Langsung ke konten utama

Ibukk





Bu, rasanya, anakmu ini lama sekali tidak bertemu denganmu. saya tiba-tiba bahkan selalu teringat sesuatu, Bu. Banyak barang dan dokumen berharga pernah saya hilangkan. Tidak sengaja, Bu. Maafin saya, ya, Bu. Atmlah, stnklah, KTPlah dan lain sebagainya. Ibu, hampir satu tahun sejak tahun 2019 hingga 2020, saya selalu mencoba tes SIM dan belum berhasil. Saya punya harapan dapat menyelesaikannya dengan segera tetapi selalu saja gagal. Saya berharap dapat mendapatkan SIM tanpa nembak alias dengan jerih payah saya sendiri. Tetapi 365 hari saya lalui, seakan tidak ada perkembangan berarti dari melewati angka delapan dan huruf U itu. Dalam hati, sungguh, lima tahun pun akan saya jalani asal SIM tersebut bisa saya ambil dari dan tanpa nembak.

Alasannya untuk oleh-oleh cerita untuk anak saya kelak. Tahu, bahwa ibunya tak kenal putus asa. Haha. Tetapi ibu adalah ibu. Tak kuasa Ibu melihat saya wira-wiri, sana-sini, polres-muat-bantul-dwiwindu, begitu seterusnya,  dan akhirnya, Ibu mengurus pembuatan SIM saya hingga SIM itu ada di tangan saya. Masyaa Allah,, Ibu. Tak tega melihat saya yang padahal notabene sudah kuliah dan tentunya bisa menentukan pilihan saya sendiri. Dengan pelayanan terbaik dari ibu, serta ibu agaknya nenganggap saya, selalu sebagai anak kecilnya, sim salabim, SIM, teradalah. Siapkah saya seperti ibu-red, menjadi ibu?

Ibu, ingatkah ketika di pondok alias asrama itu, saya selalu curhat kepada ibu mengenai kondisi teman, asrama, guru, pimpinan dan semuaya? Detail-detailnya, saya ceritakan semua. Cerita mengerikan yang  seharusnya tidak terjadi di asrama, saya kisahkan juga kepada ibu. Ibu mendengarkan takdzim. Dengan tangisan misterius saya, saya menderu setiap berkisah. Tanggapan ibu datar seolah, saya memang bisa mengatasi masalah sendiri dan dewasa dalam menghadapinya. Padahal ciut bangett.

Ibu, bisa jadi saya adalah orang teraneh dari sekian banyak teman-teman lainnya. Bagaimana, tidak, ke mall saja jarang sekali. Tak pernah pula berhubungan dengan yang di sebrang sana. Ke sekaten saja yang sudah ada jadwal dan memang diperbolehkan, tidak mau ikut. Mending di asrama, melakukan aktivitas yang saya suka. 

Untuk masalah uang, saya tidak boros, kan, Bu? Jatah saya ya memang jatah saya. Jarang sekali saya meminta tambahan. Amat sungkan saya meminta kepada ibu. Mau londri, tetapI sadar dengan kondisi uang dan memaksakan untuk mencuci sendiri baju saya, sekalipun jam tiga pagi, hingga sekarang. 

Ibu, saya tidak pernah menutupi akan laki-laki yang saya suka. Saya bercerita kepada Ibu semuanya. Tentang asalnya, kepribadiannya, saya beritahu semuanya kepada Ibu. Fotonya juga saya tunjukkan. Walaupun ibu tidak pernah merseponnya dan tahu kalau saya hanya main-main saja, tetapi saya mau berterima kasih, ibu sudah mau mendengarkan. Karena banyak di luar sana, anak tidak mau bercerita kepada orang tuanya apalagi masalah cinta-cintaan. Hapenya dibuka oleh orang tua sendiri saja, ada saja sang anak memberi alasan-alasan tak mutu guna menutupi rahasianya itu. Mengapa hal itu bisa terjadi? Entah, tentu jika hal itu sudah terjadi, sang anak dan orang tua harus sama-sama melakukan evaluasi dan sama-sama ada naiatan untuk memperbaiki hubungan emosional mereka. 

Ibu, terima kasih sudah mencoba menjadi figure ibu yang ideal yang bisa saya contoh ketika saya jadi ibu. Yang paling saya suka dari ibu adalah, ibu bukan  tipe hapean dan juga tidak lalai gawean. Ibu tidak mempunyai media sosial, seperti facebook atau Instagram, dan itu adalah ciri ibu idaman. Paling saya terkesan dari ibu adalah ibu tidak pernah membuat status. Di saat ibu-ibu di luar sana berselfie ria guna memenuhi ruang media sosialnya, tetapi tidak dengan ibu. Ibu berbeda dan saya bangga memiliki ibu.

Ibu, ingat tidak dulu sewaktu di Sportorium UMY? Saya dan ibu maju dua kali guna penyerahan hadiah. Walaupun saya memang bukan kader terbaik (masuk nominasi, sih) tapi menjadikan Ibu tampil di atas panggung, adalah anugrah yang tidak terkira. Wajah saya amat biasa, bu, tidak dimakeup seperti teman kebanyakan. Siapa sangka, sih orang buluk kayak saya bisa maju ke panggung? Tetapi Allah berkehendak lain. Di saat teman-teman mengundang tukang make up jam tiga pagi, saya tidak. Di saat teman-teman lain pada mengundang gebetannya, saya tidak. Sungguh, wisuda kala itu saya tampil apa adanya. Tak akan ada yang tahu cerita ini kecuali orang-orang yang memang benar-benar mau mengambil pelajaran. Ada satu teman laki-laki yang dia berjanji memberi saya hadiah berupa buku, sebagai hadiah kelulusan saya, Bu. Itupun dia ngomongnya waktu  bakda idul fithri, satu bulan setelah dilaksanakan wisuda. Saya tidak tahu, sih, Bu, dia tahu kalau saya maju dua kali di panggung atau tidak, tetapi sepertinya dia tulus mau memberi buku itu. Bulan demi bulan berlalu, Bu. Buku itu saya sengaja batalkan supaya jangan sampai ada  mawaddah sebelum pernikahan. Walaupun galaunya seperti hampir mati, tentu itu lebih baik dari pada menerima mawaddah itu. 

Ibu, saya pengen bisa masak, biar besok kalau sudah berkeluarga, saya bisa masak buat mereka. Hehe.  Oh, iya, Bu, tabungan hajinya Nida baru sedikit banget. Gak papa, ya, Bu, Nida mau nabung haji. Biar gak antri kelamaan.


-maksimaldalamseuanyakarenaALLAHdanORANGTUA
-jikabelumbisabantusetidaknyatidakmenyakiti
-barjalannengpantai
-rembulantenggelamdiwajahmu. Cuzkannnn. Ternyata outdate. syedihh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua