Setiap harinya, ibu-ibu ke pasar.
Dengan waktu yang sama, dan rutinitas yang sama. Aku, setiap harinya bangun
tahajud, lalu mandi atau mencuci dan tidak tidur lagi bakda subuh. Itulah
contoh habit yang baik. Di mana kau tak bisa mengendalikannya kecuali setelah
kau paksa dengan kesungguhan dan berubah menjadi kesadaran yang jikalau tak
dilakukan pasti ada sebagian hidupmu yang hilang dan pastilah kau akan menyesal
jika tak melakukannya.
Setiap malamnya, pecandu narkoba
melakukan aksinya. Dalam puncak frustasinya dan beban berat hidupnya. Aku,
setiap harinya yang selalu menatap layar handphone kemudian melalaikan
serangkaian tanggungjawab yang akhirnya menjadi terbengkalai dan aku menjadi
apatis terhadap lingkungan sekitar. Berjam-jam bisa seperti itu. Itulah contoh
habit yang buruk. Di mana ketika kau melakukannya ada kepuasan tersendiri
bagimu yang kau tak tahu betapa kontemporer dan subjektif sekali perasaan puas
tersebut. Tak berselang lama, puas berubah menjadi ancaman akan amanahmu yang
belum diselesaikan. Baik amanah dalam keseharian maupun amanah sebagai Hamba
Allah di muka bumi.
Paragraph pertama mengajarkan
kita akan susahnya memulai itu, dan mudahnya menjalankan setelah usai masa
memulai. Bekerja misalnya. Saya selalu melihat orang tua menggendong peralatan
kebersihan dalam perjalanan saat brangkat kuliah. Daerah Kasihan yang penuh
jalan mendaki dan curam, Bapak tersebut lewati dengan ikhlasnya dan tanpa
beban. Jika saya terlambat, Bapak tersebut sudah sampai di dekat yang jualan
cakwe. Tetapi jika saya on time berangkat, Bapak itu baru berada di jalan
mendaki sambil menenteng jualannya yang berat itu. Amat meluluh hati ini, akan
unsur intrinsik dalam kisah itu. Ingin rasanya mewawancarai bapak itu,
menanyakan awal mula bagaimana awal dahulu Bapak bekerja? Jika saya bisa saja
menanyai bapak itu, sudah sepatutnya saya juga bisa bertanya akan hal itu
kepada ibu saya.
Ibu yang di pagi hari penuh
kesibukan berfaedah dan lain sebagainya. Gawean rampung, perfecto sempurna.
Ngalah-ngalahin ibu-ibu lain yang pada sibuk bikin status dan kebanyakan
gossip. Astaghfirullahadzim. .ibuku, cintaku.
Oke, kita lanjut ke paragraf dua.
Paragraf kedua mengajarkan kita akan sangat susahnya mengubah kebiasaan buruk
dibanding memulai perbuatan baik tetapi tidak ada yang tidak mungkin, bukan?
List agenda, penuh berjejalan.
Pun banyak tugas yang kelupaan gara-gara sering ditunda. Nggak enak. Telah mengajarkanku, sholat lima waktu tepat
waktu akan kedisiplinan. Jika salah satu saja ada yang tertunda, pastilah kau
merasa ada tanggungan besar, ditambah itu lagi, diambah yang ini dan
sebagainya. Subuh mislanya, belum mandinya, makannya, stress rasanya. Mending
berat dikerjakan di awal dan dengan rasa tepat waktu dibanding menumpuk tidak
karuan. Masyaa Allah.
Step pertama jika kita ingin
mereset atau memperbaiki dalam hal memanage waktu adalah, kita berdoa kepada
Allah SWT. Kita harus yakin akan kuasa Allah memampukan kita untuk menggunakan
waktu yang dengan percuma diberikan oleh-Nya untuk seluruh manusia, guna
genguji kita, manakah hamba-Nya, yang paling baik amalannya.
Step kedua adalah menuliskannya.
Jika tak kau tulis, tanda bahwa kau tak serius dengannya. Dengan waktumu.
Ayolah, menulis tidak membuatmu rugi. Kau bisa merasa lebih baik dan bahagia lagi dengan menulis tulisan
jadwal hidupmu sendiri. Kau telah menghargai hidupu dengan harga yang tak
ternilai.
Terakhir, pesanku untuk diriku khususnya, aku
adalah wanita. Kelak jadi ibu dan harus bisa mengontrol waktu. Kalau tidak
latihan dari sekarang, lantas pas jadi ibu, mau mulainya? Namanya telat dong. Namun
persiapan tuk jadi ibu, bukan hanya soal waktu. Emosi pula, uang pula
(pengeluaran-red), dan bekal intelektual yang memadai.
-anakpadakeracunantongkol
-adaaseseorangygmaugantiinles
-nabunghajinyasemangat!!!
Komentar
Posting Komentar