Langsung ke konten utama

Mahad-1



Karena kita sama-sama bekerja atas anugrah dari Sang Maha Kuasa, maka sedikit akan saya paparkan mengenai teman-teman saya di mahad. Hampir semua mahasiswinya bercadar. Kapan nyusul, Nid? Nggak tahu nih. Padahal bercadar itu tentunya cita-cita Muslimah sejati yang tertinggi. Di mana keindahan dirinya hanya ditujukan kepada pasangannya kelak. Di mana, hal tersebut merupakan upaya sang akhwat untuk terbebas dari gelar “fitnah wanita.” Namun begitu, saat di kelas, ketika cadar-cadar itu terlepas, terlihat deh, wajah ayunya, kepribadian dan karakter aslinya. Mereka tetap solihah-solihah dong, pastinya.

Ada yang sudah berumur 40 tahun ke atas yang sekelas dengan saya. Bersemangat sekali, memahami Bahasa al-Quran itu. Tidak terkira, tinggi motivasinya dan tekadnya. Memalukan diri saya yang masih saja tertidur di kelas. Padahal yo malam, nggak bergadang. Padahal mung sekolah neng mahad.
Ada pula Nurul yang nyambi kuliah di UT jurusan Biologi Murni. Jam kosong, dia selalu membuka mempelajari buku-buku tebal yang bikin saya berdecak kagum. Beliaupun juga menjadi musyrifah di asrama Tahfidz, cabang Mahad Ali. Maklum, sudah hafidzh 30 juz dan Mbak Nurul ini sering memurojaah hafalannya di kelas. Dengan suara lantang dan tanpa malu-malu. Iya, kan, ngapain malu dengan kebenaran? Eh, dia seangkatan lho dengan saya. Katanya tertarik gitu, menjadi ilmuwan atau ulama Muslim yang tegas dengan teori yang selaras dengan agama. Dia juga cadaran. Idaman dan inspirasi sekali, pokoknya.

Ada pula yang seumuran dengan saya, yang usianya 19 dan sudah menikah. Nikah muda maksute. Antar jemput suami dong. Daripada pacaran nggak jelas dan terjerumus dalam lembah zina, lebih baik menikah, bukan? Mbaknya alumni Ibnul Qayyim. Sebenarnya, saya kasihan melihat remaja seumuran saya, menikah muda. Apa saya saja yang tidak menjalani kemudian bebas berkomentar sesuka hati? Tetapi dalam benak dan lubuk hati saya yang paling dalam, muncul pertanyaan, apa mereka masih bebas? Apa mereka masih bisa main ke sana kemari? Nek saya belum sanggup untuk menikah muda. Saya ingin menikmati muda dengan menjalani apa yang saya bisa jalani. Salut bagi mereka yang nikah muda! Selagi memang belum ada yang datang dan memang belum ada ya, ada alasan untuk tidak menikah muda. Akan tetapi, jika waktu dekat ini ada yang datang, agama dan akhlaknya dia baik, ya segeralah diterima.

Cukup ya, jodoh-jodohnya. Hafalan masih bejibun lisnya. Pelajaran masih banyak ketinggalan, masih mikir jodoh ki alur pikirnya bagaimana?

Kita lanjut ke saudara ganteng saja. Amin di al-Hikmah alhamdulillah makin soleh. Nggak hapean lagi. Dibawain hapenya tapi nolak nggunain dan milih pinjem hape ibuk. Amin sampai lupa gimana caranya maen WA. Aminku sayangku!

Mas Nanda KKN di Gunungkidul. Itikad saya buat nelpon belum terlaksana. Kamu betah-betah, ya, Mas, di sana. Gek cepet dirampungke kuliahe, terus kerja, terus nikah. Terus aku deh yang nikah. Kan tadi bilangnya cukup. Heh.

“Bapak, aku dijemput sekarang, yo. Yah, dijemput sekarang.” Antara bapak atau ayah, panggilan saya kepada laki-laki yang saya cintai seumur hidup saya. Bismillah, kami bertiga meneruskan perjuangan Ayah yang tiada kenal Lelah mendedikasikan dirinya untuk ummat. Yang ikhlas menjalani sesuatu itu. Yang humoris nan sederhana itu. “Salam buat ayah, yah, doaku selalu mengalir menjadi jariyahmu, Yah!”

Ayah pergi pertanda kami harus menjadi pibadi yang mandiri dan ikhlas dari hati nurani.

#malamRajab
#GusBaha
#darikoskakBil






















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua