Tulisan kedua
By: Oezy
Sekitar 36
mahasiswi Arraayah, peserta Halaqah Royatil Quran bersiap mengikuti acara
Khoimatil Quran yang diselenggarakan pada hari Senin,17 April 2023 hingga
Selasa, 18 April 2023. Tepat setelah muhadarah, satu setengah jam sebelum azan
duhur berkumandang di hari Senin, waktu yang munasib untuk qaylulah, kami mengadakan briefing
singkat bersama para musyrifah Halaqoh Royatil Quran. Sebelumnya kita kenalan
dulu, yuk, dengan para musyrifah yang selalu semangat ini. Mereka adalah alukht
Mega, alukht Roza, alukht Hilwa, alukht Syifa, alukht
Afiyah, dan alukht Nazifa. Salah satu di antara mereka, alukht
Hilwa, menjelaskan rundown acara yang kemudian dilanjutkan dengan
pembagian tugas sesuai divisi. Terdapat divisi acara yang dikoordinasi alukht
Sulis, Divisi tamwin dengan koordinator Fadilla serta dan Divisi perlengkapan
yang diketuai saudari Gina. Jadi setiap kami, selain menjadi peserta, juga
menjadi panitia. Selain itu, pada briefing tersebut kami diminta pula membawa
barang-barang yang sekiranya diperlukan di Khoimatil Quran yang bertempat di fashl
Jim mustawa sadis ini. Kami diberi rentang waktu untuk taruh menaruh barang
dari bakda zuhur hingga sebelum salat asar.
Para peserta Halaqah Royatil Quran yang
berjumlah 36-an ini dibagi menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 6
personil. Setiap personil men-tasmi-kan 1 juz hafalannya. Bagi kelompok
1-5, juz yang akan di-tasmi-kan sesuai urutan juz yang ada pada mushaf,
sedang bagi kelompok 6, penentuan juz bebas asal tidak sama dengan peserta yang
berada di kelompoknya. Pembagian waktu 6 juz tasmi ini adalah sebagai
berikut; 1 juz di sore hari, tepat setelah acara pembukaan; 3 juz di malam
hari; serta dua juz di pagi hari. Dari 36 anak pula, terpilih 3 peserta yang
Allah kehendaki menjadi peserta tasmi di depan akhowat setiap bakda asar
dengan microphone. Ketiga peserta tersebut adalah Alukht Gina yang men-tasmi
juz 11 (mustawa robi), Alukht Fathin (mustawa tsani dari qism mahad)
yang men-tasmi hafalannya, juz 16, dan Alukht Zaenab (mustawa
tsani) dengan hafalannya, juz 22. Masya Alloh alaihinna.
Pembukaan Khoimatil Quran
Acara ini dibuka oleh MC kondang kami yang
bernama Alukht Desi. Dalam acara sambutan, Alukht Roza dengan
penuh semangat berapi-api menyampaikan dua patah kata mengenai pentingnya
sebuah 'niat' bagi kami, peserta Khoimatil Quran. Usai acara pembukaan kami
langsung duduk sesuai kelompok dan melangsungkan tasmi. Di tengah tasmi'
Ustazah Suci hadir membersamai kami. Tak jauh dengan apa yang disampaikan oleh Alukht
Roza, Ustazah Suci juga turut menyemangati kami dengan kata-kata beliau yang
begitu menyentuh jiwa.
Kejadian Listrik Mati
Malam itu malam 27 Ramadan. Alukht Sulis,
selaku koordinator divisi acara, mengumumkan dengan suaranya yang lantang di qoah
madrasah -di mana ada peserta mutakifah juga di sana- supaya peserta
Khoimatil Quran segera masuk kelas, tentunya untuk beristirahat. Batas akhir
masuk kelas atau ‘kamar kami’ jam 12 malam agar kami bisa bangun ‘tuk
menunaikan salat tahajud jam 2 di masjid Jami Arraayah. Beruntung bagi yang menaati
perintah Alukht Sulis kala itu. Langsung tidur sebelum berjumpa dengan
jam dua belas yang mana listrik mati total pada jam tersebut. Beruntung pula
mereka yang sudah siap tidur jam duabelas dan tidak sibuk dengan aktivitas
lainnya. Pemadaman listrik membuat istirahat menjadi lebih nikmat. Alhamdulillah,
di antara kami dapat bangun jam dua dibangunkan Allah lewat wasilah peserta
yang mendapat jatah tugas iqod dibantu dengan anggota qism tamwin.
