Langsung ke konten utama

Setelah Selamat Datang

 






Keduanya buta dan saya kalah dalam melawan kantuk untuk menulis. Padahal semangat keduanya yang membara menyindir keras kelemahan sekaligus kemalasan saya. Waktu salat adalah waktu salat. Terkadang pada waktu salat, keberadaan seorang muslim masih saja dalam sendagurau, permainan, kegiatan, dan pekerjaan. Dimaafkan bagi mereka yang tidur. Benar-benar tidur. Bukan mereka yang sudah bangun akan tetapi memilih untuk tidur kembali. Bapak buta dan pemuda buta, keduanya mencari tempat wudu, dibantu ibu baik paruh baya yang bersedia menuntun keduanya. Kemudian bapak terlihat bijaksana, terkadang melontarkan kata-kata berbahasa Arab juga turut membantu, meneruskan tuntunan si ibu paruh baya. Mungkin bapak tersebut pernah nyantri di lingkungan berbahasa Arab atau pernah tinggal di Arab, entah.Pemudi bercadar memperhatikan momen tersebut dengan khidmat. Lamat-lamat ia memperhatikan namun yang diperhatikan tak mengetahui. Sebenarnya, pemudi itu sedang berada di tempat yang ia cari. Tempat yang cocok untuk men-typing tulisan tangan rahasia. Sengaja menyendiri, tak seperti teman-temannya yang memilih berjalan-jalan ke pelbagai tempat di Kawasan jalan braga. Ini kesempatan emasnya memegang hape, ia bisa mengetik, lalu langsung mengirimkan tulisan yang dimaksud kepada yang bersangkutan.

Sang Pemudi bertekad, memberanikan diri untuk mengobrol dengan keduanya usai salat. Beberapa pertanyaan siap dilontarkan. Ah, belajar lewat apa yang kau temui di perjalanan memberikan pengaruh tersendiri, bukan?



Mereka berdua berjualan kerupuk dengan cara berjalan kaki, mengelilingi banyak daerah. Prinsip keduanya adalah bekerja, tak ingin dikasihani hanya karena penglihatan yang tiada. Terkadang mereka menolak uang yang diberikan secara percuma. Bukankah mereka sedang bekerja? Berjualan? Bukan meminta-minta. Bapak telah menikah dengan perempuan buta. Sang perempuan kini tengah mengandung anak pertama. Sedangkan Sang Pemuda barusan lulus SMA dan ingin kuliah. Berjualan sama dengan menabung untuk pendidikannya. Ia ingin menjadi guru SLB, memotivasi adik-adik yang memiliki keterbatasan sepertinya -kurang lebih-. Masya allah, memberikan inspirasi kepada mereka, menjaga api semangat. Sedangkan impian Bapak sederhana namun penuh makna, ia ingin membahagiakan keluarga, dunia-akhirat. Mereka berdua saling mengenal dan menjadi sahabat karib di SLB (satu sekolah) walaupun berbeda tingkat. Sang pemuda tinggal di kos di daerah yang pemudi lupa nama daerah tersebut. Percakapan yang sangat hangat. Beberapa kali Bapak mengusik Pemuda. Dari mimik wajah Pemuda, tampak bahwa ia menyukai Pemudi yang mengajaknya mengobrol, pun tersenyum malu terhadap pertanyaan dari sang Pemudi yang kalaupun dia bisa melihat, ia tak bisa melihat wajahnya yang tertutup niqab. Pemudi mencelutuk bahwasannya ia ingin membeli barang dagangan namun keduanya lupa menaruh kerupuk-kerupuk yang tertai rapi lalu meminta Pemudi yang tahu letak kerupuk tersebut -tak jauh dari tempat mereka mengobrol- untuk membawa makanan tersebut ke hadapan keduanya. -dan aku tak tahu mengapa bahasaku seperti bahasa tarjamah-. Ia ingin memebli 5 kerupuk yang sudah dibungkus plastik, di mana harga satuannya sepuluh ribu rupiah (Rp10.000,00). Bapak dan Pemuda membiarkan Pemudi mengambil dagangan. Kejujuran menjadi sandaran. Pemudi kini tahu setelah belajar kanzuroghibin bab bai’ bahwa jual beli dengan orang buta tidak sah. Akan tetapi jual beli dengan orang yang tak bisa melihat tersebut di-qiyas-kan seperti bai’ muathoh (sama-sama tahu aa yang diberi sebagai imbalan jualannya), kurang lebih seperti itu Ustaz Sufyan menjawab saat Pemudi berada di pelajaran fiqh menanyakan hukum jual beli yang pernah ia langsungkan.

Bapak dan Pemuda walaupun buta namun mata hatinya tak buta. Mereka berdua tetap men-dawam-kan membaca Alquran dengan Alquran braille yang saat ditanya, bahwa harga dari Alquran brauille tersebut dua juta rupiah (Rp2.000.000,00). Salat lima waktu tak pernah ditinggalkan. Selalu mengusahakan salat berjamaah. Ibadah sunah yang tak pernah luput dikerjakan, salat witr. Doa yang selalu dipanjatkan, sapu jagad. Rabbana atina fidunya hasanah wa fil alhiroti hasanag wa qina adzabannar. Ya Allah, Ya Rabb, berikanlah kami di dunia ini kebaikan, dan di akhirat kebaikan, serta jauhkanlah kami dari siksa neraka. Allahu akbar, sedangkan kau, doa apa yang selalu kau panjatkan?

Kehidupan orang buta bukanlah urusan  bagi mereka yang dikaruniai penglihatan. Mereka sudah terbiasa tak melihat sebagamana kau terbiasa melihat. Adapun pemudi, dia sangat iangin menelisik lebih jauh bagaimana sebenarnya kehidupan orang buta. Bahkan ia tak segan meminta nomor handphone, ingin tahu bagaimana mereka mengoperasikan gawai gepeng ini. Rasa aneh itu berubah menjadi takjub, bahwa mereka menggunakan hape android layaknya kau. Teringat sahabat Rasulullah shallalahu alaihi wa salam, Ibn Ummi Maktum, sahabat yang buta namun penuh dedikasi dan memegang banyak amanah dan berperan dalam perjuangan Islam. Beliau pula yang menjadi tokoh dalam turunnya surat abbasa -cek tafsir surat Abbasa-. Pernah mereka berdua dikucilkan dan dipinggirkan. Mereka berdua benar-benar menjadi tusukan dahsyat bagi kau yang dikarunia kesempurnaan kesehatan dan penglihatan.

Percakapan diakhiri saat frekuensi air yang turun dari langit mengecil, tidak deras-deras amat lah. Mereka berdua meneruskan dagangan sedang saya meneruskan ketikan.



Ada janji dengan alumni muallimat yang kuliah di Telkom University. Ashfa, mahasiswi yang nyambi kuliah di kafe. Rela izin kerja demi nemuin saya yang siapa, sih? Pun dia harus menempuh kawasan Braga yang relatif padat. Usai salat maghrib-isya jama qashr, Saya menemui Ashfa bersama dengan kakak kelas Arrayah. Kami menuju ke kios makanan guna mengisi perut di malam hari. Saya tak terlalu dekat dengan Ashfa namun teman saya asal Sumbawa ini tetap supel dan terampil dalam bergaul. Sama persis saat dahulu di Muallimaat. Bahkan yang bikin meleleh, Ashfa mengirimi saya yang sudah kembali di Arrayah selang beberpa minggu dari pertemuan kali itu, bolu basah dan kering khas Bandung. Allahu akbar. Syukron, ya Pha!

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua