Langsung ke konten utama

KULIAH ONLINE, PEMBELAJARAN ONLINE DAN SEJENISNYA



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Saya masih saja berkutat dengan fitur daring ini. semuanya bahkan, mahasiswa, pelajar, tk, paud, semuanya pakai daring-daring ini, bukan hanya saya. Sering, tidak adanya rasa takdzim saat pembelajaran berlangsung menjadi momok dan akar dzalim tersendiri. Padahal Allah telah memberikan keberkahan tersendiri bagi kami para tholabul ‘ilmi. Tak takutkah jika keberkahan itu berkurang atau tidak ada sama sekali? Sampai ditinggal tidur lho, ah dasar akuu! Masyaa allah. Hendak menangis aja kok saya kayak gitu banget ya. Ditinggal liat youtube lah, drama lah, status lah, buka medsos ini-itu lah. Sungguh perdana yang berbuah ketiadaan akhlak. Perdana dalam daring. 

Istighfar banyak-banyak. Ulama mutaqaddimin, cara belajarnya seperti itukah? Jika kelas dimulai jam delapan atau kurang dari jam tersebut, maka harus tidak harus, cinta tidak cinta, ya usahakan posisi kita sudah dalam keadaan wangi, bersih dan sudah mandi pastinya. Kamar atau tempat belajarnya juga pastikan bersih, supaya belajar yo nyaman. Like usual. Jangan khianat dengan kebiasaan baik to. Juga mewajibkan diri sendiri untuk solat dhuha terlebih dahulu. Usahakan juga, kita dalam kondisi suci yaa, supaya setan susah masuk ganggu kita.

Oh, iya, tugas-tugas yang numpuk harus segera diselesaikan. Murojaah pelajarannya, dijadikan agenda yang nikmat untuk dijalankan. Rasa susah dan sambat harus segera dienyahkan. Bungahlah. Kelak jadi bunga yang merekah. Sungguh, hebatnya mata yang mampu mengahalau kantuk. Hebatnya jiwa yang mampu bergelora walau diterpa malas. Badan yang abot menjadi ringan saat mendapat suntikan pengurang abot alias semangat teman-teman. Bismillah, mari kita jalani kuliah online kita layaknya hari biasa ditambah dengan keikhlasan plus-plus. 

Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri yang masih minim dalam pengamalan. Takut saya malah jarkoni. Saya menulis agar saya bisa paham dan mampu memberi rumus bagi diri saya. Jika tidak ditulis itu, rasanya hanya bayangan kosong tak bermakna. Ada tulisan, ada tuntutan,supaya saya mengerjakan.

Jika sudah berjam-jam di depan gadget, maka kurangi intensitasnya. Bukan malah ditambah-tambah jam ini-itu. bisa rusak gadgetnya, kepanasan penggunaan, sehari berapa kali coba, dicharge tu gadget? Jjuga badan (mata, tangan, punggung, semuanya pokoknya), letih, bung! Bisa-bisa sampai alam mimpi juga meragakan sedang main gadget. Sudah, ya. Kurangi, ya. Mau, ya. Azamkan, ya. Kuncinya hanya ada di dirimu dan dirimu. 

Sungguh, apa kaitannya Allah sengaja memberikan momentum korona-kuliah daring-bulan Sya’ban-bulan Ramadhan? Jikalau begitu, rasa syukur tiada henti saya panjatkan, diberi kesempatan supaya bisa beribadah sebanyak-banyaknya. Memberikan saya kesempatan untuk berlatih one day one juz sebelum Ramadhan itu datang. Juga kesempatan bagi saya agar saya bisa latihan-latihan ibadah sunnah lainnya. Ada juga yang secara tidak sadar, momentum ini adalah musibah baginya. Ia menjadikan waktu daring ini untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sungguh, musibah agama telah menimpanya. Rasa tinggi hati menyelubungi secara tak sadar. Merasa amalannya benar, padahal jauh kenyataan dari yang disangkanya itu. na’udzubillahi min dzalik.

Jikalau kamu ada dana
Bolehlah beli pisang tujuh tandan
Wahai sya’ban, wahai corona
Waktunya bersiap untuk Ramadhan

Perhiasan harganya mahal
Jual-belinya ada yang curang
Kuliah onlen, disambi banyak hal
Akankah barokahnya berkurang?

Semoga pantun di atas bisa menghibur. Maaf jika ada kata-kata yang menyakitkan. Bismillah, kita kuat. Barakallahu li wa lakum. Astaghfirullahal ‘azim.
-stay@dorm@31Maret2020
-Rifdalucubanget

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua