Langsung ke konten utama

Musyrifah-3


Baru tahu, saya, akan dibencinya menjadi utusan Allah itu. Beruntungnya, tidak  sebegitu pedih itu yang saya rasakan, paling hanya seperseratusnya. Menyampaikan pesan dan nasihat serta hikmah-Nya, amat begitu susah, Ya, Allah. Tetapi saya yakin, saya bisa. Saya bisa menjalani amanah dari-Mu. Saya akan melaksanakan dengan maksimal, apa-apa yang telah menjadi kewajiban ini.
Biarlah kerlingan air mata karena beberapa ulah anak menjadi penawar hati yang marah. Biarlah badan kurus kering kerontang karena mengurus mereka dari pagi hingga pagi lagi. Bagi yang tidak merasakan kesibukan saat menjalankan tugas musyrifah ini, mungkin mereka sudah sangat nyaman dengan posisinya itu. Sudah bisa ikhlas dengan hal-hal yang terjadi. Sudah bisa aktif ngopeni anak. Berprasagka saja, dia tidak merasa tidak berguna dan merasa sia-sia gara-gara disorientasi akan tujuannya sebagai musyrifah. 

Bangunin tahajud kadang, tetapi menyalakan murottal pada jam tiga pagi, Alhamdulillah setiap hari. Ngatur jadwal piket asrama supaya malaikat mau menemani kita solat berjamaah, mau mencatat di antara kita, siapa yang tahajud. Dan mau membersamai kita membaca al-Quran. Jangan sampai hanya setan yang menertawai kita dan berbangga diri karena berhasil dapat pengikut. Berhasil memperdayai kita sebagaimana nabi Adam dahulu hingga dikeluarkan dari surga. Bukan, kah setan suka bersarang di tempat yang kotor? Juga suka akhlak yang tidak baik dan kotor. Ngeri, ah.

Kumpul musyrifah adalah di mana kita saling bertegur sapa dengan musyrifah asrama lain. Saling bertukar cerita serta pikiran. Cerita mengenai anak yang ngeyel, anak yang banyak pointnya, pun kebalikannya, cerita tentang anak yang solihah luar biasa dengan amalan sunnahnya. Bagaimana agar kita selalu bakoh ya di dapat dari situ. Apalagi saat miss Rena memotivasi kami dengan sindirannya yang tajam. Bismillah,  ladang pahala menanti di penghujung cerita. 

Perpindahan kamar. Halimah juga ikutan pindah ke musola. Episode selanjutnya saya akan ceritakan tentang halimah yak. Sabar. Anak-anak baru dan jumlah berbeda, lebih sedikit. Artinya, tanggungjawab di hadapan Allah di hari kiamat tentang anak ampuan Insyaa allah lebih ringan. Ibaratkan saja seperti harta, semakin banyak dipunyai, semakin lama pula hisabnya. Pun dengan anak, dari 32 menjadi 24. Tetapi yang paling top markotop ketika jumlah anak banyak, dimintai pertanggungjawabannya oleh Yang Maha Kuasa mudah dan bisa berjalan lancar.

Greteh-greteh cerewet tanda peduli, Sayang. Sayang, tidak banyak yang tau dan paham. Urusan tahfidz paling nyebelin saat akhir mau ujian sebagai syarat bisa ikut ujian. Mosok musyrifahnya yang dituntut begadang nemenin mereka yang belum selesai targetnya? Malu jadi mereka. Muka sebelumnya yang sok menentang dan ngeremehkan kita, di waktu itu berubah 180 derajat. Beberapa hari setelahnya, ketika ujian telah dilewati, mereka sudah lupa akan permohonan-rengekan itu dan kembali menjadi manusia tak tau diri sepanjang zaman. Ya Allah, betapa pun nasib Hamba, Hamba harus selalu memiliki sikap pemaaf. Bukankah, Engkau yang paling sering dipelakukan seperti ini oleh para hamba-Mu termasuk hamba sendiri. Sedang Engkau Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Sering dimintai ketika butuh, ketika nikmat sudah ada di tangan, melupakan-Mu menjadi sikap terbodoh kami. Bukankah, Nabi Muhammad yang paling sering disakiti dan dikhianati oleh kaum kafir quraisy dan musyrikin, bahkan sahabatnya sendiri melakukan hal yang sama, mengkhianati Nabi. Namun, sikap apa yang ditunjukkan oleh Nabi? Beliau tetap bersikap lemah lembut dan tetap berlaku baik kepada mereka, dan tidak pernah balas menyakiti ataupun mengkhianati.

3JAN2020
berhentimencintaimuwajibhukumnya




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua