Keduanya buta dan saya kalah dalam melawan kantuk untuk
menulis. Padahal semangat keduanya yang membara menyindir keras kelemahan
sekaligus kemalasan saya. Waktu salat adalah waktu salat. Terkadang pada waktu
salat, keberadaan seorang muslim masih saja dalam sendagurau, permainan,
kegiatan, dan pekerjaan. Dimaafkan bagi mereka yang tidur. Benar-benar tidur.
Bukan mereka yang sudah bangun akan tetapi memilih untuk tidur kembali. Bapak
buta dan pemuda buta, keduanya mencari tempat wudu, dibantu ibu baik paruh baya
yang bersedia menuntun keduanya. Kemudian bapak terlihat bijaksana, terkadang
melontarkan kata-kata berbahasa Arab juga turut membantu, meneruskan tuntunan
si ibu paruh baya. Mungkin bapak tersebut pernah nyantri di lingkungan
berbahasa Arab atau pernah tinggal di Arab, entah.Pemudi bercadar memperhatikan
momen tersebut dengan khidmat. Lamat-lamat ia memperhatikan namun yang
diperhatikan tak mengetahui. Sebenarnya, pemudi itu sedang berada di tempat
yang ia cari. Tempat yang cocok untuk men-typing tulisan tangan rahasia.
Sengaja menyendiri, tak seperti teman-temannya yang memilih berjalan-jalan ke
pelbagai tempat di Kawasan jalan braga. Ini kesempatan emasnya memegang hape,
ia bisa mengetik, lalu langsung mengirimkan tulisan yang dimaksud kepada yang
bersangkutan.
Sang Pemudi bertekad, memberanikan diri untuk mengobrol
dengan keduanya usai salat. Beberapa pertanyaan siap dilontarkan. Ah, belajar
lewat apa yang kau temui di perjalanan memberikan pengaruh tersendiri, bukan?
Mereka berdua berjualan kerupuk dengan cara berjalan kaki,
mengelilingi banyak daerah. Prinsip keduanya adalah bekerja, tak ingin
dikasihani hanya karena penglihatan yang tiada. Terkadang mereka menolak uang
yang diberikan secara percuma. Bukankah mereka sedang bekerja? Berjualan? Bukan
meminta-minta. Bapak telah menikah dengan perempuan buta. Sang perempuan kini
tengah mengandung anak pertama. Sedangkan Sang Pemuda barusan lulus SMA dan
ingin kuliah. Berjualan sama dengan menabung untuk pendidikannya. Ia ingin
menjadi guru SLB, memotivasi adik-adik yang memiliki keterbatasan sepertinya
-kurang lebih-. Masya allah, memberikan inspirasi kepada mereka, menjaga api
semangat. Sedangkan impian Bapak sederhana namun penuh makna, ia ingin
membahagiakan keluarga, dunia-akhirat. Mereka berdua saling mengenal dan
menjadi sahabat karib di SLB (satu sekolah) walaupun berbeda tingkat. Sang
pemuda tinggal di kos di daerah yang pemudi lupa nama daerah tersebut.
Percakapan yang sangat hangat. Beberapa kali Bapak mengusik Pemuda. Dari mimik
wajah Pemuda, tampak bahwa ia menyukai Pemudi yang mengajaknya mengobrol, pun tersenyum
malu terhadap pertanyaan dari sang Pemudi yang kalaupun dia bisa melihat, ia
tak bisa melihat wajahnya yang tertutup niqab. Pemudi mencelutuk bahwasannya ia
ingin membeli barang dagangan namun keduanya lupa menaruh kerupuk-kerupuk yang
tertai rapi lalu meminta Pemudi yang tahu letak kerupuk tersebut -tak jauh dari
tempat mereka mengobrol- untuk membawa makanan tersebut ke hadapan keduanya.
