Langsung ke konten utama

Ladangku hilang? Benarkah?




Musyrifah kelas tiga dan kelas enam masih berjibaku dengan anak-anaknya. Masih grusak-grusuk dengan kewajiban red-amanahnya. Aku sediri masih mengetik dan memutar otak, berpikir bagaimanakah detik, menit, jam ini hendak digunakan untuk hal yang bermanfaat? Ributnya asrama terganti dengan suara Cicitan tikus. Bisingnya terganti dengan sepinya koridor juga aula dan musola. Hampa dan begitu seperti sedang di alam mimpi. Jamaah itu terganti dengan rapatnya shof kami, musyrifah berlima. Jarang-jarang kita seperti ini. biasanya dengan kalian kok. Mendengar kata off tiga bulan diganti dengan pembelajaran jarak jauh (daring/online), mak deg hati ini. tak kuasa menahan sedih. Mampukah hari-hari berikutnya hamba jalani tanpa adanya mereka? Ya, Allah, mereka adalah ladang pahala bagi saya. Jika mereka pergi, akankah ladang saya juga ikutan pergi? Maka pada tulisan kali ini, saya mencoba mengkaji ulang kata “ladangku hilang.”
 
Tak sepenuhnya benar ungkapan tersebut. Saya bahkan bisa menulis lebih banyak dan memberi ruang tak terbatas bagi diri untuk mengoptimalkan bertambahnya kualitas jiwa dan raga. Menumbuhkan mental yang selama ini sakit didera lingkungan. Membabat habis basis-basis kelemahan, keraguan, dan kegelisahan. Melatih rasa tawadhu’ atau rendah hati dengan makhluk-Nya yang lain untuk bisa melihat betapa kecilnya diri ini. Sungguh, kata-kata “ladangku hilang”, itu, tidak tepat Nida. 

Ada beberapa poin yang akan saya sampaikan bahwa tiga bulan dan corona itu maknanya;

Pertama, menguji kualitas ibadah yang dijalani selama ini. Ibadah di asrama atau rumah sama baiknya atau lebih buruk? Bagaimana dengan amalan-amalan sunnahnya? Dikerjakankah atau malah ditinggalkan? Inilah sebabnya istiqomah itu amat sangat diperlukan. Direview serta direfresh kembali niat ibadahnya. Ingat, hanya karena Allah semata.

Kedua, rasa kekeluargaan itu semakin nikmat dirasa. Terakhir kali dapat makan Bersama kapan? Sholat berjamaah kapan? Saling bisa curhat-curhatan kapan? Masyaa Allah, nikmat, bukan, tiga bulan itu?

Ketiga, kesempatan birrul walidain terbuka lebar. Ayah saya meninggal saat saya kelas enam SD. Sedang jaman ngeyel-ngeyelnya. Hendak minta maaf dan berbuat baik kepada ayah, sudah terlambat Namanya. Tugas selanjutnya adalah menjadi anak solehah dan terus mendoakan almarhum ayah. maka bagi siapapun yang mendapat kesempatan tiga bulan ini, jangan disiakan dengan gadgetmu. Hormati mereka, pergaulilah keduanyan dengan cara yang ma’ruf, dengan begitu Allah tak segan-segan memperlancar urusan kita selaku anak, dan memudahkan jalan kita menuju impian kita serta jalan menuju ke surga.

Keempat, kontempelasi bak Rasulullah SAW. Masyaa Allah. Jika kita pernah membaca dan memahami sirah nabawiyah, sejarah nabi Muhammad SAW, kita akan mendapati bahwa beliau pernah melakukan kontempelasi. Kontempelasi itu beliau lakukan di saat jenuh dengan kondisi umat. Saat itu beliau belum diangkat menjadi nabi, umurnya menginjak 40 tahun beristrikan Khadijah binti Khuwailid. Ia memikirkan betapa jahiliyahnya bangsa Arab saat itu. yang disembah adalah berhala, padahal berhala tidak mendatangkan suatu bahaya atau manfaat satupun. Anak perempuan dikubur hidup-hidup dikarenakan menahan malu, wajah orang tuanya menghitam karena kecewa, marahnya. Dan segenap perbuatan yang begitu jahil. Muhammad tak kuasa dengan kondisi tersebut. Beliau memutuskan untuk berkhalwat (kontempelasi) di gua hira. Ia hanya berharap, suatu saat kondisi ini bisa berubah kepada kebenaran yang hakiki. Kontempelasinya berbuah agung. Beberapa bulan setelah dimulainya kontempelasi itu dengan tetap dan masih didampingi oleh Istri tercintanya, Muhammad resmi mengemban amanah mulia itu. andai saja kau mau membaca sirah nabawiyahnya itu sendiri, membaca kisahnya, kau akan termlongo sendiri. Lantas, bagaimanakah kontempelasi kita?
Kelima, dan seterusnya masih banyak lagi sebetulnya, boleh banget ditambahkan. 

Nikmati tiga bulan. Kangen yang melanda menjadi cobaan. Sayangi tubuh dan badan dengan minum dan makan. Ingat, jangan Cuma gadgetan. Juga mandi dua kali sehari harus jadi kebiasaan. Gak mau kan balik-balik asrama, panuan, jerawatan plus gudikan? Juga jangan sekali-kali pacaran. Camkan, ke asrama lagi tiga bulan kemudian, bukan Sembilan bulan. Yakin, kita semua adalah calon bidadari idaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua