Karena kita
sama-sama bekerja atas anugrah dari Sang Maha Kuasa, maka sedikit akan saya
paparkan mengenai teman-teman saya di mahad. Hampir semua mahasiswinya
bercadar. Kapan nyusul, Nid? Nggak tahu nih. Padahal bercadar itu tentunya cita-cita
Muslimah sejati yang tertinggi. Di mana keindahan dirinya hanya ditujukan
kepada pasangannya kelak. Di mana, hal tersebut merupakan upaya sang akhwat
untuk terbebas dari gelar “fitnah wanita.” Namun begitu, saat di kelas, ketika
cadar-cadar itu terlepas, terlihat deh, wajah ayunya, kepribadian dan karakter
aslinya. Mereka tetap solihah-solihah dong, pastinya.
Ada yang sudah
berumur 40 tahun ke atas yang sekelas dengan saya. Bersemangat sekali, memahami
Bahasa al-Quran itu. Tidak terkira, tinggi motivasinya dan tekadnya. Memalukan
diri saya yang masih saja tertidur di kelas. Padahal yo malam, nggak bergadang.
Padahal mung sekolah neng mahad.
Ada pula Nurul
yang nyambi kuliah di UT jurusan Biologi Murni. Jam kosong, dia selalu membuka
mempelajari buku-buku tebal yang bikin saya berdecak kagum. Beliaupun juga
menjadi musyrifah di asrama Tahfidz, cabang Mahad Ali. Maklum, sudah hafidzh 30
juz dan Mbak Nurul ini sering memurojaah hafalannya di kelas. Dengan suara
lantang dan tanpa malu-malu. Iya, kan, ngapain malu dengan kebenaran? Eh, dia
seangkatan lho dengan saya. Katanya tertarik gitu, menjadi ilmuwan atau ulama
Muslim yang tegas dengan teori yang selaras dengan agama. Dia juga cadaran.
Idaman dan inspirasi sekali, pokoknya.
Ada pula yang
seumuran dengan saya, yang usianya 19 dan sudah menikah. Nikah muda maksute.
Antar jemput suami dong. Daripada pacaran nggak jelas dan terjerumus dalam
lembah zina, lebih baik menikah, bukan? Mbaknya alumni Ibnul Qayyim.
Sebenarnya, saya kasihan melihat remaja seumuran saya, menikah muda. Apa saya
saja yang tidak menjalani kemudian bebas berkomentar sesuka hati? Tetapi dalam
benak dan lubuk hati saya yang paling dalam, muncul pertanyaan, apa mereka
masih bebas? Apa mereka masih bisa main ke sana kemari? Nek saya belum sanggup
untuk menikah muda. Saya ingin menikmati muda dengan menjalani apa yang saya
bisa jalani. Salut bagi mereka yang nikah muda! Selagi memang belum ada yang
datang dan memang belum ada ya, ada alasan untuk tidak menikah muda. Akan
tetapi, jika waktu dekat ini ada yang datang, agama dan akhlaknya dia baik, ya
segeralah diterima.
Cukup ya,
jodoh-jodohnya. Hafalan masih bejibun lisnya. Pelajaran masih banyak
ketinggalan, masih mikir jodoh ki alur pikirnya bagaimana?
Kita lanjut ke saudara
ganteng saja. Amin di al-Hikmah alhamdulillah makin soleh. Nggak hapean lagi.
Dibawain hapenya tapi nolak nggunain dan milih pinjem hape ibuk. Amin sampai
lupa gimana caranya maen WA. Aminku sayangku!
Mas Nanda KKN
di Gunungkidul. Itikad saya buat nelpon belum terlaksana. Kamu betah-betah, ya,
Mas, di sana. Gek cepet dirampungke kuliahe, terus kerja, terus nikah. Terus
aku deh yang nikah. Kan tadi bilangnya cukup. Heh.
“Bapak, aku
dijemput sekarang, yo. Yah, dijemput sekarang.” Antara bapak atau ayah,
panggilan saya kepada laki-laki yang saya cintai seumur hidup saya. Bismillah,
kami bertiga meneruskan perjuangan Ayah yang tiada kenal Lelah mendedikasikan
dirinya untuk ummat. Yang ikhlas menjalani sesuatu itu. Yang humoris nan
sederhana itu. “Salam buat ayah, yah, doaku selalu mengalir menjadi jariyahmu,
Yah!”
Ayah pergi
pertanda kami harus menjadi pibadi yang mandiri dan ikhlas dari hati nurani.
#malamRajab
#GusBaha
#darikoskakBil
Komentar
Posting Komentar