Syut, anggota qism tamwin, walaupun di antara mereka sedang 'tidak
salat' namun mereka sigap bangun dan membangunkan, bersiap menjemput pahala. Haid
bukan penghalang bagi muslimah untuk mendapat pahala dari kebaikan yang
terhampar di hadapannya, bukan? Yap, mereka akan memasak telur dadar super
lezat bagi peserta Khoimatil Quran. Tak terhitung pahala yang mereka dapat saat
kami menyantap hidangan di waktu sahur tersebut.
Tahajud, kan?
Apa kabar qism tamwin yang masak dini hari? Dikarenakan listrik mati
yang mengakibatkan gelap dan tak ada pencahayaan, banyak dari kami tak bangun,
baik peserta khoimatil Quran maupun mahasiswi lainnya. Mereka yang Allah
karuniakan untuk bisa bangun dan menggerakkan badannya pada jam dua itu, dengan
penuh perjuangan, mencari air yang tak mengalir di banyak titik. Tetap teguh
dan kukuh berjalan di bawah cahaya langit -entah kenapa langit malam 27 Ramadan
amat indah- kami memberanikan diri menaiki tangga, menelusuri lorong jembatan
menuju masjid. Begitupun qism tamwin. Memasak di tengah kegelapan, di
atas kompor yang apinya menyala. "Kayaknya ana lagi masak di zaman dahulu
kala," tutur Fadilla saat menceritakan alur tim qism tamwin memasak
di gurfah tobh.
Keseruan riyadoh, Ibu Lusi Sampai
Nyamperin
Salat subuh plus zikir usai ditunaikan, pagi itu
kami melanjutkan agenda tasmi hingga pukul enam disambung dengan
olahraga. Lajnah alias panitia sangat cerdik, mereka memasukkan kegiatan
olahraga di acara Khoimatil Quran ini. Jika dipikir-pikir, apa yang dirancang
lajnah memang benar, selain hafalan yang lancar, tubuh seorang hafidz Quran
juga harus sehat dan bugar. Pukul enam pagi tersebut, Alukht Putri,
penanggungjawab kegiatan olahraga, memandu jalannya kegiatan olahraga tersebut.
Latar tempat depan sakan awal. Di sana sudah tersiap LCD beserta layar. Setelah
pemanasan, dilanjut jimbas, senam. Nasyid tanpa musik saat senam dimulai
terdengar nyaring sampai-sampai ibu Lusi turun dari kediamannya di lantai dua.
Semoga tidak mengganggu kalian wahai Sakinat sakan awal. Rupanya Ibu
Lusi turun karena ingin ikut senam. Ikut turun pula ibu tobahoh
tergolong baru yang bernama Bu Rum. -penulis yakin kalian sering lupa nama
beliau, kan?- Beliau dengan penuh semangat ikut senam bersama kami, bergerak
mengikuti pemandu senam yang berada di layar. Spontan, terlintas di benak
penulis, senam yang indentik dengan ibu-ibu ini, bagaimana, ya, besok di
masyarakat? -kalau kita udah gede jadi ibu juga, maksudnya- Coba, perhatikan,
bukankah mahasiswa KKN biasa memasukkan agenda senam bersama ibu-ibu PKK? Yang
membuat sedih adalah, adanya ikhtilat dan musik yang mengiringi pada
kegiatan senam tersebut. Oleh karena itu, yakinlah wahai Talibah Rayah, jimbas
yang kalian dan saya ikuti selama kita menetap di Arraayah tidaklah sia-sia.
Menjadi kenangan yang begitu mahal harganya. Entah, di masyarakat nanti, akankah
kita temui kembali lingkungan seperti ini atau tidak. Lebih-lebih jadilah kau
pelopor senam tanpa musik kelak bersama ibu-ibu! Senam islami, sublim apa yang
telah kau dapat mengenai syariat semampumu di lingkungan luar setelah lulus. Arsyadanillah
waiyyakun. Selepas olahraga, kami mengadakan sesi foto bersama dan dilanjut
tasmi bagi kelompok yang belum menyelesaikan. Tak lupa, kami pun juga
harus bersih-bersih diri, bersiap mengikuti Halaqoh Arih Ruhak Bilquran dan
disambung dengan acara Muhadarah bersama Ustazah Nida.
Muhadarah
Bersama Ustazah Nida Dan Kultum Saudari Nura Menambah Zad Mental Dan Keilmuan
Kami
Pada hari Selasa, hari terakhir Khoimatil Quran,
kami menyimak muhadarah dengan pembicara Ustazah Nida. Beliau menyampaikan
sekaligus menjelaskan poin-poin penting mengenai tema ‘Kuni Robbaniyah Waa La
Takuniy Romadhoniyah’, jadilah engkau hamba Allah bukan hamba Ramadan.
Poin-poin tersebut ialah salat, Alquran, zikrullah, ihsan, qiyamullail, dan
istianah atau meminta bantuan kepada Allah. Dalam muhadarah yang beliau
sampaikan tersirat betapa pentingnya menjaga amalan yang konsisten kami
kerjakan pada bulan Ramadan di bulan-bulan setelahnya. Bukankah tanda
diterimanya amal salih adalah kami bisa terus melaksanakannya? Walaupun kadar
atau kuantitasnya bisa jadi berbeda namun tak sepantasnya amalan tersebut benar-benar
ditinggalkan secara keseluruhan. Beliau juga menekankan pentingnya doa. Lantas,
beliau memberikan misal doa yang Nabi Ibrahim panjatkan; rabbijalniy
muqimassholati wa min dzuriyati rabbana wa taqabbal dua. Nabi
Ibrahim meminta Allah agar Allah menjadikannya seorang yang senantiasa mengerjakan
salat dengan menunaikannya dengan kesempurnaan rukun, wajibat serta penuh
kekhusyukan. Itulah rahasia kalimat aqama-yuqimu-muqimun dalam bahasa
Arab. Tak hanya sekadar salat akan tetapi menunaikan dengan cara yang telah
disebutkan. Bukankah pula Rasulullah -shallallahu alaihi wasalam- mengajarkan
doa; warzuqna tilawatahu anaalaili wa athrafannahar, Ya Allah berikanlah
kami rezeki berupa keistiqomaah untuk dapat tilawah quran baik pada malam hari
maupun siang. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah sudah sepatutnya, kami
meminta agar Allah mengokohkan kami di atas keimanan dan ihsan serta amal salih
dan akhlak karimah.
Bakda asar, sebelum tasmi dari saudari
kami, Fatin, kami mendengarkan kultum yang disampaikan Alukht Nura. Nura
merangkai ceramah singkatnya mengenai dampak kemaksiatan bereferensikan kitab
"Dak wa dawak" karya Ibnul Qayyim -rahimahullah-. Semoga hati ini tak
menjadi keras diakibatkan maksiat.
Penutupan khoimatil Quran
Tak terasa, baru saja jam satu siang tadi kami
berlatih Haflah Takrim, menjelang maghrib, acara ini akan segera kami tutup.
Hidangan iftar telah tersaji dan kami telah berkumpul rapi. Ukhtaa Mega
dan Hilwa menyampaikan kalimat penutup yang begitu mengharukan. Syifa Melani,
peserta Khoimatil Quran, mustawa tsani dari qism idadiy dengan
penuh keberanian mengungkapkan kesan pesannya selama mengikuti acara Khoimatil
Quran ini. Bahwa Alquran sudah sepatutnya berada di waktu-waktu yang telah kami
beri waktu. Bukan di waktu sisa atau akhir waktu. Di penghujung acara, Fathin,
dengan lirih membacakan doa khotmil Quran, menambah kekhusyukan sesi doa
bersama ini.
Khoimah Quran akan menjadi kenangan yang tak
terlupa. Terimakasih bagi para musyrifah dan panitia yang ikhlas mencurahkan
jiwa raga demi berlangsungnya acara ini sehingga acara ini berjalan lancar. Jazahunnallahu
khoiron. Jikalau bukan karena Allah, kemudian usaha kita semua tentu, acara
ini tidak berjalan sesuai yang kita harapkan. Dengan izin dan ridho-Nya,
Alhamdulillah acara ini sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Allahummarhamna
bilquran.
Komentar
Posting Komentar