Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh..
Tulisan saya sebelumnya ini, di
bulan Agustus, agak alay, ya! Saya tidak pernah benar-benar menghasilkan karya
1 buah perhari. Buktinya, perbulan, tulisan yang saya terbitkan di blog paling
sedikit empat itu pun satu bulan. Bahkan, ngebut nyelesaiin di tanggal paling
akhir, jam terakhir pula. Terlewat beberapa menit, sudah dianggap bulan depan.
Bagaimana, sih, kau, Nida.
Keputusanmu untuk tidak lanjut,
saya apresiasi. Keputusanmu lagi pula, yang saya hormati untuk berlanjut studi yang kamu pilih,
senangi. Kita sama-sama mantap di jalan masing-masing. Tanpa saya tahu akan
kau. Dan tanpa anda tahu akan saya. Allah sebagai sandaran. Allah yang
melihatmu sekaligus saya dalam waktu yang bersamaan. Bahkan rasa itu Allah atur
agar kita tidak terjerumus dalam lembah kemaksiatan. Sabtu lalu, kita
berjanjian untuk bertemu di salah satu toko buku. Kau rupanya selalu ingat
janjimu. Janji yang terlontar yang membuat hati berdetak nggak karuan. Seolah
ingin sekali diriku ini agar kau segera batalkan janji tersebut supaya tidak
jadi racun pikiran. Berkali-kali saya sarankan agar tak usah saja kau beri,
tapi kau tetap keukeuh ingin memberi. Rasanya nggak tau gimana lagi buat nagih
janji yang selalu saya nanti kabarnya. Hingga suatu saat, kau ingatkan saya hal
itu kembali di saat aku benar-benar letih menunggu, dan merasakan bahwa janji
itu hanya pernah terjadi di dongeng seribu negri. Hanya ada di legenda ataupun
mitos masyarakat daerah. Janji itu saya yakini telah pundar dan tak lagi
diinginkan. Hei, siapa lagi yang masih berharap? Saya tidak mau jika kau
benar-benar membelikan saya buku, buku itu menjadi buku bercahaya tanpa cahaya
yang ketika saya lihat, benar-benar menyilaukan dan menjadi penganggu setia
saya di kamar.
Terima kasih sudah datang.
Sengaja saya bawa teman untuk menemani. Harapannya, tidak datang yang ketiga
sebagai setan. Maaf jika kurang berkenan. Saya tidak salah, kan? Beberapa
pertanyaan yang ingin kau ajukan semoga bisa terjawab, ya. Jika memang tidak
bisa dari bibir saya, semoga dari mulut entah siapa yang akan menjawab.
Nggak, kali ini akan saya bahas
mengenai sedikitnya praktisi di kalangan kita. Sedang untuk yang teoritis
teramat banyak. Berkoar-koar mengenai pentingnya membaca dan menulis misalnya,
sedang diri sendiri termasuk yang menulis ini, belum bertindak apa-apa.
Rumitnya hidup penuh dengan ambisi palsu tanpa amal. Pun menulis juga bukan
jaminan untuk kita bisa menjadi yang kita impikan. Setidaknya, dalam tulisan
itu, sudah menunjukkan adanya niat dibanding ngawang.
Banyak maksiat-maksiat yang berlalu-lalang.
Sholat dan dzikir menjadi penyuci dosanya yang selang seperribu menit lagi,
dosa baru muncul ke permukaan. Ilmu yang didapat tak menjadikan bertambahnya
sikap tawadu, khouf, roja, ridho, serta tawakkal. Baca qurannya, tak diiringi
hati yang tenang, bahkan resah-gelisah selalu saja datang Waktu yang membunuh jiwa, karakter dan harga
diri dengan sia-sianya pekerjaan saya selama ini. Ya, Allah, inikah yang dimaksud
dengan fasanuyassiruhu lil ‘usro? Dimudahkanlah seseorang itu kepada yang
buruk-buruk, hingga pintu keburukan selalu terbuka baginya, dan ditetapkanlah
bahwa neraka adalah tempat kembalinya. Na’udzubillahi min dzalik.
Tentulah kita semua berharap
mendapatkan ketetapan-Nya, berupa fasanuyassiruhu lil yusro. Mudahkanlah
kebaikan-kebaikan itu. Jangan Engaku persulit kami dalam berbuat kebaikan, Ya
Allah! Bantu kami untuk menutup semua pintu kemaksiatan itu, Ya Allah!
akhirMuharram1441
Jangan lupa kembali ke Benteng!
Komentar
Posting Komentar