-dan aku tak tahu mengapa bahasaku seperti bahasa tarjamah-. Ia ingin memebli 5
kerupuk yang sudah dibungkus plastik, di mana harga satuannya sepuluh ribu
rupiah (Rp10.000,00). Bapak dan Pemuda membiarkan Pemudi mengambil dagangan.
Kejujuran menjadi sandaran. Pemudi kini tahu setelah belajar kanzuroghibin
bab bai’ bahwa jual beli dengan orang buta tidak sah. Akan tetapi jual
beli dengan orang yang tak bisa melihat tersebut di-qiyas-kan seperti bai’
muathoh (sama-sama tahu aa yang diberi sebagai imbalan jualannya), kurang
lebih seperti itu Ustaz Sufyan menjawab saat Pemudi berada di pelajaran fiqh
menanyakan hukum jual beli yang pernah ia langsungkan.
Bapak dan Pemuda walaupun buta namun mata hatinya tak buta.
Mereka berdua tetap men-dawam-kan membaca Alquran dengan Alquran braille yang
saat ditanya, bahwa harga dari Alquran brauille tersebut dua juta rupiah
(Rp2.000.000,00). Salat lima waktu tak pernah ditinggalkan. Selalu mengusahakan
salat berjamaah. Ibadah sunah yang tak pernah luput dikerjakan, salat witr. Doa
yang selalu dipanjatkan, sapu jagad. Rabbana atina fidunya hasanah wa fil
alhiroti hasanag wa qina adzabannar. Ya Allah, Ya Rabb, berikanlah kami di
dunia ini kebaikan, dan di akhirat kebaikan, serta jauhkanlah kami dari siksa
neraka. Allahu akbar, sedangkan kau, doa apa yang selalu kau panjatkan?
Kehidupan orang buta bukanlah urusan bagi mereka yang dikaruniai penglihatan.
Mereka sudah terbiasa tak melihat sebagamana kau terbiasa melihat. Adapun
pemudi, dia sangat iangin menelisik lebih jauh bagaimana sebenarnya kehidupan
orang buta. Bahkan ia tak segan meminta nomor handphone, ingin tahu bagaimana
mereka mengoperasikan gawai gepeng ini. Rasa aneh itu berubah menjadi takjub,
bahwa mereka menggunakan hape android layaknya kau. Teringat sahabat Rasulullah
shallalahu alaihi wa salam, Ibn Ummi Maktum, sahabat yang buta namun penuh
dedikasi dan memegang banyak amanah dan berperan dalam perjuangan Islam. Beliau
pula yang menjadi tokoh dalam turunnya surat abbasa -cek tafsir surat Abbasa-.
Pernah mereka berdua dikucilkan dan dipinggirkan. Mereka berdua benar-benar
menjadi tusukan dahsyat bagi kau yang dikarunia kesempurnaan kesehatan dan penglihatan.
Percakapan diakhiri saat frekuensi air yang turun dari
langit mengecil, tidak deras-deras amat lah. Mereka berdua meneruskan dagangan
sedang saya meneruskan ketikan.
Ada janji dengan alumni muallimat yang kuliah di Telkom University.
Ashfa, mahasiswi yang nyambi kuliah di kafe. Rela izin kerja demi nemuin saya
yang siapa, sih? Pun dia harus menempuh kawasan Braga yang relatif padat. Usai
salat maghrib-isya jama qashr, Saya menemui Ashfa bersama dengan kakak
kelas Arrayah. Kami menuju ke kios makanan guna mengisi perut di malam hari.
Saya tak terlalu dekat dengan Ashfa namun teman saya asal Sumbawa ini tetap
supel dan terampil dalam bergaul. Sama persis saat dahulu di Muallimaat. Bahkan
yang bikin meleleh, Ashfa mengirimi saya yang sudah kembali di Arrayah selang
beberpa minggu dari pertemuan kali itu, bolu basah dan kering khas Bandung.
Allahu akbar. Syukron, ya Pha!



Komentar
Posting Komentar