Baru tahu, saya, akan dibencinya menjadi utusan Allah itu.
Beruntungnya, tidak sebegitu pedih itu
yang saya rasakan, paling hanya seperseratusnya. Menyampaikan pesan dan nasihat
serta hikmah-Nya, amat begitu susah, Ya, Allah. Tetapi saya yakin, saya bisa.
Saya bisa menjalani amanah dari-Mu. Saya akan melaksanakan dengan maksimal,
apa-apa yang telah menjadi kewajiban ini.
Biarlah kerlingan air mata karena beberapa ulah anak menjadi
penawar hati yang marah. Biarlah badan kurus kering kerontang karena mengurus
mereka dari pagi hingga pagi lagi. Bagi yang tidak merasakan kesibukan saat
menjalankan tugas musyrifah ini, mungkin mereka sudah sangat nyaman dengan
posisinya itu. Sudah bisa ikhlas dengan hal-hal yang terjadi. Sudah bisa aktif
ngopeni anak. Berprasagka saja, dia tidak merasa tidak berguna dan merasa
sia-sia gara-gara disorientasi akan tujuannya sebagai musyrifah.
Bangunin tahajud kadang, tetapi menyalakan murottal pada jam tiga
pagi, Alhamdulillah setiap hari. Ngatur jadwal piket asrama supaya malaikat mau
menemani kita solat berjamaah, mau mencatat di antara kita, siapa yang tahajud.
Dan mau membersamai kita membaca al-Quran. Jangan sampai hanya setan yang
menertawai kita dan berbangga diri karena berhasil dapat pengikut. Berhasil
memperdayai kita sebagaimana nabi Adam dahulu hingga dikeluarkan dari surga.
Bukan, kah setan suka bersarang di tempat yang kotor? Juga suka akhlak yang
tidak baik dan kotor. Ngeri, ah.
Kumpul musyrifah adalah di mana kita saling bertegur sapa dengan
musyrifah asrama lain. Saling bertukar cerita serta pikiran. Cerita mengenai
anak yang ngeyel, anak yang banyak pointnya, pun kebalikannya, cerita tentang
anak yang solihah luar biasa dengan amalan sunnahnya. Bagaimana agar kita
selalu bakoh ya di dapat dari situ. Apalagi saat miss Rena memotivasi kami
dengan sindirannya yang tajam. Bismillah, ladang pahala menanti di penghujung cerita.
Perpindahan kamar. Halimah juga ikutan pindah ke musola. Episode
selanjutnya saya akan ceritakan tentang halimah yak. Sabar. Anak-anak baru dan
jumlah berbeda, lebih sedikit. Artinya, tanggungjawab di hadapan Allah di hari
kiamat tentang anak ampuan Insyaa allah lebih ringan. Ibaratkan saja seperti
harta, semakin banyak dipunyai, semakin lama pula hisabnya. Pun dengan anak,
dari 32 menjadi 24. Tetapi yang paling top markotop ketika jumlah anak banyak,
dimintai pertanggungjawabannya oleh Yang Maha Kuasa mudah dan bisa berjalan
lancar.
Greteh-greteh cerewet tanda peduli, Sayang. Sayang, tidak banyak
yang tau dan paham. Urusan tahfidz paling nyebelin saat akhir mau ujian sebagai
syarat bisa ikut ujian. Mosok musyrifahnya yang dituntut begadang nemenin
mereka yang belum selesai targetnya? Malu jadi mereka. Muka sebelumnya yang sok
menentang dan ngeremehkan kita, di waktu itu berubah 180 derajat. Beberapa hari
setelahnya, ketika ujian telah dilewati, mereka sudah lupa akan
permohonan-rengekan itu dan kembali menjadi manusia tak tau diri sepanjang
zaman. Ya Allah, betapa pun nasib Hamba, Hamba harus selalu memiliki sikap
pemaaf. Bukankah, Engkau yang paling sering dipelakukan seperti ini oleh para
hamba-Mu termasuk hamba sendiri. Sedang Engkau Maha Pemaaf, Maha Pengampun.
Sering dimintai ketika butuh, ketika nikmat sudah ada di tangan, melupakan-Mu
menjadi sikap terbodoh kami. Bukankah, Nabi Muhammad yang paling sering disakiti dan
dikhianati oleh kaum kafir quraisy dan musyrikin, bahkan sahabatnya sendiri melakukan hal yang sama, mengkhianati Nabi. Namun, sikap apa yang ditunjukkan oleh Nabi? Beliau tetap
bersikap lemah lembut dan tetap berlaku baik kepada mereka, dan tidak pernah
balas menyakiti ataupun mengkhianati.
3JAN2020
berhentimencintaimuwajibhukumnya
Komentar
Posting Komentar