuk dapur itu ada
berkahnya lho! Beri hightlight Kita nda tahu niat tersembunyi pada dirinya. Suka
heran sama akhowat yang tidak makan di matam. Juga idam yang tersaji dengan
berbagai pilihan setiap harinya. Memilih beli di luar, padahal ada yang gratis,
sudah dibeli dari uang UKT. Nikmat sekali, bukan, bisa makan 3 kali sehari? Allah
mengenyangkan perut-perut kita. Menyelamatkannya dari kelaparan. Subhanallah.
Tubuh fit dan anti sakit. Bisa fokus belajar, hafalan quran, murojaah, beraktivitas
jadi lebih menyenangkan dan bisa lapang menghadapi apa-apa yang berada di depan
kita.
Karena salat yang Cuma 5 menitan kenapa, sih ga dibuat
spesial, diberlakukan khusus maksudnya. Kenapa, sih halaqah Quran yang Cuma
satu jam-an gak dimanfaatin? Bersinggungan dengan laptop itu nggak salah loh!
Sungguh tidak salah. Apalagi laptop ini pemberian ibuk yang aku pun tak tahu
kapan gerangan bisa mengganti pakai uang. Memang sekarang dalam tahap berpikir.
Bersyukur apa salahnya? Ya Allah berikanlah kekuatan kepada hamba. Jadikan
hamba hamba yag pandai bersyukur dalam setiap keadaan. Zikir bakda solat
dikencengin. Tawakkalnya, tilawahnya yang di dalamya tercurah barokah. Pada
diri setiap kita memang terdapat ghill (kecemburuan). Namun semoga saja doa rabbana
la tajal fi qulubina ghilla lilladzina aamanu selalu menghiasi mood di hati.
Saat liburan, saya sangat merindukan solat berjamaah di
Arrayah. Terbiasa mendengar cuitan burung yang esensinya sedang bertasbih, bukan?
Yang paling utama adalah bacaan imam yang random. Juznya acak, bisa dapet
feeling tadabburnya. Serasa diimamin imam Mekkah/Madinah. Maasyaa allah. Allahumarzuqnalkhusyua
fissholah. Kadang-kadang kalau di rumah, saya salat munfarid, dikarenakan
tempat akhawat salat di masjid kampung tergolong terbuka. Selain itum banyak Ikhwan
yang bersliweran, khawatir malah jadi fitnah. Namun saya masih mengusahakan
diri salat di masjid minimal dua kali waktu salat. Karena pribadi ini yang
masih bertakayyuf dan sarana memperlihatkan keeksistensian bermasyarakat. Pada salat
berjamaah, saya bisa sejenak bercakap-cakap dengan ibu-ibu, bertemu takmir
masjid, menyapa anak kecil. Untuk teman sebaya yang seumuran dengan saya saya belum
menemukan yang akhowat, allahummahdina.
Tadi salat isya imam hafizahullah membaca surat Maryam dan
thaha. Masya allah. Pas subuh baca surat sajdan dan al-insan. Allahuakbar. Pas Jumatan,
ala’la alghasiyah. Fabiayyi alaai rabbikuma tukaziban. Nikmat tuhan manakah
yang kau dustakan? Mendengar bacaan imam yang bisa menjadi wasilah kita bisa
khusyu adalah nikmat yang luar biasa. Asalkan gak kepo siapa imamnya dan malah
kepikiran orangnya. Naudzubillah min dzalik.
Komentar
Posting Komentar