Langsung ke konten utama

Istiqomah



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, guys, ini tulisan kesekian guwe. Terpaksa atau tidaknya, saya harus tetap nulis guna menshare pikiran dan pendapat saya. Shok atu, dikritisi tulisan saya, wahai para pembaca yang Budiman. Menyampaikan usul juga boleh banget.

Istiqomah memang sulit. Di awal saja, melaksanakannya amat mudah, mempertahankannya itu, lho amat sulit. Walau sulit, BISA. Walau sulit, BISA. Mindset seperti itu yang harus kita bangun. Artinya apa? Artinya kita semua punya kesempatan yang sama untuk berusaha. Usahanya yang beda-beda. Ada yang mentalnya sekuat baja. Ada juga yang gaweae mutungan. 

Coba kita cek di diri kita sendiri. Di kelas 1 MTs. Pertama kali masuk asrama. Wuih, tahajudnya kencang luar biasa. Hari demi hari berlalu. Makin lama kita makin down tahajudnya, yang awalnya sebulan tiga puluh kali, menjadi seminggu sekali. Dari seminggu sekali menjadi sebulan sekali, terus gak pernah sama sekali. Na’udzubillahi min dzalik. Oke, saya akan ceritakan tahapan kelas saya di Muallimaat pada tulisan selanjutnya yak. 

Istiqomah. Istiqomah menuntut kita untuk selalu ingat dengan tujuan kita. Kau ingin membangun istana beserta mahkotanya untuk keduaorangtuamu? Maka jangan sekali-kali kau tidur bakda subuh. Setiap harinya dan jangan terputus. Syaratnya, kau harus menghafal al-Quran 30 juz. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Ingat amalan yang dicintai Allah itu? Ya yang terus menerus walau sedikit daripada banyak tetapi tidak kontinyu. Kawan, kita harus bakoh menghadapi tantangan menghafal. Ngantuknya yang luar biasa, teman-teman yang jalan kesini-sana. Orang tua yang masih dirindukan sangat,lah dan lain sebagainya. Jika kau mampu menghalau tantangan itu, maka kau secara otomatis mampu mendarat ke tujuan kita di awal itu. ingat, walau sulit, BISA. Ucapkan itu lebih dari sepuluh kali di pagi hari, maka lihatlah keajaibannya. 

Saya memang ngantukan Ya, Allah. Tetapi Bismillah, saya bisa istiqomah layaknya orang yang dimotivasi. Hendak berkata apa lagi. Berharapnya dibangunin tahajud, tetapi diri ini yang menjadi pembangun tahajud. Berharapnya ada yang ngingatin makan, tetapi diri ini yang selalu ngingatin makan anak-anak. Susah, buat mencari jati diri masa-masa sekarang ini. bismillah istiqomah murojaah perhari 5 lembat, membaca al-Quran dari bakda maghrib sampai Isya’, belajar dari jam setengah delapan sampai jam dua belas di mahad. Istiqomah pula naik sepeda ke kampus minimal seminggu sekali. Juga istiqomah melakukan amalan-amalan sunnah (tahajud, dhuha, puasa) walaupun libur. Dan istiqomah-istiqomah lainnya yang menghantarkan saya ke tujuan supaya berhasil.

Bagaimana dengan K.I? Apakah bisa seistiqomah dulu? Saya mau mencobanya kembali. Sudah mulai dari sekarang tanpa nanti. Karena kalau masalah tunda-menunda, saya tahu kalau itu adalah awal kegagalan, kecuali kau ada alasan yang kuat sebagai argument supaya kau bisa menunda tanpa dosa. Contohnya nih, (penulis mau beralibi) saat hendak menulis sebagai isi tulisan blog, sudah malam sekali, dia sendiri harus bangun pagi-pagi guna membangunkan anak asrama. Maka dia ijin, menunda tulisannya untuk tidur, dari pada kebablasan gak tahajud dan subuh. Dia percaya, Allah akan selalu membantu pekerjaannya di saat dia percaya akan kekuatan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Penolong. Mungkin kau mau menambahi dengan alasan menunda tanpa dosa lainnya? 

Teguhlah kamu, layaknya gunung yang kokoh. Rendah hatilah kamu, layaknya padi yang semakin berisi semakin merunduk. Bermanfaatlah kamu layaknya lebah yang dengan obat madunya, mujarrab menyembuhkan berbagai penyakit.

#RihlahMahadEuyy
#UAS13Januari
#LiburUAS2mingguaja







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua