Langsung ke konten utama

The Power of Tawakkal



Menjadi perwakilan lomba dan maju tingkat nasional merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku akan ke Jakarta Timur besok lusa, hari Ahad untuk mengikuti olimpiade matematika. Tiba-tiba bulu kudukku merinding, air mata mau menetes, membayangkan ketika aku sudah sampai sana. Ya, Allah, Engkaulah Pemudah segala-Nya. Maka mudahkanlah hamba dalam perjalanan dan mudahkanlah hamba untuk mengerjakan soal. Amiin.

Aku percaya akan kekuatan allah Yang Maha Besar. Allah Maha Pembolak-balik yang handal. Dia memampukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk mampu. Tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah SWT. Seketika aku teringat kenanganku berupa tips yang pernah disampaikan oleh guru SDku, guru abadi bagiku, dua tahun silam.

Pak Asep, guru PAI yang bertubuh gempal , bertanya kepada siswa SD kelas 6A, kelasku. Hendak menguji mereka, seberapa paham anak-anak ini tentang kehebatan Allah.
“Nak, apa jadinya jika kamu ada ujian tapi kamu belum belajar, atau mungkin sudah belajar tetapi belum paham dengan pelajarannya. Kamu bakal ngapain, Nak?”
“Batalin ujiannya, Pak.”
“Saya mau nyontek kalau begitu.”
Suara anak sahut menyahut. Menjawab dengan jawaban polos. Tak ada yang benar. 

Pak Asep terdiam kemudian berkata, “Bapak pernah memiliki murid seperti itu di sekolah lain. Anaknya itu kalau di suruh paham pelajaran, susah sekali. Saya sebagai guru apalah daya. Setiap anak tentu diberi kemampuian yang berbeda. Haruskah bapak memaksa anak itu? Ketika ada ujian, hasilnya sungguh mengherankan. Dia mendapat nilai tertinggi di kelas. Ketika bapak tanya anak ini. Bapak merasa kalah dengan anak ini. Mau tau jawabannya, anak-anak?”
Semua murid bergidik termasuk aku. Aku ingin sekali tahu jawabannya.
“Iya, Pak!”
“Dari pertama dia menaiki kendaraan sampai soal itu dibagikan, dia selalu mengucapkan ‘bismillahirrahmanirrahim’ tanpa henti. Bismillahirrahmanirrahim...Bis.. Dia ikhlas, dia ridho atas apa yang Allah tentukan baginya. Bapak tak kuasa, Nak, dengan kejadian atas anak itu. Mungkin diantara anak-anak ada yang tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Semoga kalian bisa meniru anak ini.”
“Hahahahah..”
Aku dan teman-temanku tertawa. Mungkinkah hal semacam itu terjadi? Enak sekali, tidak susah payah belajar.
Kami belum memahaminya.

Di SMP kali ini aku bertemu dengan guru semacam ini lagi. Bedanya kali ini adalah guru matematikaku. Pengampu olimpiadeku. Namanya Bu Hanan. Dengan senjata keyakinan dan tawakkal , Bu Hanan mengajarkan soal-soal membingunkan nan memusingkan. Rasanya ada kekuatan supranatural yang guru itu salurkan kepadaku. Beliau pernah bercengkrama denganku. Isinya hampir seperti apa yang pernah disampaikan Pak Asep.

“Kau mau tahu, Nak Nida, apa rahasia Ibu bisa dengan izin Allah, mengerjakan soal-soal matematika dan beberapa kali pernah menjuarai olimpiade bahkan di tingkat internasional? Bukan ibu bermaksud sombong tetapi somoga saja kamu mau mengerti hal ini, Nak.”
“Memang bagaimana, Bu?”
“Allah yang mengizinkan ibu untuk mengerjakan soal matematika itu, maka sudah sepatutnya ibu hanya bersandar kepada-Nya. Malam sebelum lomba dimulai ibu sempatkan untuk membaca dua juz al-Quran. Kalau biasanya, sehari ibu bacanya hanya satu juz. Ibu juga selalu bangun tahajud baik ada lomba atau gak ada lomba sekalipun. Dan ketika lomba dimulai ibu seolah-olah mendapat ilham untuk bisa menjawab soal itu. Ibu selalu berdzikir, meminta kemudahan sama Allah. Tak hanya tangan dan pikiran yang bekerja. Bibir dan hatipun beradu mengingat-Nya.”

Hari ini adalah H-1 olimpiade. Aku berangkat dari Jogja ke Jakarta naik kereta jam delapan pagi bersama Bu Hanan. Sampai sana sekitar jam empat sore. Setelah itu kita ke wisma naik angkutan umum.  Alhamdulillah, kita  mendapat wisma yang berdekatan dengan lokasi lomba. Tak pernah terlupa di lubuk, pikiran, dan hatiku kutempatkan hanya untuk-Nya. Malam ini aku hanya tinggal beristirahat. Prinsipku, belajar itu ya kemaren. Sekarang jatahnya mempersiapkan mental dan hati. 

Aku dibangunkan Allah jam tiga pagi. Wudlu, solat tahajud, dilanjut membaca al-Quran sepuluh lembar alias satu juz. Semoga bisa istiqomah kayak Bu Hanan.

Soal tadi terasa amat mudah bagiku. Rasanya benar-benar seperti ada yang membantuku. Tak lain dan tak bukan pasti Allah Yang Maha Penolong yang melakukannya. Kini waktunya menungggu pengumuman. Bibir dan hatiku masih beradu padu. 

MC mulai membuka penutupan acara. Beberapa hiburan ditampilkan hingga tibalah pengumuman pemenang olimpiade dibacakan. 

“Pemenang pertama diraih oleh, Nida Fauzia,  dari SMP Mulia Hati Yogyakarta. ”
Maha Suci, Engkau, Ya Allah. Engkaulah Yang Maha Besar. Sungguh uang dan seluruh hadiah ini adalah milik-Mu dan hanya untuk-Mu.

-pernah dimuat di majalah kuntum 
-nyata fiksi gitoe
-asyikdeh kalau inget zaman kelas 3 MTs

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua