Langsung ke konten utama

Hiruk Pikuk Perang Dunia Tengah Semester


Salah satu tulisan saya bersama qism tadwin

Muqarar hafalan yang sudah tak terjadwal. Baramij yang mulai diberhentikan. KBM yang sudah pada batas waktu yang ditentukan. Semua itu menjadi penanda masuknya kami pada dunia ujian. Ujian yang mana fokus dan perhatian ditujukan hanya pada ujian. Semua kekuatan terkerahkan untuknya. Dengan begitu, bukankah ujian adalah istirahat yang sesungguhnya? Kami memiliki waktu yang lebih dari hari-hari biasa yang dapat kami gunakan untuk berkontempelasi, mengatur fisik beserta ruhani, dan mengambil posisi kuda-kuda, bersiap untuk menjalankan rencana yang telah tertuang. Ya Allah, karuniakanlah keberkahan pada waktu yang Kau anugerahkan kepada kami.

Ujian yang bertepatan pada pertengahan bulan Ramadan ini memang sangat berbeda dengan ujian biasa. CBT yang biasanya kami gunakan untuk ujian juga sedikit berbeda. Sebelumnya, pada hari Ahad, 19 April 2023, dua hari sebelum ujian dilaksanakan, seperti biasa, kami diberi waktu tujuh puluh lima menit, dari jam 13.15-14.30 untuk memastikan kuota dan menelpon orang tua guna meminta rido dan doa juga meminta apa yang biasa dipinta anak kepada orangtua. Jika yang utama ini telah dilakukan, boleh, lah ditambah checkout dan buka apa yang sekiranya diperlukan, dengan syarat tanpa melewati batas waktu yang telah ditentukan. Nyatanya, kebanyakan dari kami hanya dua hal itu saja yang dapat dilakukan selama waktu tersebut. Semoga Allah tambahkan nikmat kepada mereka yang bersyukur dengan hal tersebut.

Hari berikutnya, hari Senin, 20 April 2023, sehari sebelum ujian dilaksanakan alias saat hari tenang, kami megikuti sosialisasi ujian yang mana pembicara pada kegiatan yang berlangsung bakda salat subuh tersebut adalah Ustadz Jajat dan Ustaz Fajar -hafidzahumallah-. Sosialisasi tersebut disampaikan serentak untuk tullab dan tolibat. Keduanya bersama tullab berada di masjid Jami Arraayah sedang kami mendengarkan lewat google meet di aula madrasah tercinta. Kemudian pada pukul delapan kami melaksanakan kegiatan bersih-bersih kelas dilanjutkan dengan pembacaan tata tertib ujian yang disampaikan Ustazah Suci di aula madrasah. Setelah membacakan tata tertib ujian, beliau juga mengingatkan kami akan pentingnya rasa ‘muraqabatullah’, rasa bahwa Allah mengawasi seluruh gerak-gerik hamba-Nya. Usai agenda tersebut, kami dengan semangat ‘empatlima’ mengangkat kursi dari kelas ke aula sakan awal yang tentunya kursi itu akan kami duduki saat ujian. Pukul sepuluh lebih beberapa menit, Ustaz Fajar, via google meet mengarahkan kami, mahasiswi yang ketika ujian menggunakan android guna uji coba ujian dengan aplikasi yang asing bagi kami. Sedangkan bagi mahasiswi pengguna iPhone dan laptop untuk ujian, maka kegiatan uji coba CBT dengan aplikasi yang dimaksud dilangsungkan di sore hari, bakda asar, dikarenakan laptop maupun gawai jenis iphone tak seperti android, akan tetapi keduanya memerlukan arahan berbeda serta tindakan khusus.

Sebenarnya apa, sih, aplikasi yang kami gunakan saat CBT itu? Aplikasi itu bernama ‘exambro’, tanpa nada tinggi di ‘bro’, soalnya ga ada sis. Exambrowser. Aplikasi yang sengaja dirancang untuk halaman ujian Keistimewaan aplikasi ini adalah mencegah penggunanya  untuk melakukan beerapa tindakan yang kiranya dicurigai sebagai kecurangan. Ketika aplikasi ini dibuka lalu diaktifkan maka pada detik tersebut pengguna tidak dapat membuka aplikasi lain. Pengguna juga tidak dapat membuka dua aplikasi dalam satu layar. Notifikasi yang muncul pun tak dapat terlihat, serta tombol kembali dan home yang berada di bawah layar gawai pun tak ditemukan keberadaannya. Perdana kami menggunakan aplikasi ini. Acara uji coba aplikasi ini menghabiskan waktu dua jam. Banyak pertanyaan yang kami lontarkan usai Ustaz menjelaskan. Walaupun begitu, kesusahan yang kami temui tak melunturkan semangat kami untuk menghadapi ujian tengah semester.

Hari pertama ujian di sakan awal

Ujian Tengah Semester genap tahun ini menghadap ke arah timur, arah hamam 5, yang telah diberi hijab berupa kain yang dipasang diantara tiang lapangan ujian. Hari pertama ujian, banyak di antara kami mengalami kendala jaringan internet yang tak lancar. Tanda jika kami mengalami kendala tersebut ialah dengan kemunculan gambar animasi orang tanpa wajah dengan tanda sinyal berwarna coklat. Pada hari pertama tersebut, Ustazah Suci juga mengingatkan kami supaya tidak menunda-nunda masuk ke dalam qoah ujian. Bagi kami, ketika jaros yang nyaring itu sudah ustazah, pengawas ujian, bunyikan, entah kenapa malafat yang kami pegang semakin erat seperti lem korea, tak mau lepas dari tangan. Namun kami menyadari, barakah ujian ini, barakah ilmu ini, akan kami dapatkan jika kami mematuhi aturan yang berlaku, bukan dengan sebaliknya, menyalahi peraturan. Mengambil pelajaran di ujian hari awal, ujian pada hari-hari berikutnya semakin berkurang kendala yang terjadi di lapangan. Kami juga berusaha menggenapkan tawakkal, melepas muqoror ketika mendengar bel dibunyikan dan mulai masuk qoah ujian tepat waktu. Walhasil, berkurang pula tanbih ustazah yang memperingatkan kami mengenai ketertiban dan ketepatan waktu masuk ke qoah ujian.

Siasat belajar waktu Ramadan

Sungguh, malam syahdu yang menjadi latar waktu salat tarawih hingga pukul sembilan malam tak menyurutkan semangat kami menelaah muqoror maupun tilawah Alquran. Berijtihad dalam talabul ilmi sungguh dianjurkan namun bukan dengan menzalimi diri sendiri tanpa memenuhi hak istirahatnya, hak ibadahnya ataupun hak-hak lainnya. Prinsip setiap kami berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ada yang begadang hingga tengah malam atau dini hari. Waktu tidurnya berganti dari malam kepada setelah ujian. Ada pula dari kami yang harus menyelesaikan target tilawahnya sebelum membuka muqoror. Tipe lainnya yang bikin iri adalah ia yang belajar sesuai dengan waktu yang terbentang di depannya dengan penuh keselarasan. Tanpa begadang, tidur siang secukupnya, serta makan ‘buka sahur’ di matam dengan teratur. Waktunya baca quran, ya, baca quran, tetap mengusahakan tuk melaksanakan salat rawatib dan nawafil tak terkecuali salat tarawih. Sikat. Ah, begitu sempurnanya cara ini. Karuniakanlah kami keberkahan dalam talabul ilmi yang kami tempuh, Ya Allah.

Masa-masa Ujian

Alhamdulillah, ujian selama 7 hari, dari hari Selasa, 21 Maret 2023 hingga hari Senin, 27 Maret 2023  berjalan lancar. Tak satupun diantara kami mendapatkan surat peringatan gara-gara menyalahi peraturan yang berlaku. Para ustazah bergantian menjadi pengawas ujian. Berjalan dari ujung ke ujuang qoah. Memastikan bahwa semua thalibah taat aturan. Di antara para ustazah juga ada yang menggilirkan absensi ujian yang kami tandatangani.

Tempat-tempat penjuru Arraayah lilbanat mulai dipadati mahasiswi-mahasiswi yang membolak-balik muqoror-red;belajar-. Maktabah dengan tempat yang super nyaman, qoah dengan fasilitas meja dan tempat yang luas. Matam rasa kafe serta kelas dengan hawa kamar tanpa barang-barang pribadi juga turut menjadi pilihan tempat belajar. Begitupun sekitar bangunan madrasah atau sakan awal dengan alam dan sinar matahari pagi yang menghangatkan nan menyehatkan badan serta qoah daur yang begitu menunjang mood siapapun yang belajar di sana. Ada pula thalibah yang memilih kamar sebagai markaz belajarnya. Kamar dimodifikasi sedemikian rupa agar proses belajar juga murojaah dan muzakaroh pelajaran berjalan lancar.

Pada hari-hari ujian, terdapat perubahan jadwal mematikan saklar lampu dan menyalakannya dan rentang waktu hirosah bagi yang berjaga di kloter kedua. Lampu yang biasa dimatikan pukul sepuluh tiga puluh, kini dimatikan pukul sebelas. Pukul 02.30, pukul di mana lampu biasa dinyalakan, kini lebih cepat  setengah jam atau pukul 02.00, mengingat mungkin di antara kami hendak tahajud, menghidupkan malam Ramadan. Di samping itu, waktu tersebut adalah waktu yang sangat pas untuk bisa belajar dini hari dan beraktivitas lainnya. 

Bikin sedih-Istibanah

Tak terasa, akhirnya hari Senin, hari akhir ujian telah tiba. Usai ujian, jawal yang digunakan siap ditaruh dan ditertibkan anggota qism ittisol. Memang hari tersebut adalah hari akhir ujian, namun waktu tersebut adalah waktu awal. Awal di mana beberapa di antara kami mengalami gejala flu. Ingus yang terdengar khas dari hidung tersumbat. Batuk-batuk yang menjadi indikasi gatalnya tenggorokan, serta gejala meriang demam, seakan memperingati badan yang mungkin dipakai bebas tanpa istirahat yang cukup. Allahummasyfi mardhona. Ya Allah sembuhkanlah mereka yang sakit di antara kami. Pukul sebelas, tepat ketika akhir jam ujian kedua, berlangsung acara pengumuman yang disampaikan Ustazah Mia dan Ustazah Ratna. Pembicara awal adalah Ustazah Mia, beliau meminta setiap dari kami membawa pena. Bagi yang tak membawa, sudah semestinya penghuni sakan awal bisa mengambil pena dengan gerak pemuda yang cenderung cepat dan meminjamkan akhowat yang belum mendapatkan pena. Dihadapan kami terdapat setengah lembar kertas yang dibalik. Tidak boleh dibuka, serta tak boleh dibaca sebelum ada instruksi. Ketika semua akhowat telah siap dengan pena dan kertas telah sempurna dibagikan, Ustazah meminta kami membuka dan mengisi kuisioner yang pertama kali kami mengisinya selama hidup di Arraayah. Kuisioner yang lebih dari naik kora-kora dalam memacu adrenalin, mencengangkan. Ustazah meminta kami yang puasa di bulan Ramadan ini agar jujur dan sudah semestinya jujur tanpa menodai bulan mulia ini. Setelah kuisioner kami isi dan kami kumpulkan, Ustazah menjelaskan tujuan sebenarnya kuisioner ini dibagikan dan dikumpulkan tanpa nama. Menjawab pertanyaan yang berada dalam benak setiap kami. Usai kuisioner, Ustazah Mia yang berasal dari Riau itu menyampaikan pengumuman mengenai perpulangan yang sama sekali tak ada wujudnya. Entah hati siapa yang patah dikarenakan itu pengumuman. Padahal, rencana Allah di masa depan siapa tahu? Atau mungkin memang yang terbaik di sisi Allah adalah keberadaan kami yang senantiasa di tempat yang mendekatkan kami kepada-Nya, Rabb seluruh alam, Allah subhanahu wa taala. Oke, lanjut kepada pembicara kedua, yakni Ustazah Ratna. Beliau menekankan bahwa yang dihadapan kami setelah ujian ini adalah sepuluh terakhir bulan Ramadan. Sudah semestinya ibadah dan amala salih dikencangkan. Beliau mengajak kami agar bersama-sama di bulan pebuh ampunan ini untuk tetap mengasah taqwa dan senantiasa mengintropeksi diri sendiri alias bermuhasabah. Amalan apa yang kiranya masih dirasa kurang? Apakah ikhlas sudah menghiasi? Serta pertanyaan yang hanya diri sendiri yang tahu jawabannya.  

Akhir ujian dan pesan semangat

Kursi-kursi yang mengisi qoah sakan awal mulai diangkati. Beberapa ada yang lupa tak mengangkat, sehingga sisa kursi-kursi tersebut menyebabkan padatnya dan tidak rapinya depan sakan awal hingga kini, saat tulisan ini ditulis. Semoga Allah memberi petunjuk bagi mereka yang tak memindahkan kursinya. Ya, ujian tengah semester genap tahun 2023 telah kami lalui. Namun bukan berarti perjuangan usai dan berhenti. Kami masih thalibatul ilm, penuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Kami mendapatkan jatah libur yang akan kami hiasi di bumi Arraayah. Ya, libur versi tholibah Arraayah. Tak pulang bukan berarti tak mengindahkan Syawal sebagai bulan di mana idul fitri yang menjadi hari awal usai akhir Ramdahan. Akan tetapi menahan rasa itu agar pulang menjadi momen yang tepat pada waktunya. Seperti kebanyakan orang bilang, indah pada waktunya. Selagi masih Allah beri jatah mencari bekal sebanyak-banyaknya, maka siapkan bekal terbaik guna hidup berdampingan dengan masyarakat kelak. Bekal fisik, mental, tak terkecuali bekal keilmuan. Wafaqakunallah. Maanannajah fidaroin ya habiibaatii.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua