Langsung ke konten utama

Musabaqah



Bismillahirrahmanirrahim
Tentang Musabaqah (Perlombaan)

Berlomba dengan seseorang atau banyak orang menuntut kita agar selalu menjadi yang terbaik, kalau bisa, mengalahkan pesaing-pesaing itu. Namun beda orang beda karakter. Ada yang berusaha mati-matian. Saat melihat usaha temannya begitu serius dia grusak grusuk gak mau kalah. Memikirkan bagaimana usahanya harus melebihi dari temannya. Ada juga yang mikir bodo amat dengan usahanya sendiri. Pesimitis. Tidak dilahirkan untuk berbakat dalam bidang yang hendak dilombakan. Latihannya hanya di awal saja, selebihnya, mutung, gak mau lagi. Padahal pelatihnya sudah mendorong dan mendukungnya dengan maksimal. Ada satu tipe yang lain, yaitu, mereka yang ketika hendak lomba melakukan 2 hal, yakni ikhtiar dan tawakkal. Proses itu berlangsung ketika sebelum lomba, ketika lomba, dan setelah lomba. Sebelum lomba, dia berusaha dengan mengerahkan segala kemampuannya. Dia tidak peduli dengan pesaing-pesaingnya itu. melihat mereka sama saja menghancurkan latihan-latihan yang selama ini telah dijalankan. Dia mulai menumbuhsuburkan rasa percaya diri di dalam dirinya. Berlatih setiap hari dengan berpatok pada usahanya yang sebelumnya. Dia pastikan bahwa usaha hari ini harus lebih baik dari yang kemarin. Pandangannya tajam, jauh ke depan. Hatinya tenang dan menyadari bahwa apa saja yang telah dilakukan dan kelebihan yang dimiliknya bersumber dari Allah SWT. Doa juga termasuk di dalam ikhtiar, ya. Bisa apa kita tanpa Allah? Padahal Allah yang memberi kita semuanya, mau engaku-ngaku itu hasil usaha kita? Jikalah nikmat tersebut dicabut, berputusasalah kita.

Juara satu. Ya, apa yang diharapkan dari kata juara? Hadiah, kah? Uangkah? Atau ketenaran di mata manusia? Kalau begitu, mari kita lihat, apa yang terjadi jika kita berharap hal-hal semacam itu menjadikan barang sebagai tujuan akhir,  kemudian hasilnya, kita tidak menang, bagaimana perasaannya? Kecewa pasti. Merasa hidup ingin segera diakhiri saja. Putus asa melingkupi kehidupannya. Hal semacam ini juga berlaku bagi pemenang yang punya karakteristik hadiah sebagai tujuan akhir. Ketika dia menang, kemenangannya tak menambah semangatnya untuk menyebarluaskan ilmu yang sudah dipunyainya kepada orang lain. Cukuplah hadiah dan keterkenalan, dia sabet, selebihnya dia tidak mau mengambil kesempatan berupa melakukan kebaikan.

Menjadi orang yang belum menang. Hei, ingat, masing-masing dari kita punya jatah gagal dan sukses masing-masing. Ketika jatah gagal kita sudah dihabiskan di awal, maka tidak sepatutnya kita putus asa, karena boleh jadi, jatah-jatah sukses di depan sana, menanti kita. Dan hati-hati bagi yang telah menghabiskan jatah suksesnya di awal, bisa jadi jatah gagal tinggal menunggu hitungan waktu. So, hati-hati dalam sikap kita ya!

Definisi belum menang menandakan kita kurang serius dan kurang lama dalam berlatih. Dengan belum memangnya kita, kita semakin terpacu maju ke depan dan lebih menjadi pribadi yang rendah hati. Dengan belum menang pula, kita teselamatkan dari tanggungjawab yang besar jika kita menang.
Menjadi pemenang. Tujuan akhir, ialah, kau ternyata tahu, pesaing itu juga hebat-hebat. Mempunyai kemampuan yang sebelas dua belas dengan pemenang. Bersikap santai dan meremehkan para pesaing, dapat menjatuhkan level pemenang menjadi pecundang. Selain itu, pemenang dituntut untuk memiliki peran lebih di masyarakat dengan label pemenang di dalam dirinya. Mengajarkan orang lain justru menjadi bidang utama. Bah, tak mau mengajar? Tenggelamkan!! Banyak dicari-cari orang itu sudah so pasti. Diundang ke sana-sini, mau tak mau. Salah siapa jadi pemenang? Sudah konsekuensinya tau.

#Uzikjanganngantukantoo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua