Ahad, 22 Maret 2020
Kami telah latihan berkali-kali
supaya bisa tampil untuk hari ini. di tengah sibuk-sibuknya organsasi. Di
tengah pusingnya ujian sana-sini juga bimbel hari itu hari ini, kami sempatkan
untuk latihan berkali-kali itu. Kami, hadroh Muallimat. Tetapi kehendak-Mu
menghendaki hal lain, kami di suruh kembali kepada orang tua kami
masing-masing. Kami kelas tiga, disuruh fokus belajar dan mengenal hakikat diri
masing-masing. Kami, musyrifah disuruh berkontempelasi mengenali kesalahan yang
kami perbuat dan sejenak beristirahat dari padat riuhnya asrama pada setiap
kali malam datang. Hari ini, tepat waktu yang ditargetkan perdana, tak
terlaksana. Akibatnya, sedih dan kecewa timbul. Tetapi tak apa, kesempatan di
depan sana masih lengang dan pasti ada. Latihan kami diampu oleh pelatih
sebrang. Awalnya, gak mau, mengapa harus bocilnya? Ungkap kami kesal. Tetapi
ada rahasia di benak sang pelatih, yakni, seperti ini yang efektif mengajari
alat musik itu di samping keterbatasan saya. Lantas, mengapa harus diiyakan
tawaran kemarin sore itu? membahas awal tak elok jika tak dibarengi dengan
pertengahan. Terkadang kita yang tepat waktu, terkadang mereka. berarti
keduanya pernah terlambat. Pernah saat hujan basah kuyup pelatihnya datang dari
jalan kaliurang sana. Bully membully seakan gak ada habisnya. Padahal nek gak
dirasakan sebagai pembullyan Namanya nak yo bukan bully to? Apa gegara usia
yang tak terpaut jauh, jadi ada kesan bara api di hati kita. Di akhir-akhir,
atau minggu terakhir seharusnya latihan, pelatihnya sedang lomba. Semangat
menyemangati menjadi intermezzo tersendiri bagi kami yang juga penasaran dengan
lomba yang alat musiknya saja, baru kami pelajari. kami saling bertanya ketika
ahad itu senja. “harus menang us, guru lho us, guru lho us” wkwk. Ya, memang
benar guru. Guru yang masih terbatas dan masih banyak belajar juga. Semoga bisa
dijadikan cambuk bagi pelatihnya dan semakin paham betul akan kesenian yang
satu ini. njuk, bisa ngajarin kita-kita lagi. Wkwk. Tetapi sungguh, di balik
hari ini, adalah hari Isra’ mi’rajnya Rasulullah Muhammad SAW. Sedikit berpuisi
sedikit gapapa ya.
Isra' kami hari ini.
Memperjalankan akal pikiran
supaya tetap berakar pada fitrahnya
Wahai Baitul Haram,,
Wahai Baitul Aqsa,,
Tempatmu yang jauh itu apa kabarnya?
Keberkahan kami cari, di hari
Isra' ini
Hari di mana semua orang kafir
bertambah kekafirannya.
Hari di mana, istri Nabi dan
pamannya sudah tiada. Hanya abu bakar seorang yang dia punya. Maka sungguh iri
diku dengan ash shiddiq, gelar yg diberikan kepadanya, akan kepercayaan akan
kebenaran apapun yang disampaikan oleh Sang Baginda.
Maka percayakah orang2 hari ini
akan kehebatan Allah terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya?
Iman kami pada-Mu, tebalkan lah,,
Kokohkanlah,, hanya keimanan kepada-Mu yang menguatkan tawakkalnya kami
kepada-Mu. Percaya sepenuhya dengan apapun keputusan-Mu.
Iman kami kepada Malaikat-Mu,
perkuatlah. Mereka yang selama ini mendampingi keseharian kami. Mecatat amalan
kami. Bersiap mencabut nyawa kami dalam detiknya kami. Pun malaikat-malaikat
yang jumlahnya entah berapa selalu membuktikan bahwa mereka adalah makhluk yang
tunduk dan senatiasa bertasbih tiada henti.
Iman kami kepada kitab-Mu,
perbaguslah. Terkadang mengimani al-Quran hanya sebatas membaca tanpa makna,
tanpa amal. Padahal yang dimaksud adalah tumbuh suburnya hati ini terhadap
sensitivitas terhadap al-Quran juga timbulnya rasa tenang dalam hati. Yakin
akan firman-Nya bahwa Allah sedang mencoba berkomunikasi, menghibur jiwa kami,
meluluhkan kerasnya hati.
Iman kamu kepada Nabi-Mu,
perindahlah. Bahwa yang indah di mata manusia saat ini, bukan Sang Baginda
tetapi media. Yang diitiba’ bukan Sang Rasul melainkan aplikasi palsu berwajah
hiburan. Beri karunia kami untuk tetap mencintai dan selalu bersolawat kepada
Nabi Muhammad SAW, Ya Allah.
Iman kepada Hari akhir,
tumbuhkanlah. Terkadang kami masih tak percaya akan hari berbangkit itu. hari
di mana seluruh amalan, sekalipun sebesar biji sawi, akan dan pasti dibalas.
Asal makai, asal ngambil, asal comot, masih menjadi kebiasaan buruk kami. Ya,
Allah, ampuni kesalahan kami.
Iman kepada Qada dan Qadar,
tanamkanlah. Kami suka berputus asa jika dihadapkan akan taqdir yang buruk.
Padahal hal tersebut merupakan peringatan dari-Mu karena hamba suka kufur
terhadap nikmat-Mu. Ya Allah, Hamba memohon ampun kepada-Mu.
Komentar
Posting Komentar