Yapz. Kita sering banget
ngerencanain ini itu yang berujung nggak jadi. Mati-matian ngeluangin waktu di
jam padat demi sebuah tugas yang begitu kita ambis akannya. Setelah waktu H
tiba, bukannya mengoptimalkan waktu yang ada untuk tugas tersebut, kita malah
asyik dengan gadget kita. Dramkornya yang nanggunglah, status temen yang kudu
direply lah, asyik scroll sana sinilah dan kegiatan perbudakan hape zaman now
lainnya. Begitu mewabahnya penyakit hapean di kalangan kita para remaja. Padahal
sumber kehidupan kita adalah makanan, yang melahirkan kita adalah ibu, dan yang
menjadikan akal kita waras adalah ilmu. Tidak ada hubungannya sama sekali,
gadget dengan akar pokok kehidupan kita.
Begitu mudahnya
kita terbawa, terhipnotis, serta terngecesnya air liur jikalau tanpa kuota data
atau wifi di satu hari saja milik kita. Nelongso sekali hidupnya. Menjadi
paling kasihan. Hei sadar, uang yang aslinya, yang tok pakek buat beli kuota
itu, cukup banget buat memberi makan 10 orang miskin. Gak sadar, betapapun
kuota itu, 1 kilobyte yang telah diproses penggunaan datanya itu, akan
senantiasa menanti untuk dimintai pertanggungjawabannya.
Hidup menjadi sendiri-sendiri dengan rasa
besar kepala karena media sosial itu berasa menjadi jubah kebesaran kita yang
selalu kita urus terus menerus. Terus dipercantik sedemikian rupa. Senantiasa
dirawat, ditengok dan ditemani seperti anak kandung sendiri. Melupakan
sumber-sumber tadi yang telah disebutkan. Lupa maem, lupa mandi, lupa ngerjain
tugas, lupa solat bahkan. Naudzubillahi mindzalik.
Wacana hafalan
berhamburan entah kemana. Wacana murojaah satu juz minimal, samsek tidak ada
pantauannya. Baca bukunya, yang aslinya level cemen ini, sok-sokan mau level
drakula? *ngantukk. Ada cucian numpuk, setrikaan numpuk, tapi beralibi bahwa
waktunya mepet sekali dan dipastikan bahwa numpuk akan tetap numpuk, nanti, dan
besok. Haha. Numpuk-numpuk, meledaklah akhirnya.
Aku sudah mulai
harus latihan without Hape. Ke kampus gak bawa hape it’s ok sekali-kali.
Diibaratkan saja hape bagai anak tiri. Tentunya buat dapetin pasangan soleh
kelak, pasangan yang perhatiannya ke kita only, gak ke hape itu, dimulai dari
kita sendiri, dong. Kita sendiri yang harus biasain gak hapean. Barulah dapat
jodoh yang sepadan. Maunya diperhatiin, situ ngaca belom, kalau ternyata juga
gak merhatiin? Wkwkwk.
Percuma hanya
diangan dan tersumbat sampai gerbang pikiran. Hendaknya, pendapat yang seperti
ini yang kudu kita antar kedalam inti proses pikir agar bisa diolah dan bisa
menjadi tindakan bahkan kebiasaan. Kalau bisa jadi kebanggaan. Mau sampai kapan
sih, punya sifat kekanak-kanakan? Cepat banget senengnya, tapi juga cepet
banget putus asanya. Yuk, kita bangun mental kita sekeras baja. Kita latih
dalam latihan di kehidupan. Dicela tak tumbang, dipuji tak jumawa,
Sembilan belas
tahun, mendekati angka dua puluh. Angka yang fantastis, bukan? Saya belum bisa
hafal Quran layaknya ilmuwan muslim terdahulu. Belum maniak buku yang jadi kita
lebih merunduk. Masih jalan menenteng tangan, bodoh. Sampai kapan hendak
seperti ini? saya harus punya jariyah. Ilmu atau bangunan sama baiknya. Jariyah
berupa sumber daya manusia lebih baik. Dua puluh tahun, sudah, dan lupakan
mengenai betapa bertahunnya rasa ini hinggap. Kita saling berjauhan atau kita
saling memutuskan pilihan siapa yang kamu pilih dengan jelas. Biar njok uwes,
ra baper-baper. Rampung. Gara-gara bucin ki, ngopo-ngopo angel e. Dan
berujunglah, wacana.
#stophalu
#stopbucin
Masya Allah 💙
BalasHapusSemoga aku dan kamu jadi pribadi yang selalu berprogres
BalasHapusdan selalu istiqomah di jalan-Nya. Barakallah.
Aamiin