Langsung ke konten utama

Musyrifah-4



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Ya Allah, di manakah letak salah orang yang ingin memenuhi panggilan-Nya lebih awal, diawali dengan solat sunah rawatib? Selagi memang belum mampu memenuhi panggilan ke baitillah dan belum siap menghadapi panggilan kematian, maka beri Hamba kesempatan untuk selalu siap dan sigap kepada panggilan adzan-Mu Ya Allah. Beri hamba keringanan untuk melaksanakannya dalam sepi dunia maupun dalam riuh ramainya. 

Lagi-lagi ini bahasan. Bosan. Tetapi sebetulnya tidak. Bahan kebahagiaan memang besumber dari sini. Ah, juga kepiluan. Pilu karena memang bingung. Bingung harus bersikap seperti apa dan bagaimana. Ya Allah, bukankah rumus keharmonisan terletak pada segitiga itu? jika saya mendekat kepadamu, maka Engkau akan mendekatkan hamba kepada dia yang juga dekat kepada-Mu. Sayangnya, saya yang belum dekat, atau dia yang tak mau dekat. Iya, dia mujanibah. Hamba tidak tahu Ya, Allah.

Ya Allah, beribu-ribu jam sudah diri ini dan diri adik-adik bercampur erat. Antar partikel energi dan ruh yang tak habis-habisnya belakang membelakangi. Saling benci membenci. Tetapi Demi Allah, setitikpun benci tak penah saya taruh kepada siapapun itu kecuali kepada seseorang yang sangat tipis beda antara cinta dan benci. Siapa lagi kalau tidak kepada kekasih?

 Selanjutnya akhir-akhir ini saya selalu bangun terlambat. Padahal yo masih sebelum subuh, yakni jam empat pagi. Pernah kala itu hari kamis. Bangun-bangun, sudah saya dapati anak-anak berkerumun sahur di koridor kamar. Sebaliknya, mereka mendapati saya tengah baru bangun dan murottal belum menyala. Karena malamnya saya tidur pukul dua belas malam membantu kamar yang sibuk membereskan urusan “tikus”-red, hewan. Akan saya azamkan untuk bangun lebih awal lagi. Bismillah.

Pikiran tumpul sekali. Tadribat banyak yang belum kelar. Padahal yo buat diri kamu sendiri yang masih jauh pemahamannya. Sok pinter ih. Yaa uzik. Limadza? Sayangnya, partikel belum berkelindan karena dari pihak kami juga masih lemah. Belum menyatu. Entah mengapa. Lantas, langkah selanjutnya adalah segera kerjakan yang tak bikin ruwet. Bukankah kau hendak menulis banyak? Teruskan, Nid. Yakin, bisa. 

Dan banyak bicara adalah saya. Tapi seperti yang sudah saya mafhumi, tak mau banyak-banyak. Nanti di tema selanjutnya akan kita kupas. Hanya sekitar tiga kalimat lalu sudah. Anak-anak yang menjadi ampuan baca Quran saya juga amat susah dipegang. Mulai sistematis, Subuh ini! lagi! Sabtu yang aslinya kosong malah ribut dengan organisasi. Eih, nikmat lah organisasi itu, maka tidak boleh disebut ribut ya.

Koordinasi hari Ahad itu masih dilangsungi. Buat gaya, bahan story. Ya, jangan lah. Pundak ini masih terasa berat untuk memikul. Tanggung jawab yang katanya mudah, di realita tidak. Pikiran ini melesat kesana kemari ketika kuliah mulai bersinggung ria. Susah memfokuskan, namun aslinya bisa saja. Bahkan semboyan “dimudahkan urusan gegara menjadi Pembina asrama,” mungkin benar adanya. Lagi-lagi, tergantung darimana kau memandangnya.  

Terduduk termangu meracau sambil menghitung ulang rencana tak tereksekusi. Perbanyak istighfar ketika apapun yang bersangkutan dengan al-Quran sedang saya tidak ada ghirah sama sekali oh, iya, al-Quran al-hufadz yang buat Amin yang saya beli di shoping menjadi milik saya. La, Amin gak mau makai. Yey, saya senang sekali punya al-Quran bewarna biru ukuran kertas A5 itu. bagaimana, tidak, ada panduan untuk menghafal, ada arti juga ada motivasi al-Qurannya perhalamannya. Artinya saja membuat lebur hati yang keras, ditambah motivasi yang semakin membuat cair hati bak es di siang hari. Terima kasih, wahai diri. Maafkan saya wahai diri. Kita tetap menetap di satu atap. Jangan berhenti berharap kepada Allah. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya yang begitu luas. Juga kepada diri. Yang patut dicamkan adalah, mari kita disiplinkan diri 😊 Jangan tidur larut hari, supaya sempat bangun tahajud dan sejenak berkontempelasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua