BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Ya Allah, di
manakah letak salah orang yang ingin memenuhi panggilan-Nya lebih awal, diawali
dengan solat sunah rawatib? Selagi memang belum mampu memenuhi panggilan ke
baitillah dan belum siap menghadapi panggilan kematian, maka beri Hamba
kesempatan untuk selalu siap dan sigap kepada panggilan adzan-Mu Ya Allah. Beri
hamba keringanan untuk melaksanakannya dalam sepi dunia maupun dalam riuh
ramainya.
Lagi-lagi ini
bahasan. Bosan. Tetapi sebetulnya tidak. Bahan kebahagiaan memang besumber dari
sini. Ah, juga kepiluan. Pilu karena memang bingung. Bingung harus bersikap
seperti apa dan bagaimana. Ya Allah, bukankah rumus keharmonisan terletak pada
segitiga itu? jika saya mendekat kepadamu, maka Engkau akan mendekatkan hamba
kepada dia yang juga dekat kepada-Mu. Sayangnya, saya yang belum dekat, atau
dia yang tak mau dekat. Iya, dia mujanibah. Hamba tidak tahu Ya, Allah.
Ya Allah, beribu-ribu
jam sudah diri ini dan diri adik-adik bercampur erat. Antar partikel energi dan
ruh yang tak habis-habisnya belakang membelakangi. Saling benci membenci.
Tetapi Demi Allah, setitikpun benci tak penah saya taruh kepada siapapun itu
kecuali kepada seseorang yang sangat tipis beda antara cinta dan benci. Siapa
lagi kalau tidak kepada kekasih?
Selanjutnya akhir-akhir ini saya selalu bangun
terlambat. Padahal yo masih sebelum subuh, yakni jam empat pagi. Pernah kala
itu hari kamis. Bangun-bangun, sudah saya dapati anak-anak berkerumun sahur di
koridor kamar. Sebaliknya, mereka mendapati saya tengah baru bangun dan
murottal belum menyala. Karena malamnya saya tidur pukul dua belas malam
membantu kamar yang sibuk membereskan urusan “tikus”-red, hewan. Akan saya
azamkan untuk bangun lebih awal lagi. Bismillah.
Pikiran tumpul
sekali. Tadribat banyak yang belum kelar. Padahal yo buat diri kamu sendiri
yang masih jauh pemahamannya. Sok pinter ih. Yaa uzik. Limadza? Sayangnya,
partikel belum berkelindan karena dari pihak kami juga masih lemah. Belum
menyatu. Entah mengapa. Lantas, langkah selanjutnya adalah segera kerjakan yang
tak bikin ruwet. Bukankah kau hendak menulis banyak? Teruskan, Nid. Yakin,
bisa.
Dan banyak
bicara adalah saya. Tapi seperti yang sudah saya mafhumi, tak mau
banyak-banyak. Nanti di tema selanjutnya akan kita kupas. Hanya sekitar tiga
kalimat lalu sudah. Anak-anak yang menjadi ampuan baca Quran saya juga amat
susah dipegang. Mulai sistematis, Subuh ini! lagi! Sabtu yang aslinya kosong
malah ribut dengan organisasi. Eih, nikmat lah organisasi itu, maka tidak boleh
disebut ribut ya.
Koordinasi hari
Ahad itu masih dilangsungi. Buat gaya, bahan story. Ya, jangan lah. Pundak ini
masih terasa berat untuk memikul. Tanggung jawab yang katanya mudah, di realita
tidak. Pikiran ini melesat kesana kemari ketika kuliah mulai bersinggung ria.
Susah memfokuskan, namun aslinya bisa saja. Bahkan semboyan “dimudahkan urusan
gegara menjadi Pembina asrama,” mungkin benar adanya. Lagi-lagi, tergantung
darimana kau memandangnya.
Terduduk
termangu meracau sambil menghitung ulang rencana tak tereksekusi. Perbanyak
istighfar ketika apapun yang bersangkutan dengan al-Quran sedang saya tidak ada
ghirah sama sekali oh, iya, al-Quran al-hufadz yang buat Amin yang saya beli di
shoping menjadi milik saya. La, Amin gak mau makai. Yey, saya senang sekali
punya al-Quran bewarna biru ukuran kertas A5 itu. bagaimana, tidak, ada panduan
untuk menghafal, ada arti juga ada motivasi al-Qurannya perhalamannya. Artinya
saja membuat lebur hati yang keras, ditambah motivasi yang semakin membuat cair
hati bak es di siang hari. Terima kasih, wahai diri. Maafkan saya wahai diri.
Kita tetap menetap di satu atap. Jangan berhenti berharap kepada Allah. Jangan
berputus asa dari rahmat-Nya yang begitu luas. Juga kepada diri. Yang patut
dicamkan adalah, mari kita disiplinkan diri 😊 Jangan tidur
larut hari, supaya sempat bangun tahajud dan sejenak berkontempelasi.
Komentar
Posting Komentar