Assalamualaikum
Tulisan bulan Februari ini, saya
sengaja buat akhiran. Saya hendak membuat review mengenai kelas calon ibu yang
saya ikuti selama satu bulan terakhir. Sudah empat kali kami bertemu setiap
hari Sabtu. Pertemuan pertama kami berdiskusi mengenai Ibu Bahagia. Ternyata,
ketika kita bijak menghadapi sesuatu tanpa mengedapankan emosi marah, insyaa
Allah, semuanya terasa baik-baik saja. Tergantung nih, kita memandangnya dari
sudut yang mana. Pemateri yang menyampaikan materi tersebut adalah Ibu Ida Nur
Laila. Apoteker sekaligus pakar keluarga, istrinya Pak Cah. Ini dia aha idea
dari pertemuan pertama, kalau terhadap anak, jangan berikan alasan yang ketika
alasan itu tidak kuat, maka anak tidak akan menurutinya. Misal kalau bermain air
hujan, nanti ibu marah lho. Kalau begitu, tidak ada ibu, dia tidak takut deh
buat mainan air hujan. Juga tentang memakai kerudung. Ih, adik cantik banget e
pakai kerudung, berarti besok besok kalau sudah kenal makeup dan sebagainya,
dia selalu mengedepankan cantiknya. Aku lebih cantik ke salon dari pada pakai
kerudung. Karena penanaman prinsip yang salah, anak jadi keblinger memahami
sesuatu. Seharusnya yang pertama kita rangsang adalah, rasa tauhid kepada Allah
SWT, rasa cinta kepada Allah Sang pembuat Aturan, yang tiada habis dan selalu
abadi sebelum kiamat nanti. Adik tambah solehah, Allah tambah cinta kepada adik
kalau pakai kerudung. Adik mau kan dicintai Allah? Kemudian aha moment lainnya
adalah rasa Bahagia adalah produktifnya kita dalam keseharian kita. Hukumnya
adalah, ketika kita terus bergerak, maka diprediksi, dia rasa bahagianya akan
bertambah. Jika ternyata hukum ini salah, maka kesalahan ada pada pihak yang
tidak merasa Bahagia. Dia seharusnya merasakan kenikmatan dan kepuasan
tersendiri ketika dia banyak bergerak dan selalu menebar manfaat. Maka dengan
hal tersebut, kita mengukir prestasi tak terlihat dalam diri kita sendiri. Jika
sudah tau seperti ini, maka meleklah! Bangun dari tempat tidurmu! Dari
rebahanmu! Jauhkan gadgetmu! Dan bicaralah! Bicaralah tanpa ada yang dipendam,
tentang apa yang selama ini ada dalam benakmu dan ungkapkan, jadikan bahan
kekritisan orang dalam berargumen. Kamu spesial dengan cara bicaramu. Aha
moment ketiga, sudahkah hidup kita bersanding dengan manfaat. Jempol kita ini,
sudahkan digerakkan sebagaimana mestinya? Red-main gadget. Mata kita ini serta
nikmat sehat ini? tangan kita hidup juga, maka hendak diberi amalan yang baik
atau yang buruk? Maka, orientasikanlah kehidupan kita dengan orientasi meaning
life, hidup yang bermakna. Orientasi pada keberkahan hidup. Bukan tentang
panjangnya usia atau banyaknya harta, akan tetapi seberapa berkah usia dan
harta yang dipunyai ini? Maka saya suka jika sudah menyinggung dengan yang
ilmiah ilmiah. Bahagia membawai banyak hormon yang manfaatnya sungguh luar
biasa. Mampu membuat kita awet muda dan menyehatkan fisik kita. Ingat, fisik
yang sehat dari psikis yang sehat. Psikis yang sehat, dari fisik yang sehat.
Membahas hal ini, saya jadi
teringat akan supelmu terhadap banyak orang yang kau kenal. Begitu ramah kau
terhadap semua yang kau temui. Betapa dan betapa murahnya dirimu untuk mereka
singgahi, nyamani. Kau memikat banyak orang dengan kepribadianmu. Ah, pantas
kau Bahagia, kau banyak bernteraksi dengan banyak orang. Pun rasa rendah hati
selalu menjadi bagian hidupmu.
Maaf paragrafnya gak selesai-selesai.
Lah wong Panjang banget e, satu pokok pikiran di atas. Selanjutnya, sebagaimana banyak orang yang
sudah mafhum, bahwa pura-pura Bahagia, pun dapat menimbulkan dampak yang sama dengan
Bahagia asli. Caranya, senyumlah yang ikhlas, maka kita akan Bahagia.
Ada beberapa hal yang dapat
membuat kita Bahagia. Tanpa dijelaskan seharusnya kita bisa tahu sendiri dong,
tetapi saya mau membahasnya. Kita bisa Bahagia karena olahraga. Jujur, saya Bahagia
kalau sudah melaksanakan olahraga. Badan menjadi ringan untuk beraktivitas dan
enaklah pokoknya. Otak menjadi banjir oksigen dan hormone yang entah apa
sebutannya. Kedua, karena kita jatuh cinta. Kepada keluarga khsususnya. Rasanya
ingin bertemu mereka setiap detiknya. Kemudian karena kita sudah memaafkan
orang lain. Menahan amarah itu baik. Lebih baik dan tinggi lagi tingkatannya
ketika kita mencapai derajat dapat memaafkan orang lain dan bersikap baik
terhadap orang tersebut. Setelah itu, ialah segera move on dari kegalauan dan
kebaperan. Caranya, hubungi Allah SWT dengan sholat dan sabar.
-hadrohmuat, bismillah
-mustawatsalits
-pamong-musyrifah-mujanibah-anak-keluarga
-umroh-arrayah-khusnulkhotimah-ayah
Komentar
Posting Komentar